Kehidupan sebagai Penerjemah (1): Sejarah Psikologi

Pada 2011, saya menerjemahkan sejumlah karya yang saya pilih dalam bidang psikologi, semata-mata untuk memperkaya materi kuliah Psikologi Umum bagi mahasiswa di fakultas psikologi. Terjemahan ini tidak dimaksudkan pertama-tama untuk dikutip. Kendati demikian, apabila hendak dikutip juga, Anda dapat menerakan hal sebagai berikut di dalam Daftar Pustaka Anda:

Jones, D., & Elcock, J. (2001). History and theories of psychology:A critical perspective (Translator/Penerjemah: Juneman Abraham). London: Arnold.

Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmiah (bukan lagi bagian dari filsafat dengan armchair speculation-nya) sering dianggap dimulai sejak pendirian laboratorium Wilhelm Wündt tahun 1879. Ada juga beberapa penulis Pengantar Psikologi yang merujuk tahun 1876 sebagai tonggak waktu berdirinya psikologi sebagai ilmu mandiri, sewaktu William James mulai memberikan kuliah Psikologi Fisiologis (Psikologi Faal) dengan menggunakan sebuah laboratorium kecil di Universitas Harvard.

Psikologi Pada Awalnya

Wündt memulai tradisi laboratorium eksperimental berdasarkan praktik investigatif. Tradisi eksperimental ini dianggap penting dalam pendekatan positivistik terhadap sejarah psikologi. Hal yang mirip juga berlaku bagi sejarah Psikologi Sosial, di mana penelitian Norman Triplett mengenai efek kompetisi dan fasilitasi sosial pada tahun 1898 dipandang sebagai salah satu awal sejarah psikologi sosial dan psikologi olahraga karena kepioniran penelitian eksperimentalnya.

Bagi Wündt, ada empat kondisi eksperimen laboratorium yang sempurna. Pertama, eksperimen yang sempurna dapat dilakukan sendiri oleh peneliti. Ketika peneliti membutuhkan sejumlah eksperimenter (pelaksana eksperimen), maka mereka diperlukan sejauh mereka memberikan stimuli atau rangsang kepada subjek eksperimen. Namun tugas eksperimenter dalam hal ini secara ideal dapat digantikan oleh mesin. Kedua, kehadiran orang lain mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengamati dalam eksperimen. Ketiga, otoritas kognitif dan moral dari subjek eksperimen perlu dijaga. Wündt sangat kritis terhadap eksperimen hipnosis, karena baginya hipnotisme merupakan sebuah keadaan dalam mana orang tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan kehendak bebasnya sendiri. Wündt juga mencurigai bentuk-bentuk praktik penelitian investigatif dalam mana seorang eksperimenter menginterogasi subjek eksperimen, karena dalam hal ini otoritas kognitif subjek dikikis. Keempat, observer atau pengamat psikologis (subjek-subjek eksperimen) yang ideal adalah para psikolog yang terlatih. Wündt menyerang psikologi terapan (applied psychology), karena menggunakan subjek penelitian orang-orang yang bukan psikolog terlatih. Wündt juga menyerang survei psikologis, karena mengikis otoritas kognitif para subjek eksperimen dengan membatasi jangkauan respons mereka. Dalam karyanya, Physiologischen Psychologie (Prinsip-prinsip Psikologi Fisiologis), Wündt membatasi penelitian terhadap manusia hanya pada proses-proses mental tingkat “rendah”, yakni objek-objek langsung dari kesadaran. Psikologi Wündt melibatkan metode laporan verbal introspektif, yang terbatas pada penilaian (judgment) mengenai ukuran, intensitas, dan durasi dari rangsang-rangsang fisik, serta kadang-kadang penilaian mengenai apakah sebuah stimuli fisik bersifat simultan ataukah suksesif. Wündt juga banyak melakukan studi-studi waktu reaksi (reaction time).

Yang patut digarisbawahi adalah bahwa psikologi eksperimental Wündt yang dikemukakan di atas bukanlah keseluruhan psikologi Wündt, karena ia juga menulis Völkerpsychologie (Folk Psychology, Psikologi Rakyat). Dalam karyanya ini, bagi Wündt, psikologi merupakan studi tentang mind manusia. Mind manusia antara lain berada dalam komunitas-komunitas. Guna meneliti proses-proses seperti bahasa dan memori, serta praktik-praktik yang menyusun kebudayaan, maka bagi Wündt penting untuk meneliti komunitas-komunitas orang. Hal ini justru mengenyampingkan pendekatan ilmu alam (natural science) yang berbasiskan laboratorium. Pengaruh langsung Wündt terhadap teori-teori dalam psikologi mungkin kecil, namun karya-karya Vygotsky dan G. H. Mead yang mengadopsi bagian-bagian dari Völkerpsychologie-nya Wündt berpengaruh terhadap gerakan konstruksionisme sosial di kemudian hari.

Sejarah psikologi pada awalnya ini kemudian berkembang sebagaimana akan dipaparkan dalam rangkaian berikut ini, dalam hal mana seluruh perspektif historis perkembangan psikologi dapat dipandang sebagai sebuah “metateori” (Jones & Elcock, 2001), artinya memberikan kita pemahaman mengenai berbagai pendekatan teoretik dalam psikologi, perdebatan dialektis, metodologi psikologi, serta hubungan antara psikologi dengan konteks sosial politik di mana psikologi dipelajari dan dipraktikkan.

Perkembangan Awal Psikologi

Pada perkembangan teori-teori psikologi di Amerika Serikat, psikologi memiliki arah perkembangan yang berbeda dari Psikologi Wündt. Perkembangan psikologi akademik pada 1880 sampai dengan 1939 diwarnai oleh empat mazhab atau aliran psikologi (schools of psychology), yakni strukturalisme, fungsionalisme, behaviorisme, dan Gestalt. Lahirlah psikologi eksperimental baru yang lebih maju daripada sekadar diskursus atau wacana psikologis. Metode introspeksi Wündt ditolak demi keketatan ilmiah (scientific rigourness) yang dianjurkan oleh Fungsionalisme dan Behaviorisme Amerika. Di Amerika awalnya berkembang Psikologi Adaptasional, yang kontras dengan Psikologi Isi dari Wündt (yang diturunkan dari Filsafat Idealisme Kantian) dan Titchener (psikologi strukturalis). Psikologi Adaptasional ini diturunkan dari Psikologi Evolusioner dan Psikologi Komparatif Inggris, dan sangat dekat dengan perkembangan Filsafat Pragmatisme.

