Kehidupan sebagai Penerjemah (4): Persepsi dan Memori

Pada 2011, saya menerjemahkan sejumlah karya yang saya pilih dalam bidang psikologi, semata-mata untuk memperkaya materi kuliah Psikologi Umum bagi mahasiswa di fakultas psikologi. Terjemahan ini tidak dimaksudkan pertama-tama untuk dikutip. Kendati demikian, apabila hendak dikutip juga, Anda dapat menerakan hal sebagai berikut di dalam Daftar Pustaka Anda:

Plotnik, R., & Kouyoumdjian, H. (2008). Introduction to psychology. 8th ed (Translator/Penerjemah: Juneman Abraham). Australia ; Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

Persepsi dan memori merupakan topik-topik sentral dalam psikologi kognitif. Jika kita membaca buku-buku tersebut, maka kita akan menemukan dua bab terpisah yang membahas kedua topik ini. Meskipun demikian, penting diingat bahwa guna memahami peran persepsi atau memori, kita harus memahami pula bahwa peran persepsi dan memori saling bergantung satu sama lain (Plotnik & Kouyoumdjian, 2011).

Atensi

Atensi terjadi sebelum persepsi terjadi. Namun, apakah perhatian (atensi) itu? Ada banyak variasi atensi. Sebagian besar terlibat dalam seleksi/pemilihan bagian-bagian informasi guna diproses lebih lanjut oleh bagian dari sistem pemrosesan informasi yang lain. Seleksi terhadap masukan sensorik atau data inderawi diperlukan bagi pemrosesan perseptual. Hal ini adalah atensi untuk kepentingan persepsi. Sebagai contoh, kita memperhatikan sesuatu untuk melihat apakah sesuatu itu. Namun demikian, pemilihan bentuk-bentuk respons juga diperlukan. Hal ini adalah atensi untuk kepentingan aksi/tindakan. Sebagai contoh, apakah Anda ingin menerima telepon seseorang ketika Anda sedang berjalan kaki? Anda akan menekan tombol telepon yang berbeda bergantung pada keputusan Anda. Seleksi atensional (pemilihan informasi yang melibatkan perhatian) dianggap perlu karena sistem pemrosesan informasi tidak mampu memproses semua masukan stimulus atau semua keluaran respons secara simultan atau bersamaan. Kedua variasi atensi (atensi untuk persepsi, dan atensi untuk aksi) ini memegang peran agen aktif yang penting untuk melakukan sesuatu, yakni menyeleksi informasi atau rangsang.

Atensi juga digambarkan sebagai pusat sumber daya pemrosesan yang dapat dialokasikan untuk mengerjakan tugas-tugas kognitif (Styles, 2005). Sumber-sumber daya perhatian dapat dialokasikan untuk tugas tunggal (single task), dan meningkat seiring dengan tuntutan tugas yang semakin tinggi. Sumber daya tersebut juga dapat dibagi-bagi antar tugas sesuai dengan tuntutan tugas individu. Sebagai contoh, apabila telepon yang Anda terima Anda anggap sangat penting, maka Anda mungkin berhenti berjalan dan memberikan semua perhatian Anda padanya. Dalam hal ini, sekali lagi, atensi merupakan agen aktif; yakni kali ini melakukan pemrosesan informasi ketimbang menyeleksi informasi untuk diproses. Ketika kita perlu memelihara atensi atau perhatian sepanjang periode waktu tertentu, misalnya dalam pekerjaan atau tugas yang melelahkan atau membosankan, maka mempertahankan atensi dan kewaspadaan dapat menjadi hal yang sulit dilakukan. Atensi dapat berpendar, sehingga kita perlu mampu memelihara atensi kita terhadap tugas. Kontrol atensi, baik untuk menentukan informasi apa yang diseleksi maupun bagaimana membagi sumber daya atau memelihara kewaspadaan, juga melibatkan atensi, dalam hal ini atensi eksekutif.

Pandangan lain yang agak berbeda mengenai atensi adalah bahwa atensi merupakan hasil pemrosesan (outcome of processing) ketimbang agen aktif. Ketimbang merupakan sebab (kausa), atensi merupakan akibat (efek). Atensi terkait dengan pengalaman subjektif mengenai hal apa yang sedang diperhatikan sebagai fokus pengalaman sadar. Dalam hal ini, atensi bukanlah agen pemrosesan aktif, melainkan hanya merupakan hasil pemrosesan yang memungkinkan kita untuk “mengetahui” apa yang kita lakukan. Dengan perkataan lain, kita sekadar “melihat” objek atensi. Dalam suatu teori yang berpengaruh mengenai atensi, atensi fokal (fokus) digunakan untuk mengikat ciri-ciri (fitur-fitur) visual untuk membentuknya menjadi objek-objek.

Relasi antara pengalaman sadar dan atensi membawa kita pada perbedaan antara proses yang mensyaratkan atau tidak mensyaratkan atensi. Kebanyakan pemrosesan di otak tidak dapat diakses oleh inspeksi sadar; melainkan berproses secara tak sadar dan otomatis, tanpa memerlukan proses atensional apapun. Proses-proses yang memerlukan atensi disebut pemrosesan terkontrol. Sedangkan proses yang tidak memerlukan perhatian disebut proses-proses otomatis. Bahkan ketika kita sedang mengerjakan sebuah tugas secara sadar, atensi dapat ditangkap secara otomatis oleh sebuah perubahan mendadak dalam lingkungan. Dalam hal ini kendali atensi dapat diperintah oleh proses-proses tak sadar.

Persepsi

Makna yang paling umum dari persepsi adalah pemrosesan sensorik (sensory processing). Organ-organ indra mengubah energi fisik dari dunia luar, yang disandi/dikode dan disampaikan ke otak melalui saraf-saraf sensorik dalam rangka interpretasi (penafsiran) oleh sistem perseptual. Sebagai contoh, pola-pola cahaya pada retina dikode oleh sel-sel batang (rods) dan kerucut (cones) pada mata. Data ini ditransmisikan melalui jalur-jalur yang berurusan dengan masukan visual, serta didistribusikan ke wilayah kortikal otak yang khusus merepresentasikan tepi, warna, bentuk, lokasi, gerakan, dan sebagainya. Analisis perseptual diperhalus ketika data bergerak melalui jaras-jaras visual. Informasi ini dapat digunakan untuk menilai jarak, menentukan tata letak spasial (keruangan) dari sebuah pemandangan, mengenali wajah dan objek, atau memandu pergerakan mata. Kebanyakan tahap awal dari pemrosesan perseptual bersifat otomatis atau tak sadar. Sebuah definisi yang lebih spesifik mengenai persepsi merujuk pada pengalaman sadar (atau fenomenal) dari melihat, mendengar, menyentuh, dan sebagainya. Kita tidak mempersepsi pola-pola terfragmentasi (terpecah-pecah) dari cahaya, melainkan kita “melihat” sebuah wajah atau “mendengar” sebuah suara. Misalnya, kita “melihat” seorang gadis dalam sebuah mobil merah yang bergerak kencang, dalam sebuah jarak. Hal ini adalah pengalaman perseptual yang merupakan keluaran final dari pemrosesan perseptual.

Meskipun sistem perseptual mengkode lingkungan di sekitar kita, atensi mungkin perlu untuk mengikat bersama (binding) properti-properti (atribut-atribut) perseptual individual dari sebuah objek, seperti warnanya, bentuknya, lokasinya, serta menyeleksi aspek-aspek lingkungan untuk bekerjanya proses-proses perseptual. Agar kita dapat mengenali informasi yang merepresentasikan objek-objek (yang dibentuk dari data perseptual oleh pemrosesan atensional), maka representasi tersebut harus mampu mengontak pengetahuan yang disimpan dalam sistem ingatan atau memori.

Memori

Definisi sederhana dari memori adalah tempat penyimpanan informasi. Memori merupakan hasil pembelajaran. Namun demikian, para psikolog telah mampu membedakan banyak jenis memori, dengan kapasitas yang berbeda, yang bertahan dalam periode-periode waktu yang berbeda, serta menyimpan jenis-jenis informasi pengetahuan yang berbeda dengan menggunakan representasi-representasi yang berbeda. Lebih lanjut, sejumlah memori dapat dipanggil kembali (recalled) ke kesadaran, sementara memori yang lain menyimpan pengetahuan yang hanya dapat ditunjukkan oleh kinerja tindakan. Di samping komponen penyimpanan (storage) dari memori, para psikolog juga harus mengidentifikasikan dan mampu menjelaskan semua operasi yang terlibat dalam pengkodean (encoding) informasi kedalam memori serta penemuan kembali (retrieving) informasi dari memori bilamana diperlukan.

Durasi memori merupakan salah satu dasar pembagian memori. Memori sensorik, yang durasinya sangat singkat, dengan kapasitas besar dan pembusukan (decay) yang lekas, bertindak sebagai penyangga (buffers) informasi yang diseleksi oleh proses-proses perhatian (atensional) untuk selanjutnya dikode dalam bentuk-bentuk yang lebih tahan lama (more durable). Contoh-contoh dari memori jenis ini adalah memori ikonik untuk informasi visual dan memori ekoik (echoic) untuk informasi auditorik. Memori ikonik memungkinkan kita melihat pola-pola yang dibuat oleh kembang api malam hari. Setiap percikan kembang api sangatlah sebentar, namun memori ikonik memegang informasi cukup lama sehingga bisa dikaitkan dengan pergerakan dari percikan-percikan yang lain.

Ada juga memori jangka pendek (short-term) atau memori kerja (working memory), yang memegang informasi yang datang dari pemrosesan perseptual dan ditemukembali (retrieved) dari penyimpanan memori jangka yang lebih panjang ketika kita mengerjakan tugas-tugas yang tengah berlangsung (ongoing tasks) seperti aritmatika mental atau pemecahan masalah. Memori ini memuat hal-hal yang saat ini sedang kita pikirkan. Memori ini terbatas dalam kapasitas pemrosesan dan tetap aktif dalam kesadaran sepanjang diperhatikan. Kita dapat menyadari keterbatasan memori jangka pendek dengan mencoba mengalikan dua angka yang besar, misalnya 142 x 317, dalam pikiran kita. Kebanyakan dari memori jangka pendek kita habis digunakan untuk mengingat-ingat pertanyaan/persoalannya. Ketika kita mencoba untuk mengerjakan pengalian serta juga harus mengingat hasil pengalian, kapasitas memori kelebihan beban (overloaded) dan kita mungkin lupa akan angka-angka yang ingin kita kalikan. Nampaknya ada penyimpanan-penyimpanan jangka pendek yang terpisah bagi informasi visuospasial, informasi verbal, dan informasi auditorik. Di samping komponen penyimpanan dari memori kerja, ada juga sebuah sistem kontrol eksekutif yang dapat memindahkan informasi antar penyimpanan. Sebagai contoh, menamai sebuah huruf sebagai “R” mensyaratkan kita untuk mengenalinya secara visual, namun menghasilkan sebuah respons yang diucapkan. Sistem eksekutif sentral juga penting untuk memelihara keteraturan (order) serta terlibat dalam perencanaan dan pembuatan keputusan, misalnya terlibat dalam memelihara informasi angka-angka yang digunakan dalam sebuah masalah aritmatika mental.

Penyimpanan memori yang paling bertahan lama merupakan tempat penyimpanan (repository) untuk semua pengetahuan lain yang tersimpan. Pembedaan yang utama adalah antara memori semantik untuk fakta-fakta, dan memori episodik untuk pengalaman-pengalaman pribadi. Kedua memori ini bersifat deklaratif, artinya kita dapat menyatakan isi memori ini kepada orang lain. Jadi, apabila saya menanyai Anda, “Di mana Tugu Monas?”, Anda dapat menemukembali fakta bahwa Tugu Monas berada di Jakarta, juga dapat mengetahui bahwa Jakarta merupakan ibukota Indonesia. Apabila saya selanjutnya menanyai Anda bagaimana pemandangan dari puncak Tugu Monas sewaktu terakhir Anda kunjungi, berarti Anda menemukembali dan menyampaikan pada saya tentang sesuatu yang berasal dari memori episodik Anda. Memori otobiografis terkait dengan memori episodik dan memberikan kita identitas-diri dan sejarah kehidupan kita.

Jenis memori yang lain tidak bersifat deklaratif seperti di atas. Anda tidak dapat menjelaskan isi memori tersebut dengan kata-kata namun Anda dapat mendemonstrasikannya dengan tindakan-tindakan. Memori ini disimpan dalam memori prosedural dan menentukan bagaimana melakukan sesuatu. Meskipun Anda mengetahui bagaimana mengendarai sebuah sepeda Anda tidak dapat menjelaskan kepada orang lain bagaimana Anda melakukannya. Memang mungkin saja Anda mendeskripsikan beberapa tindakan mengendarai sepeda, misalnya “peganglah setir dari sepeda, taruh satu kaki pada pedal dan kayuh sampai Anda cukup cepat untuk ….”, dan seterusnya. Namun demikian, instruksi ini tidak menyampaikan pengetahuan yang diperlukan untuk bersepeda yang berhasil. Setiap orang dapat menjelaskan bagaimana mengendarai sebuah sepeda, namun untuk mengetahui apakah mereka sungguh-sungguh “mengetahui” bagaimana melakukannya adalah dengan meminta mereka untuk mendemonstrasikan keterampilan bersepeda mereka.

Pembedaan jenis memori lainnya, yang serupa dengan pembedaan memori prosedural dan memori deklaratif, adalah pembedaan antara memori implisit dan memori eksplisit. Orang dapat mempelajari dan mendemonstrasikan pengetahuan secara implisit, namun tanpa mengetahui bahwa mereka memiliki pengetahuan tersebut.

Persoalan penting lain dalam teori memori adalah pertanyaan tentang apakah memori lebih baik dipikirkan sebagai tempat-tempat penyimpanan yang berbeda ataukah proses-proses yang berbeda. Bergantung pada jenis pemrosesan yang terlibat selama pembelajaran, jenis memori yang berbeda akan dihasilkan. Tentu saja ada banyak proses-proses berbeda yang terlibat dalam belajar dan memori, namun proses yang bertanggung jawab bagi memori telah sulit untuk dibuktikan. Yang sudah tentu adalah bahwa sampai dengan sebuah rangsang (stimulus) secara sadar dipersepsikan dan diperhatikan, rangsang tersebut tidak meninggalkan jejas memori (memory trace) yang dapat ditemukembali secara eksplisit. Namun demikian, ada bukti bahwa rangsang-rangsang yang tidak diperhatikan dan tidak dapat dipanggil secara sadar mampu mempengaruhi pemrosesan lebih lanjut. Hal ini nyata dalam penelitian mengenai persepsi subliminal dan penelitian pada pasien-pasien amnesia yang memperlihatkan pembelajaran dari pengalaman yang tidak dapat mereka ingat.