Bagi Psikologi Adaptasional, fungsi kesadaran dianggap jauh lebih penting daripada isi (content) kesadaran. Penggabungan antara evolusi dan psikologi ditunjukkan oleh Leahey (2000), yang membedakan antara “pertanyaan spesies” dengan “pertanyaan individual”. Pertanyaan spesies menanyakan apakah perbedaan yang terdapat dalam kapasitas mental dan keperilakuan dari spesies-spesies yang berbeda. Pertanyaan individual menanyakan bagaimana individu beradaptasi terhadap atau belajar dari lingkungan mereka. Keduanya memang saling terkait, karena apabila terdapat sedikit perbedaan antar spesies, maka semua spesies dapat dideskripsikan dengan hukum-hukum belajar yang serupa. Apabila terdapat perbedaan yang besar antar spesies, maka pasti ada hukum-hukum belajar yang berbeda untuk spesies yang berbeda. Para psikolog Amerika awalnya berfokus pada pertanyaan individual. Para psikolog ini cenderung percaya bahwa hanya ada perbedaan kuantitatif antar spesies, bukan perbedaan kualitatif. Sementara itu, temuan-temuan Psikologi Komparatif, walaupun diragukan validitas ekologisnya oleh sejumlah pihak, menunjukkan bahwa tingkah laku merupakan sumber bukti yang memadai untuk menyimpulkan fungsi mental. Tingkah laku binatang yang diteliti psikologi komparatif dapat dijelaskan tanpa merujuk ke kesadaran. Hal ini membawa peralihan tren dari penjelasan mentalistik dari tindakan manusia kepada penjelasan behavioristik. Hal ini ditunjang lagi oleh filsafat pragmatisme, yang menyatakan bahwa filsafat hendaknya berkonsentrasi pada nilai adaptif dari keyakinan (beliefs); dan bahwa keyakinan ini memiliki makna hanya dalam perannya dalam memandu tingkah laku. Karya William James tahun 1890, yakni “Principles of Psychology”, dipandang sebagai Psikologi Fungsionalis. Penekanan utamanya adalah pada fungsi kesadaran di atas isi kesadaran. James menekankan bahwa psikologi perlu menjadi subjek yang praktis, yang dapat membantu kehidupan orang. Karyanya menempatkan psikologi sebagai ilmu alam. Sebagai contoh, teori emosi James-Lange, menyatakan bahwa tingkah laku lah yang menyebabkan kesadaran. Dengan demikian, kesadaran dapat tidak penting bagi psikologi. Jadi, James membawa psikologi keluar dari studi tentang kesadaran.

Pada periode yang sama, ada juga pergeseran dari mentalisme ke behaviorisme. Tingkah laku dianggap sebagai ranah prinsip dalam psikologi. Metodologi introspeksi mengalami devaluasi. Kesadaran dipandang sebagai epifenomena. Jadi, tidak ada gunanya mempelajari kesadaran. Karya Dewey tahun 1896, “The Reflex Arc Concept in Psychology” menolak rumusan kaum asosiasionis yang menyatakan bahwa busur refleks merupakan sekuens atau rangkaian urut diskret stimulus — sensasi — respons. Dewey menyatakan bahwa peristiwa stimulus, sensasi, dan respons memang ada, namun harus dipandang sebagai tingkah laku terkoordinasi yang memungkinkan organisme beradaptasi dengan lingkungannya. Bagi Dewey, sensasi merupakan bentuk tingkah laku yang berinteraksi dengan tingkah laku lainnya pada saat sekarang. Jadi, sensasi yang berbeda merupakan relasi atau hubungan antara stimulus dengan tingkah laku-tingkah laku lain yang terjadi pada saat yang bersamaan, sehingga respons diferensial terhadap stimuli jangan dijelaskan oleh kesadaran atensional. Pengalaman kesadaran memang mungkin terjadi, namun hal ini harus dipandang semata-mata sebagai hasil dari perilaku-perilaku yang berinteraksi. Dengan demikian, psikologi harus berfokus pada hubungan antara stimuli (rangsang-rangsang) dengan respons orang terhadapnya, bukan menyelidiki peristiwa kesadaran yang dihasilkan oleh stimuli. Pendekatan baru ini menekankan tingkah laku yang terukur secara objektif, bukan lagi mengandalkan laporan introspektif, melainkan berfokus pada belajar (learning) yang dipandang sebagai sarana adaptasi organisme terhadap lingkungan.

Sementara itu, Behaviorisme dirumuskan pertama kali oleh Watson tahun 1913 dalam karyanya “Psychology As A Behaviorist Views It” yang dikenal sebagai “Manifesto Behavioris”. Bagi Watson, psikologi merupakan ilmu alam yang murni objektif dan eksperimental, yang tujuannya adalah meramalkan dan mengendalikan tingkah laku. Watson menerapkan pendekatan behavioristiknya ini dalam penelitiannya tentang perkembangan emosi pada anak-anak. Yang paling terkenal adalah penelitian tentang “Little Albert”, dalam mana ia berhasil menghasilkan ketakutan seorang bayi terhadap seekor kelinci putih melalui proses pengkondisian. Watson juga terkenal karena ia menerapkan prinsip-prinsip behavioristik dalam periklanan. Namun demikian rumusan behaviorisme Watson tidak begitu sukses, dan pengaruhnya memudar karena pada 1920 muncul aliran Tes Mental (mental testing) dan Gestalt, serta munculnya karya Pavlov, perkembangan operasionisme, serta karya-karya Neo Behavioris.

Pavlov terkenal di Amerika Serikat dengan karyanya mengenai pengkondisian (conditioning) setelah karyanya diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris pada pertengahan tahun 1920-an, dan ia melakukan perjalanan di Amerika pada 1927 dan 1929. Pavlov terpengaruh oleh metodologi Thorndike dan dipengaruhi pula oleh Darwin dan psikolog Rusia bernama Sechenov. Pada 1863, Sechenov menjelaskan peristiwa-peristiwa psikologis sebagai aksi-aksi refleks di dalam korteks otak, yang dimediasikan oleh proses-proses saraf eksitasi (perangsangan) dan inhibisi (penghambatan). Masalah yang muncul dari pendekatan positivistik terhadap ilmu adalah penghindaran pembahasan faktor-faktor yang tak teramati. Bridgman pada 1927 mengembangkan operasionisme dalam ilmu fisika untuk mengatasi hal ini. Ia membedakan antara peristiwa teramati (observable events) dengan peristiwa teoretis (theoretical / unobservable events). Ia menyatakan bahwa masalah di atas dapat dipecahkan apabila peristiwa-peristiwa teoretis didefinisikan dalam pengukuran (measurement), karena setiap peristiwa teoretis yang bermakna pasti memiliki konsekuensi yang teramati. Gagasan mengenai “definisi operasional” ini sangat sukses dalam Psikologi Perilaku dan metodologi eksperimental dalam psikologi modern.