Filsuf Kant (1724–1804) menyatakan bahwa hal-hal yang dapat kita ketahui adalah “fenomena”, dan dunia fisik dari objek-objek riil hanya dapat diketahui secara tak langsung. MacPhail (1998, h. 63) menekankan bahwa oleh karena kita tidak mempersepsi dunia eksternal secara langsung, maka guna mengetahui “apa yang ada di luar sana” kita perlu mengerti sifat transformasi-transformasi yang dikerjakan oleh pikiran kita. Hal ini merupakan sebuah persoalan psikologis.

Psikologi merupakan “ilmu kehidupan mental” (science of mental life) (James, 1890). Miller (1962) menyatakan bahwa kata-kata kuncinya dalam hal ini adalah “ilmu” dan “mental”. Sebelum para psikolog dapat memulai studi ilmiah mereka, maka mereka harus mencoba mendefinisikan aspek-aspek kehidupan mental kedalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih kecil, yang lebih dapat dikelola, dan lebih potensial untuk dijawab. Para psikolog juga perlu mengembangkan metode-metode yang memungkinkan mereka untuk mengukur dan mengkuantifikasikan komponen-komponen dari “kehidupan mental”.

Para psikolog awal mempercayai bahwa introspeksi terhadap isi kesadaran dapat memberikan bukti adanya kehidupan mental, namun metode ini ditolak karena terlalu subjektif. Selanjutnya, introspeksi diganti oleh behaviorisme, yang menolak penelitian tentang mind. Pendekatan baru psikologi kognitif memberikan sebuah model mind manusia sebagai sistem pemrosesan informasi yang dapat dipandang sebagai serupa dengan komputer. Dengan pendekatan ini, kita menjadi mungkin untuk menganalisis komponen-komponen pemrosesan yang perlu untuk mengerjakan tugas-tugas kognitif serta memberikan tahap-tahap hipotetis untuk penelitian eksperimental. Model-model dan teori-teori awal tentang pemrosesan informasi manusia memasukkan proses-proses perseptual, atensional, dan memori, serta mengapresiasi interaksi antar ketiga proses tersebut. Teori-teori pemrosesan informasi didefinisikan berdasarkan tingkat-tingkat penjelasan yang berbeda. Pengembangan dalam neuropsikologi kognitif, neurosains kognitif, dan pemodelan komputasional dapat membantu pengertian dalam berbagai tingkat penjelasan tersebut.

Penelitian terhadap pasien-pasien neuropsikologis menunjukkan bahwa kerusakan pada satu bagian otak akan menimbulkan hilangnya satu fungsi, seperti kemampuan mengenali wajah, namun tetap meninggalkan kemampuan untuk membaca dan mengenali kata secara utuh. Disosiasi antar pemrosesan rangsang yang berbeda ini mendukung gagasan bahwa satu modul otak bertanggung jawab bagi pemrosesan wajah, sementara modul otak yang lain bertanggung jawab bagi pembacaan. Namun demikian, hal ini dapat juga berarti bahwa membaca kurang sulit dibandingkan dengan mengenali wajah. Jadi, apabila pasien lain dengan kerusakan otak yang berbeda ditemukan memperlihatkan pola tingkah laku sebaliknya, yakni dapat membaca namun tidak dapat mengenali wajah, maka berarti ada disosiasi ganda. Hal ini merupakan bukti kuat tentang independensi proses yang mendasari membaca dan pengenalan wajah. Penelitian-penelitian terhadap pasien menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara lokasi kerusakan otak dan fungsi yang mengalami defisit. Karya neuropsikolog kognitif terhadap orang-orang yang kehilangan kemampuan spesifik dapat membantu untuk mengklarifikasikan model-model dan teori-teori fungsi kognitif normal, serta menjelaskan hal-hal yang terjadi pada pasien abnormal.

Sejak kelahiran psikologi kognitif, para peneliti telah menguji gagasan dan model mereka tentang tingkah laku manusia dengan menggunakan pemodelan komputasional. Beberapa model pertama adalah model jejaring semantik (Collins & Quillian, 1969) yang dirancang untuk membantu memahami bagaimana pengetahuan direpresentasikan dan dapat ditemukembali dari memori semantik. Jenis model yang lain adalah sistem produksi. Dalam sistem produksi, aturan-aturan bagi operasi sebuah prosedur direpresentasikan sebagai aturan “Jika-Maka”. JIKA sebuah rangkaian kondisi hadir dalam memori kerja, MAKA aturan tersebut diterapkan. Sistem ini juga berguna untuk pemodelan proses-proses kognitif logis, seperti bernalar dan pemecahan masalah. Teknik-teknik komputasional mutakhir menggunakan jejaring koneksionis atau model pemrosesan paralel terdistribusi. Kekuatan model-model ini adalah bahwa ketimbang harus diprogram secara eksplisit, jejaring-jejaring ini dapat belajar mandiri dan dalam taraf tertentu memprogram dirinya sendiri. Ciri lain dari model koneksionis adalah bahwa model ini disusun oleh unit-unit atau titik-titik hubung elementer yang sangat saling terkait dan memiliki koneksi-koneksi eksitasi (perangsangan) dan inhibitori (penghambatan) antar mereka. Dalam hal ini, model koneksionis lebih menyerupai otak ketimbang model-model sebelumnya. Model-model koneksionis dapat diterapkan untuk pengenalan pola (pattern recognition) dan representasi pengetahuan.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, perkembangan teknologis telah memungkinkan psikolog untuk “melihat” secara aktual kerja otak manusia dalam tindakan. Teknik-teknik seperti fMRI (functional magnetic resonance imaging), PET (positron emission tomography), MEG (magneto-encephalography) dan ERPs (event-related potentials) dapat digunakan untuk menemukan informasi penting mengenai aktivitas otak sepanjang tugas-tugas kognitif. Sekarang ini sudah mungkin untuk melihat di mana dan bilamana wilayah-wilayah otak tertentu menjadi aktif sepanjang kinerja tugas. Informasi ini telah berkontribusi terhadap pembangunan teori dalam psikologi kognitif. Dengan teknik-teknik neurosains kognitif, para psikolog tidak harus mengandalkan hilangnya kemampuan pada pasien-pasien kerusakan otak, melainkan dapat mengobservasi kerja-kerja dari otak yang utuh (tidak rusak).

Permulaan pengalaman psikologis

Kita dapat berinteraksi secara efektif dengan objek-objek yang sungguh ada dan peristiwa-peristiwa yang terdeteksi di dunia sekitar kita. Memang, penting untuk mengetahui apa yang sedang terjadi “di luar sana”. Dunia fisik direpresentasikan dalam otak. Otak terbungkus secara aman dalam proteksi tulang tengkorak. Sebagai konsekuensinya, otak tidak langsung berkontak dengan lingkungan. Dengan demikian, informasi dari dunia fisik harus dideteksi, dikode, disimpan, dan diterjemahkan dalam sebuah “bahasa” atau kode persarafan yang dapat dimengerti oelh otak. Proses menginformasikan otak dimulai dengan stimulasi sebuah organ indera oleh energi fisik atau kimiawi. Energi ini dideteksi oleh organ-organ indera, yang memuat saraf-saraf sensorik spesial yang mengkode properti-properti fisik dan kimiawi sebagai impuls-impuls neural. Oleh serangkaian pancaran ulang (relays) dan pengkodean ulang (recoding), pesan-pesan ini dikirimkan ke otak. Setelah menginterpretasikan masukan dari sistem sensorik, otak harus membuat pengetahuan tersedia bagi bagian-bagian otak yang lain untuk pengkodean, rekognisi, dan interpretasi lebih lanjut serta untuk membuat atau merencanakan tanggapan (respons). Penafsiran atau interpretasi data fisik oleh indera lah yang utamanya membangkitkan persepsi terhadap sensasi, yang merupakan permulaan pengalaman psikologis atau pengalaman sadar kita mengenai lingkungan.

Deteksi dan sensasi

Johannes Muller (1838–1948) merumuskan satu prinsip pengkodean sensorik paling awal. Prinsip energi saraf spesifik ini menyatakan bahwa saraf-saraf sensorik hanya dapat mentransmisikan satu jenis sensasi spesifik. Jadi, saraf optik dari mata hanya dapat mentransmisikan sensasi cahaya, saraf auditorik hanya dapat menyampaikan sensasi suara, dan sejenisnya. Apabila Anda dipukul di bagian mata, Anda mungkin “melihat bintang-bintang”. Dalam kasus ini, saraf-saraf sensorik telah dirangsang oleh tekanan (pressure), namun oleh karena saraf-saraf ini memproyeksikan (atau mentransmisikan) impuls-impuls ke korteks visual otak, maka dihasilkanlah sebuah pengalaman visual tersebut. Meskipun tekanan membangkitkan sensasi melihat “bintang-bintang”, namun stimulasi satu-satunya terhadap sistem visual yang memberikan informasi reliabel mengenai dunia adalah cahaya (light). Jenis stimulus fisik yang ditanggapi oleh organ indera secara normal disebut sebagai rangsang adekuat. Organ-organ indera manusia dapat mendeteksi sejangkauan energi fisik dan kimiawi. Di luar jangkauan responsnya, manusia tidak memiliki sensasi. Sebagai contoh, anjing dan kucing dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi, yang apabila kita mendengarnya kita menjadi tuli. Lebah dapat mendeteksi warna-warna dalam spektrum ultraviolet, namun kita hanya dapat melihat warna pelangi yang kita sebut spektrum visibel. Keterbatasan perangkat sensorik kita berarti bahwa apapun dalam dunia fisik yang tidak dapat dideteksi oleh organ indera kita adalah “tidak ada” bagi kita. Kita mungkin dapat mendeteksi dan mengukur properti-properti fisik dari dunia ini dengan menggunakan alat-alat mekanis atau elektronis, sebagai contoh dengan menggunakan kamera inframerah untuk melihat dalam kegelapan, namun dalam hidup sehari-hari kita tidaklah sadar akan hal-hal di luar jangkauan kemampuan indera kita.

Pengukuran sensasi (Psikofisik klasik)

Banyak karya-karya eksperimental awal dalam psikologi berurusan dengan penemuan elemen-elemen (unsur-unsur) mental dasar dari pengalaman sadar. Sensasi-sensasi dianggap sebagai salah satu dari elemen dasar ini. Pada akhir abad ke-19, psikologi merupakan sebuah ilmu yang sedang tumbuh pesat, sehingga sangat berkepentingan dengan pemerolehan kredibilitas dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang dapat diterima. Apabila para psikolog dapat mengukur sesuatu yang dianggap fundamental bagi mind manusia, maka hal ini dianggap sebagai langkah maju menuju penerimaan psikologi sebagai sebuah ilmu. Pencarian cara untuk mengukur elemen-elemen mental paling nyata dalam wilayah psikologi yang disebut psikofisik.

Psikofisik klasik merupakan cabang psikologi yang berurusan dengan penemuan hubungan antara magnitud/besaran yang dipersepsikan (magnitud/besaran subjektif) dan magnitud/besaran fisik. Namun demikian, sementara cukup mudah untuk mengukur tingkat penerangan (brightness) sebuah cahaya dengan menggunakan light meter (kamera otomatis Anda melakukan hal ini untuk Anda ketika Anda mengambil sebuah foto), jauh lebih sulit untuk mengukur pengalaman subjektif akan tingkat penerangan. Masalahnya adalah bagaimana peristiwa-peristiwa internal dan privat dari pengalaman sadar dapat diukur secara objektif.

Mari kita pikirkan bagaimana Anda dapat mengetahui apa yang dipikirkan seorang lain mengenai tingkat penerangan sebuah cahaya. Cara yang paling sederhana adalah dengan menanyai orang tersebut. Teman Anda mungkin menjawab bahwa cahaya tersebut sangat terang, atau cukup suram, atau tidak seterang cahaya terakhir yang Anda sajikan kepadanya. Metode ini tidak cukup berguna dan sepenuhnya mengandalkan deskripsi subjektif dan longgar mengenai pengalaman teman Anda terhadap cahaya. Teknik-teknik psikofisik telah dikembangkan untuk membatasi respons yang dapat dinyatakan oleh pengamat dalam mendeskripsikan pengalaman mereka, dengan memaksa mereka membuat diskriminasi (pembedaan) sederhana. Psikofisik klasik merupakan wilayah psikologi yang menggunakan metode-metode pengukuran yang persis dan berhati-hati, serta memungkinkan para psikolog untuk menghasilkan rumus-rumus matematis yang menghubungkan peristiwa-peristiwa mental dan fisik secara cukup akurat.

Penskalaan sensorik

Apabila Anda memiliki seuntai dawai, Anda dapat mengukur panjangnya dengan sebuah penggaris. Dawai tersebut secara fisik eksis, dan salah satu properti fisiknya adalah panjangnya. Dawai juga memiliki properti fisik lain, seperti lebar, massa, dan warna. Sebagai sebuah objek fisik, dawai dapat dilihat oleh banyak orang yang saling bebas (independen) satu sama lain, yang akan menyetujui bahwa itu adalah dawai. Setiap orang dapat juga mengukur dawai tersebut dengan menggunakan penggaris. Sebuah penggaris memiliki penanda-penanda pada salah satu sisi penggaris, dalam hal mana ruang-ruang di antaranya adalah sama, yang diberikan label dari nol sampai dengan, misalnya, 15 sentimeter. Pada tepi lain dari penggaris, ruang antar penanda mungkin berbeda, dan diberikan label dari 0 sampai dengan 6 inchi. Skala manapun yang digunakan, ada metode objektif untuk memverifikasi jawaban terhadap pertanyaan, “Berapakah panjang untaian dawai tersebut?”.