Sejak 1920-an bermunculan kaum Neobehavioris. Tolman merupakan neobehavioris pertama yang mengembangkan Behaviorisme Purposif, yang memperkenalkan kembali aspek tujuan dalam tingkah laku. Tolman dipengaruhi oleh Psikologi Gestalt (khususnya Koffka), dan berupaya menjelaskan tingkah laku organisme sebagai keseluruhan, dan memperkenalkan konsep “lapangan” (field) dalam kerangka behavioristik. Ia memperkenalkan deskripsi konsep tujuan (purposiveness) dengan cara mengklaim bahwa tingkah laku diarahkan ke tujuan adaptasional ketimbang bersifat reaktif. Inovasi Tolman adalah perkenalan variabel-variabel “intervening”, yakni faktor-faktor hipotetik yang memperantarai antara kondisi-kondisi stimulus dan tingkah laku. Variabel intervening yang paling terkenal dari Tolman adalah “peta kognitif” lingkungan yang dikembangkan oleh organisme. Variabel intervening kembali memperkenalkan konsep-konsep mentalistik. Hull selanjutnya meminjam konsep variabel intervening Tolman, namun bukan sebagai konstruk mentalistik. Bagi Hull, potensi reaksi dapat dideskripsikan sebagai sebuah fungsi matematis yang meramalkan probabilitas (peluang) terjadinya respons pada waktu tertentu, yang memasukkan di dalamnya sejumlah faktor, termasuk kekuatan dorongan dan kekuatan kebiasaan. Skinner selanjutnya menolak variabel intervening, yang disebutnya sebagai “fiksi eksplanatif”, dan konsekuensinya ia juga menolak Psikologi Kognitif.

Sistem psikologi Skinner merupakan kombinasi antara pengkondisian klasik Pavlov dan pengkondisian operan miliknya sendiri. Skinner konsen terhadap pengembangan teknologi perilaku (behavioral technology). Namun demikian behaviorisme gagal sebagai sebuah pendekatan teoretik, karena tingkah laku kompleks tidak dapat dideskripsikan sebagai sekuens asosiasi-asosiasi tingkah laku sederhana yang dipelajari. Aspek environmentalisme dari behaviorisme juga diserang oleh perkembangan studi-studi tentang naluri (insting). Di samping itu, psikologi kognitif juga siap menggantikan behaviorisme. Namun demikian, efek behaviorisme tetap ada yang bertahan hingga saat ini, khususnya secara metodologis. Kaum behavioris mengembangkan operasionisme, pendekatan hipotetiko-deduktif dalam sains, serta eksperimen terstandar, yang menjadi norma dalam penelitian-penelitian psikologi.

Psikologi Gestalt berkembang di Jerman pada waktu yang sama dengan behaviorisme yang sedang berkembang di Amerika Serikat. Psikologi Gestalt bangkit di Jerman sejak 1910, pada waktu Eropa menghadapi huru-hara sosial yang hebat. Tatanan sosial yang mewarnai elit intelektual berada dalam ancaman dari urbanisasi dan industrialisasi. Benua Eropa dikepung oleh peperangan. Ancaman intelektual antara lain datang dari psikologi reduksionis yang berupaya mengeliminasi pertimbangan mengenai nilai manusia (human values). Para ahli psikologi Gestalt menyajikan sebuah pendekatan psikologi yang bersifat holistik (menyeluruh) ketimbang reduksionis, antara lain guna menjaga kultur mereka dari ancaman tersebut. Guna memelihara pertimbangan mengenai nilai manusia, para psikolog Gestalt mempertahankan kesadaran sebagai objek penyelidikannya. Di samping konteks sosial tersebut, psikologi Gestalt juga bekerja dalam konteks intelektual. Pada waktu itu, ilmu fisika berkembang dengan teori kuantumnya. Albert Einstein, Max Planck, dan lain-lain menolak pandangan mekanistik Newtonian mengenai jagad raya serta menggantikannya dengan jagad raya berbasiskan lapangan-lapangan kekuatan (field of forces). Para ahli Gestalt mengikuti tradisi holistik yang berkembang dalam Psikologi berbahasa Jerman, bukan Psikologi berbahasa Inggris (Anglophone) — yang tetap mempertahankan penjelasan linear sebab-akibatnya dalam psikologi. Dalam persepsi bentuk (form perception), misalnya, bentuk-bentuk tertentu resisten terhadap dekomposisi ke dalam elemen-elemen yang lebih dasar. Ilustrasi yang paling terkenal berasal dari Von Ehrenfels. Pada tahun 1890 ia menyajikan kertas kerjanya “On Gestalt Qualities” yang menggambarkan bagaimana sebuah melodi musikal dapat dimainkan dalam jangkauan kunci-kunci atau instrumen-instrumen yang berbeda, namun tetap dapat dikenal sebagai melodi yang sama. Melodi tersebut memiliki sebuah “kualitas bentuk” (form quality) yang tidak bergantung pada unsur-unsur yang menyusunnya.

Ketiga tokoh Gestalt yang paling masyur adalah Koffka, Köhler, dan Wertheimer. Pada tahun 1912, Wertheimer menerbitkan karyanya, “Experimental Studies On The Perception of Movement”, sebuah penelitian terhadap fenomena phi (lihat, misalnya, Phi is not beta, 2000). Karya ini seringkali dianggap sebagai fondasi Psikologi Gestalt. Sistem Psikologi ini bersifat rasionalis dan anti-reduksionis, dan banyak mengandalkan introspeksi eksperimental sistematik yang dianjurkan oleh mazhab Würzburg yang dipimpin oleh Oswald Külpe. Ketiga tokoh Gestalt tersebut memperkenalkan Prinsip Prägranz, yang menyatakan bahwa fenomena psikologis diorganisasikan dalam cara-cara yang paling bermakna. Psikologi Gestalt diperkenalkan ke Amerika oleh Koffka, dalam artikel Psychological Bulletin pada 1922 yang berjudul “Perception: An Introduction to Gestalt Theory”. Sebagaimana dikemukakan di atas, Behaviorisme Purposif dari Tolman jelas dipengaruhi oleh Koffka. Sepanjang 1920-an dan awal 1930-an, Psikologi Gestalt berkembang, dan ranahnya semakin luas menyentuh kognisi dan belajar. Psikologi ini juga diadopsi oleh Kurt Lewin dalam karya pionirnya dalam Psikologi Perkembangan dan Psikologi Sosial. Nampaklah bahwa Psikologi Gestalt bukanlah semata-mata teori persepsi, sebagaimana dikatakan oleh banyak buku Pengantar Psikologi, melainkan sebuah sistem psikologi yang lengkap. Runtuhnya Psikologi Gestalt disulut oleh bangkitnya kekuatan Partai Nazi di Jerman, di mana orang-orang Nazi menyingkirkan para akademisi Yahudi, termasuk Wertheimer dan Lewin, dari posisi akademiknya. Para akademisi ini beremigrasi ke Amerika Serikat. Köhler juga mengikuti protes melawan kebijakan Nazi. Hal ini menyebabkan Psikologi Gestalt kehilangan tokoh-tokoh utamanya di Jerman. Di Amerika, para psikolog Gestalt tetap melanjutkan karyanya. Namun di sana ketiganya memiliki posisi dalam lembaga yang tidak memiliki program studi pasca sarjana, sehingga mereka tidak berpeluang membimbing para mahasiswa doktoral, dan hal ini mengakibatkan aliran Gestalt tidak berkembang. Di samping itu, Psikologi Gestalt tidak sesuai dengan konteks sosial dan intelektual di Amerika yang menekankan pada ide-ide konkret dan aplikasi (terapan) praktis psikologi. Orientasi teoretis dan filosofis dari Psikologi Gestalt sangatlah kontras dengan pendekatan empiris dan pragmatis dari Psikologi Amerika Serikat. Namun demikian, pengaruh Psikologi Gestalt dapat dilihat pada Psikologi Perkembangan dan Psikologi Sosial Lewin, Psikologi Sosial Asch, dan Kognisi Sosial Festinger. Köhler terpilih sebagai Presiden American Psychological Association (APA) pada 1959, dan kedudukan presidensial ini membuat para psikolog Amerika memasukkan sejumlah insight dari Psikologi Gestalt. Simon (1992) menyatakan bahwa Psikologi Kognitif dapat dipandang sebagai kombinasi antara Behaviorisme dan Gestalt. Teori-teori kognitif mengenai persepsi dan pemecahan masalah jelas menunjukkan pengaruh teori Gestalt.

Psikologi Terapan

Pada akhir abad ke-19, tumbuhlah Psikologi Terapan (applied psychology) di Amerika Serikat. Ada sejumlah konteks sosial yang melatarbelakangi pertumbuhan ini. Pertama, adanya harapan umum pada masyarakat, serta para psikolog sebagai anggota masyarakat tersebut bahwa ilmu (sains) hendaknya menghasilkan keluaran pengetahuan yang berguna. Kedua, ada tekanan-tekanan institusional tertentu yang membawa para psikolog secara aktif menerapkan temuan-temuan mereka. Hal ini termasuk kebutuhan untuk menjustifikasi biaya yang dikeluarkan untuk kuliah di Departemen Psikologi, hasrat untuk menetapkan identitas psikologi yang distingtif yang berbeda dari filsafat, serta kebutuhan para psikolog untuk membiayai hidup sehari-hari atau menambah penghasilan mereka.

Sebelum Psikologi mapan di Amerika, prenologi (studi tentang bentuk tengkorak sebagai indikasi atau petunjuk kemampuan mental dan karakter pribadi) telah terlebih dahulu memposisikan dirinya sebagai ilmu tentang mind yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Prenologi menikmati kesuksesan di Amerika Serikat lebih lama daripada di Eropa, karena masyarakat Eropa kurang konsen (dibandingkan Amerika) dengan pengembangan diri (self-improvement).

Francis Galton mengembangkan tes mental (mental testing) dan metode-metode untuk menerapkan tes-tes tersebut serta menganalisis hasil-hasil tes. Galton turut dimotivasi oleh kebutuhan untuk menyeleksi individu-individu yang sesuai (fit) atau tidak sesuai (unfit) sebagai bagian dari program eugenik. Seleksi individu tersebut membutuhkan pengembangan teknik-teknik matematik tertentu, yang membentuk fondasi bagi kebanyakan praktik investigatif dalam psikologi modern. Psikologi Terapan juga diwarnai oleh tes mental oleh Binet dari Perancis (selanjutnya tes ini dikenal sebagai skala inteligensi Binet-Simon). Namun, sementara Binet berkonsentrasi pada asesmen individual, tes-tes yang dikembangkan di Amerika justru berurusan dengan kategoriasi individu menurut norma kelompok. Intensi Binet menciptakan tes adalah remedial, namun tes-tes Amerika dikembangkan untuk klasifikasi. Meskipun tes-tes mental pada awalnya berkonsentrasi pada pengukuran inteligensi, pengembangan tes-tes tersebut, yang melibatkan prosedur statistik dan metodologis untuk menciptakan tes-tes standar, merambah ke ranah-ranah yang lebih luas, seperti kepribadian, sikap, dan psikopatologi. Hal ini meningkatkan peluang diterapkannya psikologi dalam praktik pendidikan, industri, dan klinis, bahkan kebijakan publik.

Dalam kaitannya dengan terapan psikologi dalam praktik klinis, Perang Dunia Pertama memungkinkan para psikolog untuk memapankan diri mereka dalam Departemen Psikiatri (Kedokteran Jiwa), namun mereka memegang peran subordinat, membantu psikiater. Psikolog klinis berfokus pada administrasi tes dan klasifikasi (bukan remediasi) pasien gangguan jiwa. Perang Dunia Kedua memapankan psikologi sebagai sebuah profesi dan menciptakan peluang bagi para psikolog untuk terlibat dalam penyediaan konseling dan psikoterapi. Perkembangan psikologi klinis memberikan indikasi yang jelas akan pentingnya peran perang (war) dalam perkembangan psikologi.

Psikoanalisis

Psikoanalisis merupakan topik yang besar dan kompleks, yang memiliki misi untuk mengerti psikologi manusia yang terkait dengan perubahan terapeutik. Psikoanalisis telah berkembang menjadi sebuah teori sosial juga. Ada banyak pendekatan terhadap psikoanalisis, seperti karya Erikson (perluasan peran Ego), karya Jung (peran subkesadaran yang berbeda dari pendekatan Freud). Namun demikian, semua pendekatan tersebut berakar pada karya Sigmund Freud.

Sepanjang periode waktu penolakan para psikolog terhadap fenomena mental yang tak teramati (unobservable), konsep-konsep psikoanalisis justru datang kepada psikologi. Gagasan pertama dan terpenting dari psikoanalisis adalah ketidaksadaran dinamis. Ketidaksadaran dinamis adalah wilayah mind yang secara normal tidak terbuka terhadap kesadaran terjaga (conscious awareness), namun mempengaruhi atau mengarahkan mind sadar. Pada gilirannya, ketidaksadaran dinamis ini dipengaruhi atau diarahkan oleh lingkungan fisik dan sosial di mana seseorang menjadi bagiannya. Struktur yang pasti dari wilayah kehidupan mental yang tak sadar ini masih berada dalam perdebatan antar para psikoanalis; perannya dalam teori Freud juga mengalami beberapa kali modifikasi. Bagi kebanyakan psikoanalis, wilayah ini disusun oleh residu (sisa-sisa) pengalaman infantil (kanak-kanak), serta terdiri atas insting atau dorongan biologis, khususnya yang bersifat seksual. Pengalaman masa kanak-kanak awal, utamanya pengalaman bersama orangtua sampai dengan usia empat dan lima tahun, dipandang sebagai hal yang penting. Ada tahap-tahap perkembangan yang umumnya dilewati oleh anak-anak. Hal ini menimbulkan struktur ketidaksadaran yang dimiliki oleh orang dewasa. Sekali struktur ini terbentuk, maka sulit berubah.