Apabila Anda ingin mengetahui manakah yang terpanjang dari dua untaian dawai, Anda dapat secara sederhana membandingkannya. Hal ini memungkinkan Anda untuk menyatakan bahwa salah satu untaian dawai lebih panjang dari untaian yang lain. Namun demikian, apabila Anda ingin mengetahui berapa kali lebih panjang sebuah dawai dibandingkan dengan dawai yang lain, Anda akan mengambil penggaris Anda. Penggaris tersebut memiliki sebuah skala dimensi di sepanjang tepinya, yang bahkan dibagi-bagi dalam unit-unit sedemikian sehingga 2 sentimeter adalah dua kali panjang dari satu sentimeter, dan 10 sentimeter adalah sepuluh kali panjang satu sentimeter. Anda selanjutnya dapat menemukan perbedaan dalam panjang antar dua untaian dawai dalam unit skala tersebut. Jenis skala ini disebut skala rasio (ratio scale). Skala rasio untuk dimensi-dimensi fisik seperti panjang atau berat memiliki sebuah titik nol mutlak, misalnya permulaan sebuah penggaris. Para ahli psikofisik klasik ingin dapat menghasilkan sebuah skala untuk mengukur properti sensorik, seperti tingkat penerangan (brightness), tingkat berat (heaviness), atau tingkat kekerasan suara (loudness). Untuk melakukan hal ini, mereka memerlukan pengukuran yang memungkinkan deskripsi yang persis tentang sensasi. Kualitas-kualitas sensorik berbeda secara kuantitatif (sebuah cahaya dapat terang atau sangat terang) serta kualitatif (sebuah cahaya dapat hijau atau biru). Secara normal kita mendeskripsikan properti-properti sensorik ini dalam sebuah skala nominal, di mana kita memberikan nama-nama pada properti-properti. Guna mengukur seberapa terang sebuah cahaya nampak bagi seorang pengamat dibandingkan dengan cahaya yang lain, sejumlah skala sensorik diperlukan. Sebagaimana kita lihat, sebuah skala yang baik, seperti penggaris, memiliki titik nol dan interval ruang yang sama besarnya.

Sebagaimana properti-properti fisik dari seuntai dawai, properti-properti fisik dari cahaya, suara, panas, dan sebagainya, dapat diukur dengan menggunakan instrumen/alat fisik yang sesuai. Namun, sensasi-sensasi terang, kekerasan suara, dan kehangatan, tak dapat diukur dengan mudah. Para psikolog mula-mula merancang cara-cara untuk mengukur sensasi. Mengukur sensasi yang sangat sederhana, seperti misalnya perubahan minimum dalam intensitas cahaya yang dapat Anda deteksi, nampaknya tidak membantu kita memahami bagaimana orang menginterpretasikan pemandangan visual yang dihadapinya dalam sebuah taman. Namun karya-karya sederhana tersebut sangat penting dalam membantu para psikolog untuk memahami hubungan antara skala fisik dan skala psikologis.

Kebutuhan untuk menghasilkan sebuah skala untuk mengukur besaran/magnitud subjektif menimbulkan perkembangan konsep ambang (thresholds), yang sangat penting dalam psikofisika. Apabila ada sebuah titik di mana tingkat energi dalam stimulus fisik menghasilkan pengalaman sadar, namun di bawah titik tersebut seorang pengamat tidak mampu melaporkan pengalaman subjektif apapun tentangnya, maka titik ini dapat disebut permulaan pengalaman perseptual, atau ambang absolut. Sebagai contoh, sebuah cahaya dapat “menyala” dalam lingkungan fisik, namun dapat saja intensitasnya terlalu rendah bagi detektor foto dalam retina mata kita untuk merespons, sehingga kita tidak melihatnya. Meningkatkan intensitas fisik dengan menambahkan sejumlah cahaya yang sangat kecil dapat memungkinkan reseptor foto untuk “menyala”, dan sebuah pengalaman subjektif tentang sebuah cahaya redup terpicu. Dengan demikian, ambang mutlak dapat dianggap sebagai titik di mana tiadanya persepsi menjadi persepsi (no perception becomes perception). Ambang ini merupakan permulaan pengalaman psikologis kita tentang dunia fisik.

Serupa dengan itu, apabila seorang pengamat diminta untuk mencoba mendeteksi perbedaan antar dua rangsang, sebagai contoh titik di mana sebuah perubahan dalam stimulus fisik menghasilkan perubahan dalam pengalaman subjektif; hal ini disebut ambang perbedaan (difference threshold), atau perbedaan yang nyata (just-noticeable difference). Dengan menggunakan contoh cahaya, Anda dapat mencoba mengubah cahaya menjadi lebih redup. Anda mungkin harus menggeser tombol pengatur cahaya sejauh beberapa jarak sebelum Anda menangkap adanya perubahan dalam tingkat penerangan cahaya. Jadi, meskipun kekuatan elektris fisik telah meningkat, sensasi penerangan tidak berubah dalam proporsi yang sama. Hanya setelah Anda meningkatkan kekuatan listrik dengan jumlah tertentu, Anda baru dapat menangkap adanya perbedaan. Anda akan akrab dengan efek serupa ketika menyesuaikan tingkat kekerasan sebuah sistem musik. Para ahli psikofisik awal menyadari bahwa apabila mereka dapat mengukur ambang-ambang ini, maka peningkatan dalam pengalaman subjektif dapat digunakan sebagai interval sepanjang skala pengukuran psikofisik.

Permulaan, atau titik nol, pada skala sensorik adalah ambang absolut. Dalam teori, di bawah titik ini tidak ada pengalaman sadar tentang stimulasi, dan karenanya tidak ada kesadaran peristiwa; sementara di atas titik ambang mutlak stimulus selalu dialami. Seringkali ambang disebut “limen”. Jadi, peristiwa-peristiwa yang berada di bawah ambang disebut “subliminal”, dan peristiwa-peristiwa di atas ambang disebut “supraliminal”. Para psikolog sekarang mengetahui bahwa di samping ketidakmampuan seorang pengamat untuk melaporkan apapun mengenali sebuah peristiwa stimulus, ada sejumlah bukti mengenai adanya pemrosesan di bawah tingkat kesadaran, atau disebut juga persepsi subliminal.

Apabila benar bahwa di atas ambang mutlak, sebuah stimulus selalu terdeteksi, dan di bawah ambang mutlak stimulus tersebut tidak pernah terdeteksi, maka terdapat perubahan fungsi dalam tingkah laku pengamat, sebagaimana nampak pada Gambar 2 (Styles, 2005).

Gambar 2. Hubungan hipotetik antara besaran fisik dengan stimulus dan sensasi

Gambar 3. Hubungan yang terobservasi antara besaran fisik dengan stimulus dan sensasi

Bagaimana kita dapat merancang sebuah eksperimen untuk menguji hal tersebut? Weber, Fechner, dan Helmholtz telah melakukannya. Anggaplah Anda menetapkan intensitas sebuah nada di bawah ambang yang dapat Anda dengar. Secara perlahan-lahan Anda menaikkan volume sampai dengan nada tersebut dapat didengar. Selanjutnya Anda menurunkan volume sampai Anda tidak dapat lagi mendengar nada tersebut. Apabila Anda merekam intensitas, atau volume, dari tiap-tiap level, maka titik transisi dari tidak mendengar ke mendengar, atau dari mendengar ke tidak mendengar, merupakan “ambang mutlak” Anda bagi intensitas suara. Anda dapat melakukan hal yang sama dengan sebuah sumber cahaya, dengan meningkatkan atau menurunkan intensitas rangsang fisik sampai dengan Anda dapat atau tak dapat melihatnya. Nampaknya cukup mudah. Sayangnya, data yang Anda hasilkan ketika mencoba menentukan ambang absolut tidak memberikan fungsi yang pasti. Apabila pasti, Anda hanya perlu melakukan eksperimen satu kali. Sebagai psikolog yang baik, Anda akan melakukan eksperimen beberapa kali untuk memastikan akurasi Anda. Yang Anda akan temukan adalah kurva bentuk-S, sebagaimana nampak dalam Gambar 3 (Styles, 2005). Kurva ini menggambarkan fungsi yang menghubungkan intensitas rangsang dengan pengalaman subjektif. Fungsi relasi tersebut berbentuk kurva karena ada banyak variabel lain yang bekerja yang mungkin mempengaruhi penilaian Anda mengenai ambang. Sebagai contoh, apabila Anda melihat sebuah cahaya redup, cahaya ini paling baik terdeteksi dalam penglihatan periferal (tepi), dan mata Anda akan menjadi lebih sensitif terhadap cahaya ketika beradaptasi dengan kegelapan sepanjang sebuah periode waktu tertentu. Anda dapat menjadi lelah atau kehilangan kepercayaan diri dalam penilaian Anda. Ketika energi stimulus sangat rendah, dapat terjadi fluktuasi dalam jumlah foton yang secara aktual dihasilkan dalam lintasan cahaya, atau bisa ada variasi-variasi tipis dalam pengeras suara yang menghasilkan rangsang suara. Jadi, baik stimulus maupun diri Anda sendiri dapat berubah sedikit sepanjang waktu.

Setelah titik nol ditentukan sebagai permulaan dari skala sensorik, kita memerlukan sebuah unit pengukuran. Dalam hal ini ambang perbedaan (difference threshold) atau just noticeable difference (jnd) dapat digunakan. Setelah Anda mendeteksi sebuah suara atau sebuah cahaya, seberapa keras atau terang stimulus tersebut sebelum Anda dapat menyaksikan adanya perbedaan? Dengan menggunakan eksperimen serupa yang digunakan untuk menentukan ambang absolut, Anda dapat berlanjut meningkatkan energi stimulus sampai dengan Anda mampu mendeteksi adanya sebuah perubahan. Weber (1834/1978) melakukan banyak eksperimen tentang ambang perbedaan. Ia menyajikan kepada para partisipan penelitiannya dua buah stimuli. Satu stimulus bersifat standar, artinya tetap dari waktu ke waktu. Stimulus yang lain bersifat variabel, artinya berubah secara gradual (bertahap). Ketika perbedaan intensitas antar kedua stimuli menjadi lebih kecil dan terus mengecil, maka makin sulit bagi partisipan untuk mampu mengenali perbedaan antar kedua intensitas tersebut. Sebuah titik dapat ditentukan pada saat tidak ada perbedaan yang dapat dideteksi secara subjektif; inilah ambang bagi jnd. Weber menemukan bahwa ketika stimulus standar menjadi makin kuat dan terus menguat, jnd menjadi makin besar dan membesar. Bayangkanlah Anda harus mendeteksi sebuah perubahan dalam tingkat penerangan (brightness) dan hanya ada satu cahaya yang ada dalam ruangan Anda. Apabila Anda menyalakan satu lagi cahaya/lampu, perbedaan akan mudah dikenali. Namun demikian, apabila telah terdapat sebelumnya sepuluh cahaya, dan Anda menambahkan satu cahaya lampu lagi, perbedaannya akan kurang dapat dikenali. Ini merupakan Hukum Weber, yang menyatakan bahwa rasio (hasil bagi) dari ambang perbedaan, atau jnd, terhadap intensitas stimulus terkuat adalah konstan. Para psikolog sekarang mengetahui bahwa hukum ini tidak lagi reliabel pada intensitas yang sangat tinggi atau sangat rendah, namun hukum tersebut merupakan hukum yang baik dan masuk akal.

Skala psikologis

Fechner (1860/1966) menyatakan bahwa oleh karena ada titik nol pada sensasi (ambang absolut), maka ambang ini dapat menjadi permulaan dalam skala psikologis, seperti permulaan pada penggaris. Unit-unit pengukuran sepanjang skala akan menjadi jnd (atau ambang perbedaan / ambang diferensial) yang secara subjektif setara dengan perubahan dalam besaran / magnitud sensasi. Dengan skala magnitud psikologis, seseorang dapat mulai mencari tahu tentang bagaimana intensitas fisik stimulus berhubungan dengan besaran psikologis perseptual. Sebagai konsekuensi dari Hukum Weber, ketika intensitas fisik di-plot berlawanan dengan persepsi pengamat, Fechner menemukan bahwa perubahan kecil pada intensitas stimulus rendah menghasilkan perubahan besar dalam besaran psikologis, dan pada intensitas stimulus yang semakin tinggi ada perubahan-perubahan kecil dalam besaran psikologis perseptual (lihat Gambar 4 untuk kurva brightness). Jadi, apabila sebuah cahaya dinyalakan, pada awalnya cahaya tersebut harus meningkat dalam jumlah kecil sebelum pengamat menyaksikan adanya perubahan. Namun demikian, seiring cahaya menjadi lebih intens, perlu ada perubahan yang makin besar dan terus membesar sebelum perubahan terdeteksi. Hukum Fechner menyatakan bahwa besaran / magnitud subjektif dari sebuah sensasi merupakan logaritma dari besaran / magnitud fisik stimulus. Namun demikian, Hukum Fechner juga dilaporkan mengandung kelemahan.

Pengukuran sensasi secara langsung

S. S. Stevens (1936, 1956, 1957) melakukan serangkaian eksperimen di mana para partisipan diminta untuk mengestimasikan pengalaman subjektif mereka mengenai sebuah stimuli, dengan cara memberikan angka. Sebagai contoh, Stevens memperlihatkan partisipan sebuah cahaya dan menyatakan pada partisipan, tingkat penerangannya adalah 10. Kemudian ia menyajikan cahaya lain. Apabila cahaya tersebut nampaknya dua kali lebih terang, maka partisipan seyogianya menyatakan 20; apabila cahayanya setengah terang, partisipan menyatakan angka 5, dan seterusnya. Dengan menggunakan metode ini, Stevens menemukan hasil-hasil serupa dengan Fechner untuk cahaya, namun berbeda untuk jenis stimulus lain. Sebagai contoh, ketika kejutan elektrik meningkat, para partisipan hanya mengenal perubahan-perubahan kecil dalam sensasi pada intensitas kejutan rendah. Namun ketika kejutan terus meningkat dalam energi fisik, maka sebuah perubahan kecil saja menghasilkan perubahan dalam sensasi (Styles, 2005). Dengan demikian, sensitivitas terhadap kejutan elektrik berlaku kebalikan dengan kepekaan terhadap cahaya (Gambar 4).

Stevens menyatakan bahwa besaran / magnitud subjektif dan intensitas stimulus berelasi dengan pola-pola yang berbeda bagi masing-masing sistem sensorik yang berbeda, meskipun dalam masing-masing indera hubungan tersebut bersifat konstan. Hukum Kekuatan Stevens menyatakan bahwa besaran / magnitude sensasi adalah setara dengan intensitas fisik stimulus.