Pendekatan dasar untuk menggali atau menemukan struktur mental dinamis tak sadar ini pada orang dewasa adalah melalui pemeriksaan intensif terhadap fenomena kultural, mulai dari keseleo lidah (slips of the tongue), mimpi, karya kesenian, dan isi neurosis. Bagi kebanyakan psikoanalis, tempat di mana hal-hal tersebut paling mudah terjadi adalah dalam perjumpaan terapeutik (therapeutic encounter). Perjumpaan ini memungkinkan psikoanalis berteori tentang proses psikologis pasien, mengubah atau memperbaiki efek-efek dari dinamika ketidaksadaran seseorang. Pelembagaan psikoanalisis terjadi di Inggris Raya dan Amerika Serikat. Di Amerika, psikoanalisis merupakan wilayah eksklusif dari para psikiater yang terlatih secara medis, yang menerima pelatihan psikoanalitis setelah pelatihan medis mereka. Di Inggris, di samping psikiater, para psikolog klinis dapat menjadi psikoanalis. Di Inggris pula, para pekerja sosial atau para perawat kesehatan mental dapat memperoleh pelatihan tambahan dalam intervensi psikoterapeutik berbasiskan psikoanalisis. Salah satu aspek pelatihan tersebut adalah bahwa orang yang dilatih menjadi analis (trainee analyst) juga harus menjalani psikoanalisis.

Ada perbedaan antara proyek ilmiah Freud dengan proyek ilmiah Wundt dalam memahami psikologi. Wundt membatasi proyek ilmu alamiahnya pada pengalaman kesadaran langsung (immediate conscious experience), sedangkan Freud menyebut proyeknya sebagai “meta-psikologi”. Minat Freud melampaui isi langsung dari mind sadar. Di samping itu, model Freud bukanlah model fisika, melainkan lebih merupakan model biologi.

Praktik investigatif yang digunakan psikoanalisis juga berbeda dari yang digunakan para psikolog. Pada metodologi psikologi abad ke-19, ada tiga praktik utama: (1) penelitian atau studi laboratorium, di mana pengamat yang terlatih melaporkan isi kesadaran, (2) eksperimen klinis, di mana ahli psikis mengintervensi proses-proses psikologis pasien dengan hipnosis, dan (3) survei psikologis, yang menggunakan data dari kelompok dalam sebuah populasi untuk membuat klaim tentang fungsi psikologis individual. Namun demikian, bagi para psikoanalis abad ke-19, model medis dari wawancara klinis dan eksperimen klinis merupakan metode utama. Sama seperti dalam kedokteran umum, analysand (pasien psikoanalisis) memperlihatkan serangkaian simtom (gejala). Analis memeriksa simtom-simtom ini, menggunakan teknik-teknik psikologis seperti asosiasi bebas dan interpretasi mimpi ketimbang teknik-teknik fisika, dan kemudian mengintervensinya. Kantor psikoanalis merupakan pusat treatment dan pengumpulan data yang didasarkan atas model medis.

Psikologi (khususnya di Amerika) secara cepat menjadi sebuah disiplin yang menyelidiki tingkah laku (behavior) ketimbang mind. Namun, psikoanalisis justru mempertahankan fokusnya pada mind. Dibandingkan dengan psikologi, maka psikoanalisis yang dipraktikkan di Amerika dan Eropa sesungguhnya lebih mempertahankan kesadaran (awareness) terhadap setting kultural, bahwa mind dipahami sebagai produk kultural, sehingga tidak perlu terjebak pada individualisasi. Namun demikian, psikoanalisis dan psikologi sendiri masih mengalami etnosentrisme ketika membuat klaim atau kesimpulan mengenai orang dari budaya yang berbeda dari budaya Amerika dan Eropa. Di luar fokus Wündt pada psikologi yang berorientasikan ilmu alam, dalam karya William James muncul minat terhadap “energi yang mengakari tingkah laku manusia”. Pada periode antar-perang, seiring berubahnya fokus psikologi di Amerika dengan bangkitnya teknologi behaviorisme, psikologi justru kehilangan kosa kata untuk membicarakan kekuatan-kekuatan internal (internal forces). Selanjutnya, seiring dengan berkembangnya psikologi motivasi dan terapannya dalam bidang pendidikan dan manajemen bisnis (“how to motivate”), teori-teori psikoanalisis sering dianggap sebagai sebuah teori motivasi, karena berupaya menjawab pertanyaan “bagaimana” (how) di samping “mengapa” (why) tentang psikologi manusia. Dalam psikologi, apabila seseorang gagal dalam sebuah tugas yang berada dalam kapasitas intelektual dan/atau fisiknya, maka yang kurang dari orang tersebut adalah motivasi. Sebelum istilah “motivasi” populer, istilah “konasi” (conation) digunakan sepanjang abad ke-19. Namun demikian, istilah ini kurang pendukungnya.

Pada 1938, Murray, Kepala Klinik Psikologi Harvard, mengkompilasi daftar kebutuhan manusia. Kebutuhan-kebutuhan ini berbeda dari dorongan (drives), karena Murray menyingkirkan mekanisme biologis. Sepanjang periode kira-kira 50 tahun, kekuatan pendorong (driving forces) tingkah laku manusia telah berubah dari insting-insting yang diberikan Tuhan, menjadi insting-insting yang diturunkan secara biologis, menjadi dorongan-dorongan biologis umum (general biological drives), dan selanjutnya menjadi kebutuhan-kebutuhan esensial manusia. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan akuisisi (memperoleh sesuatu), superioritas (mengatasi sesuatu), otonomi, dan prestasi. Maslow pada 1954 menemukan bahwa konsep kebutuhan ini krusial bagi “psikologi humanistik”-nya. Sementara itu, kebutuhan berprestasi (need for achievement) menjadi fokus utama penelitian psikologi sosial antara 1953 dan 1961, dengan David McClelland mengembangkan gagasan bahwa motivasi terkait dengan tingkat-tingkat kebutuhan berprestasi, serta gagasan bahwa kebutuhan berprestasi ini bervariasi lintas dan dalam masyarakat yang berbeda-beda. Kekuatan-kekuatan pendorong lalu dinamai kekuatan-kekuatan hipotetis (hypothetical forces) dalam diri seseorang yang dianggap bertanggungjawab menghasilkan semua tindakan manusia. Apapun istilah yang digunakan (insting, dorongan, atau kebutuhan dasar), gagasan ini membuat sinambung ide bahwa alasan tindakan manusia berakar pada individu ketimbang situasi sosial partikular.