Gambar 4. Hubungan antara besaran fisik dengan besaran psikologis untuk rangsang cahaya dan kejutan listrik

Metode-metode psikofisik

Secara umum, eksperimen-eksperimen psikofisik melibatkan ratusan percobaan pada sejumlah kecil partisipan. Eksperimen-eksperimen ini bisa jadi bersifat “menekan” (demanding), tidak hanya karena ada banyak percobaan, namun juga karena diskriminasi (pembedaan) sangat lah samar (subtil). Anda harus sangat berkonsentrasi dan memutuskan hal yang hendak Anda laporkan. Misalnya, Anda diminta untuk membuat penilaian “sama — berbeda” pada pasangan-pasangan suara. Eksperimen dilangsungkan dalam sebuah ruang gelap agar Anda terhindar dari distraksi visual, dan Anda menjalani ratusan percobaan.

Empat buah metode telah dikembangkan oleh para ahli psikofisik untuk mengumpulkan informasi yang persis mengenai ambang-ambang sensorik, yakni metode penyesuaian (method of adjustment), metode batasan (method of limits), metode rangsang konstan, dan metode tangga (staircase method).

Metode penyesuaian meminta partisipan menyesuaikan tombol (knob) yang mengendalikan sumber stimulus, misalnya sumber cahaya, sampai dengan mereka mendeteksi adanya perubahan. Seringkali cahaya di-set pada tingkat tinggi, dan partisipan menyesuaikan dengan menurunkan tingkat penerangannya. Seringkali pula, cahaya di-set pada tingkat yang sangat rendah, dan partisipan menyesuaikan dengan menaikkan tingkat penerangannya. Eksperimenter merekam setting dari tombol setiap waktu.

Metode batasan serupa dengan metode penyesuaian, kecuali bahwa dalam metode ini eksperimenter lah yang melakukan penyesuaian, dan merekam respons partisipan, apakah melihat cahaya atau tidak. Penyesuaian tersebut juga tidak berkelanjutan, dan partisipan tidak memantau perubahan, namun ditanyai apakah mereka melihat stimuli ataukah tidak.

Dalam metode stimuli konstan, jangkauan stimuli yang digunakan telah direncanakan oleh eksperimenter, namun disajikan dalam secara acak. Jadi partisipan kadangkala akan memperoleh stimulus yang sangat lemah, kemudian stimulus kuat, selanjutnya stimulus moderat (sedang), dan seterusnya sampai dengan semua nilai stimulus telah diujikan.

Metode tangga serupa dengan metode batasan, namun membatasi percobaan pada wilayah di mana tidak diharapkan adanya perubahan apapun dalam respons partisipan.

Masalah laporan subjektif

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, terdapat sejumlah variabel yang mempengaruhi laporan verbal perseptor mengenai pengalaman subjektifnya. Salah satu pengaruh yang paling penting adalah kepercayaan diri dalam penilaian mereka sendiri. Ketika seorang partisipan merasa tidak pasti mengenai apakah mereka telah mendeteksi sebuah perubahan ataukah tidak, apakah yang akan mereka lakukan? Beberapa orang akan mengambil pendekatan yang hati-hati dan selalu menunggu sampai dengan mereka merasa sangat yakin; namun beberapa lainnya akan mengambil risiko dalam laporannya. Sebagai konsekuensinya, orang-orang yang berbeda akan memberikan ambang yang berbeda. Orang yang sama pun dapat memberikan nilai-nilai yang berbeda bagi ambang mereka sendiri pada peristiwa-peristiwa yang berbeda, bergantung pada suasana hati (mood) mereka. Salah satu cara mengontrol variasi dalam kepercayaan/keyakinan diri adalah dengan menggunakan jenis eksperimen yang berbeda. Misalnya, dalam penentuan ambang absolut, partisipan mengetahui bahwa sebuah cahaya selalu disajikan dan tugas mereka adalah menyatakan apakah mereka dapat melihat cahaya tersebut ataukah tidak. Lagi pula, dalam pengukuran just noticeable difference (jnd), partisipan mengetahui bahwa stimulus fisiknya telah diubah, dan tugas mereka adalah untuk mengatakan “ya” apabila mereka dapat mendeteksi perubahan tersebut, dan “tidak” jika mereka tidak dapat mendeteksinya. Green dan Swets (1966) menambahkan dimensi lain pada eksperimen ambang absolut, yakni dengan mengikutkan percobaan di mana tidak terdapat stimulus sama sekali. Jadi, partisipan tidak pernah mengetahui apakah ada stimulus ataukah tidak. Agar merespons secara benar, partisipan tidak hanya perlu mendeteksi kehadiran (presensi) rangsang, tetapi juga ketidakhadiran (absensi) rangsang. Hal ini berarti bahwa terdapat empat kemungkinan keluaran (hasil) dari setiap percobaan; yakni dua benar dan dua tidak benar. Respons yang benar adalah bilamana sebuah stimulus hadir dan partisipan secara benar mendeteksinya. Respons yang benar juga adalah bilamana tidak ada stimulus, dan partisipan secara benar menyatakan bahwa rangsangnya absen. Respons yang tidak benar adalah bilamana ada stimulus, namun subjek gagal mengenalinya. Respons yang tidak benar juga adalah bilamana tidak ada stimulus, namun partisipan menyatakan ada stimulus, sehingga menekan alarm yang salah.

Mari kita bayangkan suasana eksperimen ini. Anda duduk dalam ruangan yang sama sekali gelap, dan mengharapkan sebuah cahaya yang sangat redup. Anda mendengarkan sebuah nada, dan mengetahui bahwa dalam beberapa saat sebuah cahaya akan disajikan atau tidak disajikan. Kita semua mengetahui bahwa ketika mata kita tertutup, bahkan di dalam ruang gelap, terdapat sensasi visual. Hal ini berasal dari aktivitas acak dalam sistem saraf serta memberikan latar belakang gangguan sinyal (noise). Jadi meskipun tidak ada rangsang cahaya yang disajikan, namun kita mengharapkannya, dan kita mungkin kacau membedakan sejumlah eksitasi persarafan acak tersebut dengan peristiwa rangsang yang intensitasnya rendah. Namun demikian, apabila sebuah rangsang (sinyal) yang sesungguhnya disajikan, hal ini akan menambah aktivitas kepada latar belakang gangguan sinyal persarafan. Seiring rangsang menjadi semakin intens, maka rangsang tersebut makin dapat dibedakan (discriminable). Sekarang, apabila kita hendak membuat sebuah respons, kita perlu menetapkan sejumlah kriteria untuk memutuskan apakah kita sungguh-sungguh melihat sesuatu ataukah tidak. Apabila kita terlalu lemah, kita akan membuat banyak alarm kesalahan, dan mengatakan bahwa ada cahaya padahal faktanya itu hanyalah noise dalam sistem saraf. Di sisi lain, apabila kita terlalu berhati-hati, kita akan ketinggalan banyak cahaya yang sungguh-sungguh ada. Jadi, terdapat timbal-balik antara “menjadi benar” dan “menjadi salah” (dalam berespons), yang dapat diukur oleh proporsi jenis kesalahan yang kita buat. Teori Deteksi Sinyal ini menarik karena dengan melihat hubungan antara jumlah deteksi yang benar, penolakan yang benar, alarm kesalahan dan ketertinggalan, maka mungkin bagi kita untuk membuat kriteria yang digunakan partisipan dan mengetahui seberapa sensitif partisipan terhadap perbedaan antara “noise saja” dengan “noise dan sinyal rangsang”.