Sepanjang Perang Dunia Kedua, masyarakat Inggris menghadapi kenyataan bahwa terlalu sedikit psikiater yang mengurusi sejumlah besar tentara yang membutuhkan psikoterapi. Solusi yang diberikan adalah penggunaan psikoanalisis kelompok. Kelompok sebagai situs atau tempat intervensi terapeutik sangatlah berbeda dari situasi satu (terapis)-dengan-satu (pasien) yang normalnya digunakan dalam psikoterapi. Namun demikian, penggunaan kelompok-kelompok terapeutik kecil merupakan satu-satunya pilihan yang ada pada saat itu. Hal ini menyebabkan bangkitnya minat para psikoanalisis untuk mempelajari dinamika kelompok-kelompok kecil. Banyak psikiater yang terlibat dalam pekerjaan ini di Klinik Tavistock melanjutkannya setelah perang. Di Amerika Serikat, sepanjang Perang Dunia Kedua, muncul juga minat terhadap dinamika kelompok-kelompok kecil, dengan Kurt Lewin sebagai pemimpin sebuah program riset atas nama tentara Amerika. Minat Lewin dalam hal ini adalah meningkatkan efektivitas kelompok kecil dalam kondisi waktu perang. Lewin mendirikan Group Dynamics Research Centre di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Namun demikian, kombinasi antara dinamika kelompok dengan interpretasi psikoanalitik dari fenomena kelompok merupakan hal yang hanya berlaku bagi Tavistock. Setelah kematian Lewin pada 1947, tradisi Amerika berlanjut dengan mengembangkan gagasan gerakan kelompok t (t-group movement), namun tanpa melibatkan kerangka psikoanalisis.

Kerjasama lainnya antara psikoanalisis dengan tradisi psikologi mainstream adalah dalam proyek penelitian prasangka dan otoritarianisme yang berpusat di Universitas Chicago, segera setelah Perang Dunia Kedua. Proyek ini berupaya memahami anti-Semitisme orang Nazi, yang melibatkan banyak ilmu-ilmu manusia (human sciences), tidak hanya psikoanalisis dan psikologi. Produk yang terkenal dari riset ini adalah “The Authoritarian Personality” yang ditulis oleh Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, dan Sanford pada 1964. Inspirasi dan pemikiran di balik proyek ini merupakan produk dari mazhab sosiologi Frankfurt yang telah ditutup atas perintah Hitler pada 1930-an. Sebagian anggota mazhab ini mengasingkan diri di Amerika Serikat. Mazhab Frankfurt lah yang mengupayakan sintesis antara gagasan psikoanalisis dan Marxisme.

Karya “The Authoritarian Personality” sebagian berakar dari karya Freud mengenai kritisisme kulturalnya menyusul Perang Dunia Pertama, di samping ada pula upaya para psikolog dan psikoanalis Eropa untuk memahami anti-Semitisme pada 1930-an. Pembantaian oleh Nazi (holocaust) menjadi isu sentral. Setelah sebuah konferensi yang diselenggarakan pada 1944, American Jewish Committee mensponsori rangkaian “Studies in Prejudice” (Penelitian Prasangka), dalam mana “The Authoritarian Personality” menjadi sebuah bagiannya. Karya lain yang berpengaruh dalam psikologi saat itu adalah “Anti-Semitism and Emotional Disorder: A Psychoanalytic Interpretation” oleh Ackerman dan Jahoda, serta “Dynamics of Prejudice” oleh Bettleheim dan Janovitz. Sementara para penulis menyadari bahwa prasangka perlu dipahami dalam konteks kultural, namun psikologi memutuskan untuk tetap berfokus pada tingkat individual. Hal ini disebabkan oleh harapan optimistik bahwa pada tingkat individual, pendidikan dapat membantu mengatasi persoalan prasangka tersebut. Oleh karena adanya individualisasi Psikologi Sosial pada konteks Amerika, rangkaian karya “Studies in Prejudice” dianggap sepi.

Dalam ranah klinis, kritik terhadap psikoanalisis diajukan oleh Hans J. Eysenck. Eysenck merupakan Direktur Klinik Maudsle dan mengembangkan teori kepribadian berdasarkan praktik klinis, serta menghasilkan alat ukur kepribadian Eysenck Personality Questionnaire (EPQ). Eysenck menyerang psikoanalisis dalam hal tingkat efikasinya, yakni mempertanyakan seberapa banyak orang yang diterapi dengan psikoanalisis menjadi lebih baik. Psikoanalisis memang tidak mengubah simtom sehingga orang menjadi normal (“normalizing”). Hal ini dianggap sebagai kelemahan psikoanalisis. Sebagaimana dikatakan oleh Freud (1937, h. 354) sendiri, “The business of psychoanalysis is to secure the best possible psychological conditions for the functioning of the ego; when this has been done, analysis has completed its task.” Namun demikian, psikoanalisis tetap memiliki daya tarik karena apabila kita mengetahui skor EPQ atau 16PF tidak akan memberikan insight sebanyak yang diberikan oleh pemahaman ketidaksadaran seseorang.

Kognitivisme dan Psikologi Kognitif

Kognitivisme merupakan pendekatan khusus terhadap psikologi yang menteorikan mind sebagai pemroses informasi. Psikologi kognitif merupakan sub-disiplin dalam psikologi. Kognitivisme berkembang independen dari behaviorisme, dan ko-eksis bersamaan dengan behaviorisme pada beberapa waktu. Pergeseran dari behaviorisme ke kognitivisme sebagai paradigma dominan dalam psikologi eksperimental itu bertahap (gradual), evolusioner; bukan penggantian langsung atau revolusioner (“cognitive revolution”). Hal ini karena sebelum munculnya sub-disiplin psikologi kognitif, telah terdapat tradisi kognitif dalam psikologi. Munculnya riset-riset psikologi kognitif juga bukan merupakan respons terhadap kelemahan behaviorisme, melainkan muncul independen.

Memang, sepanjang 1960-an, radikalisme politik dan sosial tengah populer. Pada saat itu, ahli-ahli kognitif awal berespons terhadap semangat zaman (Zeitgeist) ini. Karya Thomas Kuhn tahun 1962, “The Structure of Scientific Revolutions” kebetulan dipublikasikan sepanjang kemunculan psikologi kognitif dan mengalami kesuksesan. Kuhn membagi aktivitas ilmiah dalam dua fase, yakni (1) ilmu normal (“normal science”), dan (2) momen terjadinya pergeseran paradigma revolusioner. Dalam fase ilmu normal, terdapat konsensus (kesepakatan) antar para ilmuwan mengenai hal-hal yang menyusun problem yang tepat serta metode-metode untuk disiplin ilmu mereka. Pada fase revolusioner, terdapat perdebatan argumentatif antar ilmuwan tentang disiplin tertentu mengenai metode dan masalah yang harus ditangani disiplin tersebut. Kuhn menyatakan bahwa sepanjang masa revolusi tersebut, hasil dari perdebatan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kriteria ilmiah, melainkan faktor-faktor kultural berperan penting. Faktor kultural ini mencakup reseptivitas pembuat kebijakan mengenai pergeseran masalah, ketersediaan pembiayaan bagi proyek-proyek riset tertentu, serta semangat zaman tertentu. Misalnya, Kuhn menyatakan bahwa peralihan generasi (generational shift) merupakan proses yang menghasilkan resolusi paradigmatik. Para pendukung paradigma baru cenderung lebih muda. Mereka akan menghasilkan lebih banyak lulusan doktoral yang membagikan paradigma para pengajar mereka. Sedangkan, para pendukung paradigma mapan cenderung lebih tua; pandangan mereka semakin termarjinalkan seiring mereka memasuki usia pensiun. Dalam kaitannya dengan psikologi, Kuhn meyakini bahwa psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya bersifat pra-paradigmatik. Hal ini karena tidak ada paradigma yang disepakati antar orang. Metode-metode dan teori-teori psikologi juga masih dikontestasikan. Meskipun demikian, sejumlah komentator meyakini bahwa psikologi telah memiliki serangkaian paradigma, yakni mulai dari paradigma introspeksi Wundt, bergerak ke behaviorisme, dan sekarang paradigma psikologi kognitif.

Ada sejumlah anteseden (peristiwa pendahulu) kognitivisme, baik dalam psikologi maupun dalam disiplin lain. Dalam psikologi, di tengah popularitas behaviorisme, ada tradisi teori gaya kognitif (cognitive style) yang berkembang dari mazhab Würzburg ke pengembangan kognitivisme, termasuk karya para psikolog Gestalt di Jerman, Bartlett di Inggris, dan Jean Piaget di Perancis. Di Amerika kita juga menyaksikan bahwa konsep-konsep mentalistik kembali diadopsi dalam sejumlah ranah psikologi, khususnya psikologi sosial, psikologi perkembangan, dan psikofisik. Karya-karya ini ditingkatkan oleh kontribusi para psikolog terhadap perang, khususnya dalam penelitian sensasi, persepsi, dan rancangan instrumen, serta dalam pengukuran sikap. Pada saat karya-karya ini dikerjakan oleh tradisi yang mempertimbangkan konsep-konsep mentalistik, behaviorisme mengalami kesulitan dalam menjelaskan sejumlah fungsi-fungsi mental tingkat tinggi (higher level mental functions) serta perilaku-perilaku instingtif.

Banyak dari psikologi mentalistik yang berkembang sebelum kognitivisme memang berbeda dari struktur teoretik kognisi dalam kognitivisme. Psikologi mentalistik sebelum kognitivisme menggunakan pendekatan kognitif sebagai “fiksi-fiksi eksplanatori” (explanatory fictions) (Skinner) dalam menjelaskan peristiwa mental. Namun demikian, perkembangan teori informasi dan komputer elektronik, serta perkembangan neurosains, memberikan dukungan bagi konsep bahwa pemrosesan informasi menjadi basis kognisi. Perkembangan–perkembangan ini serta produksi spesifikasi program tingkah laku inteligen pada komputer mengajukan metafora mind sebagai pemroses informasi yang mengikuti perencanaan programatik. Produktivitas metafora ini ditunjukkan oleh sejumlah publikasi kunci, seperti oleh Miller, Bruner, Broadbent, dan Chomsky, yang melegitimasikan karakterisasi kognisi sebagai pemroses informasi.

Sub-disiplin psikologi kognitif berkembang pesat menyusul publikasi Neisser yang berjudul “Cognitive Psychology”. Kognitivisme terbukti menjadi pendekatan yang populer, yang sebagiannya didukung oleh perkembangan filsafat fungsionalis, yang menekankan peran fungsional dari keadaan-keadaan mental.

Di samping kesuksesan kognitivisme, terdapat perdebatan seputar pendekatan ini. Perdebatan filsafat mind (philosophy of mind) mempersoalkan materialisme (fisikalisme) versus fungsionalisme mind. Apabila menggunakan analogi komputer, pandangan materialis mengatakan, “Mari kita bicarakan mengenai perangkat kerasnya (hardware)”. Pandangan fungsionalis mengatakan, “Mari kita bicarakan mengenai perangkat lunaknya (software)”. Materialisme berjasa karena telah menyingkirkan mistisisme dalam menjelaskan mind. Namun sejumlah keberatan telah diajukan kepada materialisme. Bahwa akses atau pengetahuan kita mengenai mind harus dipandang berbeda dari pengetahuan kita mengenai otak (brain). Bukankah kita dapat mengetahui tentang air tanpa harus mengetahui komposisi kimiawinya? Masalah khusus pada materialisme adalah karena sifatnya yang reduksionistik. Bagi materialisme, tidak ada hal yang menarik pada mental, jadi yang perlu dibicarakan hanya fisik saja. Sementara itu, fungsionalisme berkonsentrasi pada peran fungsional keadaan-keadaan mental, serta menekankan masukan (inputs), keluaran (outputs), dan relasi antar keadaan. Namun demikian, fungsionalisme pun mengalami kesulitan dalam menjelaskan sejumlah aspek kehidupan mental, seperti intensionalitas. Intensionalitas merupakan properti (atribut) isi keadaan mental, dalam hal mana keadaan mental ini memiliki maksud, niat, atau tujuan. Masalahnya adalah bahwa menurut model komputer (komputasionalisme) yang diyakini penganut fungsionalis, dikatakan bahwa setiap sistem yang memiliki fungsionalitas kognisi manusia akan memiliki sebuah mind. Dengan demikian, jika kognisi manusia berasal dari sebuah program komputer, maka setiap komputer yang menjalankan program yang sama dengan itu akan memiliki sebuah mind. Sistem simbol bergantung pada sintaks. Sintaks adalah aturan-aturan yang menspesifikasikan pemrosesan simbol-simbol. Aturan-aturan dan simbol-simbol tersebut bersifat bebas konteks (context free). Artinya bahwa aturan-aturan dan simbol-simbol itu tidak memiliki makna yang melampaui dirinya sendiri. Namun, sebelumnya kita mendiskusikan mengenai aspek intensionalitas dari mind. Para kritikus fungsionalisme mempertanyakan, dari manakah intensionalitas (dan aspek semantik / makna) datang dalam sistem simbol ini? Bickhard (1996) juga mengkritik pendekatan representasi dalam psikologi kognitif. Bagaimanakah manusia mengkode dan membentuk representasi tentang hal-hal yang sebelumnya tidak dimiliki representasinya? Misalnya, ketika bayi belajar mempersepsi objek-objek dalam lingkungan, tentu ia tidak dapat menggunakan pengkodean / penyandian (encoding), karena tidak ada representasi sebelumnya yang ia miliki yang dapat dipinjam untuk melakukan pengkodean.

Sebagaimana nampak di atas, baik materialisme maupun fungsionalisme memiliki kelemahan dalam menjelaskan mind. Tumbuh skeptisisme terhadap nilai dari metafora komputer dalam psikologi kognitif. Pandangan bahwa mind merupakan pemroses informasi mandiri (isolated) semakin dipandang tidak memadai untuk menangkap kekayaan kognisi. Sejumlah ahli memandang bahwa kita perlu mempertimbangkan konteks lingkungan dan interaksi sosial dalam berteori tentang kognisi, di samping kita perlu juga mempertimbangkan manusia sebagai manusia (bukan komputer).

Menurut Bickhard (1996), dengan pendekatan interaksinya, stimuli lingkungan menghasilkan perubahan keadaan internal dalam diri perseptor. Kondisi-kondisi lingkungan yang berbeda menimbulkan keadaan-keadaan final yang berbeda dari sistem kognisi. Sedangkan, menurut Don Norman (1980), interaksi sosial merupakan sistem kibernetik (cybernetics) yang menyediakan forum yang tepat untuk mempertimbangkan kinerja manusia. Orang-orang responsif terhadap lingkungan fisik dan sosial mereka. Norman menujukkan keterbatasan cakupan psikologi kognitif, yang memandang remeh pemrosesan subsadar (subconscious), pengaruh emosional, kinerja yang sedemikian terlatih (skilled performance), serta penggunaan bahasa dalam konteks sosial interaksi. Manusia yang diteliti dalam psikologi kognitif selama ini adalah manusia yang murni intelek, berkomunikasi dengan dialog-dialog logis, dan memecahkan permasalahan yang secara matematis tersusun baik (well-formed). Padahal manusia tidak sepenuhnya demikian. Konsep bahwa kognisi hanya dapat dipahami dalam interaksi dengan lingkungan yang lebih luas kini memperoleh tempat dalam sains kognitif, seperti teori sistem dinamis dari Port dan van Gelder (1995). Pendekatan teoretik ini menekankan sifat acak (stochastic) dari kognisi, serta menolak konsep-konsep representasi, komputasi, dan modularitas.

Konstruksionisme Sosial

Segala sesuatu yang ditulis mengenai psikologi itu sendiri sesungguhnya merupakan konstruksi sosial yang terkait dengan aspek-aspek politik dan kultural. Bahkan para ahli teori pun seringkali tidak menyadari pengaruh dari kekuatan-kekuatan ini, sehingga kekuatan-kekuatan konstruksi sosial ini barangkali bekerja secara subsadar.

Kenneth Gergen (1985) mendeskripsikan empat asumsi kunci yang mendefinisikan gerakan konstruksionisme sosial dalam psikologi modern. Pertama, posisi kritis terhadap pengetahuan yang dianggap terberi (“taken for granted”). Kita tidak dapat memperoleh informasi tentang dunia melalui pengamatan yang tak bias. Kedua, spesifisitas historis dan kultural. Kategori-kategori yang digunakan untuk memahami manusia, jenis-jenis pertanyaan penelitian yang ditanyakan, dan metodologi yang digunakan, bersifat spesifik berdasarkan aspek kesejarahan dan kebudayaan. Ketiga, pengetahuan dipertahankan melalui proses-proses sosial. Semua pengetahuan dipertahankan melalui banyak sekali transaksi yang kita lakukan dengan orang lain, institusi-institusi sosial, dan dunia sosial dan alamiah yang dikonstruksi. Keempat, pengetahuan dan tindakan sosial berjalan beriringan. Kita sulit menjaga jarak diri kita dari pengetahuan kita. Oleh karena tidak semua konstruksi sosial memiliki validitas yang setara dalam ruang dan waktu, maka persoalan pengaruh kekuasaan (power) terhadap pengetahuan dan tindakan sosial kita menjadi penting.

Bentuk psikologis dari konstruksionisme sosial dapat dipandang berakar dari Völkerpsychologie-nya Wündt. Psikologi kolektif dari Wündt memang tidak memiliki pengaruh yang besar, sebagian karena tulisannya tidak diterjemahkan kedalam bahasa Inggris namun demikian pengaruhnya ada. Dalam Völkerpsychologie, Wündt menggambarkan mind, setidaknya pada proses-proses tingkat tinggi (higher mental process), bergantung pada masyarakat. Namun demikian, G. H. Mead mengkritik Wündt karena gagasan Wündt mengenai presuposisi mind. Mead menarik garis batas antara Wündt dan konstruksionisme sosial dalam hal ini. Mead mempengaruhi de Saussure yang memiliki karya tentang semiologi (semiotika) yang penting dalam pemahaman konstruksi linguistik. Mead juga berpengaruh terhadap Durkheim, dalam mana karya Durkheim tentang representasi sosial belakangan diteruskan oleh Moscovici. Mead juga mempengaruhi Blumer, pencetus interaksionisme sosial yang menggunakan pendekatan psikologi sosial sosiologis (sociological social psychology). Tidak seperti Wündt, bagi Mead, mind merupakan produk dari masyarakat, dan bahasa memainkan peran penting dalam pembentukan mind. Teori Mead mengenai tindakan (act) menyatakan bahwa setiap tindakan merupakan produk dari lingkungan sosial seiring aktor bereaksi terhadap reaksi orang lain (yang juga terkonstruksi). Hal ini mengingatkan bagaimana Analisis Percakapan mengupas karya Goffman mengenai dramaturgi.

Konstruksionisme sosial datang kepada psikologi karena adanya “krisis” dalam psikologi sosial. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an gerakan hak-hak sipil dan gelombang kedua feminisme berpengaruh terhadap masyarakat Amerika. Ketika Perang Vietnam berlanjut, terdapat gelombang protes mengenai keterlibatan Amerika yang berlanjut dalam perang ini. Psikologi sosial dipandang tidak melibatkan diri dalam persoalan ini, dan krisis ini teridentifikasi sampai pada tingkat metodologi. Dengan pendekatan konstruksionisme sosial, psikologi sosial semakin berorientasi pada masyarakat, memperhatikan persoalan sosial yang menjadi akar krisis, mengembangkan metodologi non-laboratorium, serta meningkatkan kepekaan etis.

Written by

Psikolog Sosial Indonesia \ Peneliti Psikoinformatika dan Psikologi Korupsi \ Sains Terbuka \ Blog: juneman.me

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store