Sensasi dan Persepsi Sebagai Pengalaman Kompleks

Tugas eksperimental yang nampak sederhana di atas sesungguhnya memuat kompleksitas. Sensasi merupakan permulaan pengalaman psikologis. Kita telah melihat bagaimana kita dapat mengukur hubungan antara properti atau atribut fisik dari lingkungan kita dengan pengalaman kita terhadapnya. Namun demikian, bahkan meskipun tugas yang diberikan hanya mensyaratkan kita mendeteksi presensi atau absensi sebuah cahaya, banyak hal yang terlibat. Meskipun tujuan eksperimen tersebut adalah untuk mengukur sebuah ambang, Anda harus mengerti instruksi eksperimen. Guna melakukan hal ini, Anda harus menganalisis suara bahasa, mengetahui makna kata dalam instruksi, dan menerjemahkan instruksi menjadi keadaan kesiapan berespons. Bagaimanapun juga otak Anda telah siap (terhadap tugas yang akan dikerjakan) sedemikian sehingga Anda siap melihat sebuah cahaya redup ketimbang mendengarkan sebuah nada. Atensi Anda diarahkan pada kegelapan di depan Anda. Dalam hal ini, Anda melibatkan atensi selektif dan kontrol atensional. Selanjutnya, Anda harus memutuskan kriteria yang akan Anda gunakan untuk menerima dan menyatakan apakah sebuah cahaya ada ataukah tidak. Ketika percobaan dimulai, setiap saat terdapat sebuah peluang untuk berespons. Pada saat tersebut, Anda harus menerjemahkan pengalaman sensorik Anda (misalnya, telah mendeteksi sebuah cahaya) menjadi jawaban verbal “Ya” atau “Tidak”, atau mungkin menekan satu di antara dua tombol respons. Untuk membuat respons ini (yang nampaknya sepele dan tidak membutuhkan upaya), informasi mengenai apakah ada atau tidak cahaya perlu di-kode dan di-kode ulang melalui jalur-jalur dalam otak menjadi perbuatan bicara atau perbuatan menggerakkan jari Anda. Sebuah respons merupakan sebuah aksi yang mensyaratkan perencanaan dan pelaksanaan, serta melibatkan pergerakan otot yang digunakan untuk berbicara atau menekan tombol-tombol. Ketika percobaan berikutnya dimulai, Anda masih harus mengingat instruksi, melupakan percobaan yang baru berlalu, serta bersiap untuk percobaan berikutnya. Ingatan mengenai apa yang harus dilakukan di masa depan disebut memori prospektif. Pada saat yang sama, Anda harus tetap waspada dan tidak ketinggalan sinyal yang dapat disebabkan runtuhnya atensi. Anda harus memelihara postur Anda, menetapkan tatapan Anda, dan mencoba untuk tidak berpikir mengenai hal-hal lain (misalnya, waktu makan siang). Secara keseluruhan, nampak bahwa eksperimen untuk mengukur elemen-elemen sensasi dasar ini berurusan dengan perubahan-perubahan kecil, namun fakta bahwa Anda dapat melakukan tugas keseluruhan sesungguhnya menakjubkan. Kompleksitas aparatus mental partisipan lah yang membuat para ahli psikofisik kesulitan melakukan penskalaan sensorik.

Filsuf John Locke (1690/1929) menunjukkan masalah bahwa sensasi tidaklah sesederhana yang kita pikirkan. Apabila Anda pernah memainkan es batu dengan tangan telanjang dan selanjutnya hendak mencuci tangan Anda, air dari keran yang dingin terasa hangat. Biasanya, air dari keran yang dingin terasa dingin. Locke memberikan contoh tiga mangkuk air; satu mangkuk berisi air panas, satu mangkuk dingin, dan satu mangkuk suam-suam kuku. Letakkan satu tangan dalam air panas, dan satunya lagi dalam air dingin, kemudian tunggu beberapa menit. Selanjutnya, letakkan kedua tangan ke dalam air suam-suam kuku. Bagi tangan yang sebelumnya diletakkan dalam air dingin, maka air suam-suam terasa panas. Bagi tangan yang sebelumnya diletakkan dalam air panas, air suam-suam terasa dingin. Bagaimana mungkin? Anda memiliki dua sensasi yang berbeda dari rangsang yang sama (air suam-suam kuku). Apakah air suam-suam kuku itu panas ataukah dingin? Bagaimana kita dapat mengandalkan penginderaan kita untuk memberitahukan kita mengenai dunia “di luar sana” apabila, dalam kasus ini, dunia memberikan kita informasi yang saling berkonflik? Locke menggunakan contoh ini untuk membuat jelas perbedaan antara dunia nyata (real world) dengan dunia subjektif (subjective, experienced world), atau perbedaan antara sensasi dan persepsi. Kenyataannya, diketahui bahwa ada proses yang disebut adaptasi, dalam hal mana organ-organ indera mengalami sesuatu ketika dirangsang. Sebagai contoh, bau masakan bawang sangat menyengat bagi orang yang baru memasuki rumah tempat memasak. Namun, apabila Anda lah yang baru saja memasak, Anda tidak akan mencium bau bawang. Jadi, apakah rumah tersebut berbau bawang? Jawabnya adalah bergantung pada siapa yang membaui. Tepatnya, hal ini bergantung pada kepada apa aparatus sensorik Anda telah terpapar, dan berapa lama terpapar. Di samping karya ahli-ahli psikofisik mengenai just-noticeable differences dan ambang, persepsi kita mengenai dunia terbuka terhadap distorsi (bias). Sensasi-sensasi visual, auditorik, dan taktil (perabaan) kita menyusun persepsi kita mengenai dunia. Namun demikian, konstruksi persepsi ini bukan bergantung semata-mata pada data sensorik (bottom-up processing), tetapi juga bergantung pada bagian-bagian otak manakah yang berkomunikasi satu sama lain, dan pemrosesan atas-bawah (top-down processing) berdasarkan pengalaman sebelumnya atau pengetahuan tersimpan sebelumnya.

Aturan-aturan Persepsi Visual

Gambar 5. Foto ruang mall

Gambar 5 merupakan gambar pada sebuah kertas foto datar. Anda mempersepsinya sebagai gambar kompleks dan tiga dimensi karena mengikuti banyak aturan-aturan pengorganisasian Gestalt (Han & Humpreys, 1999). Kaum strukturalis meyakini bahwa Anda menambahkan ratusan unsur untuk membentuk sebuah persepsi kompleks. Mereka juga meyakini bahwa Anda dapat memecah persepsi Anda kedalam unit-unit atau elemen-elemen yang lebih kecil. Namun demikian, hal ini disangkal oleh para psikolog Gestalt. Aturan pengorganisasian yang ditemukan oleh para psikolog Gestalt menyatakan bahwa otak kita bekerja mengkombinasikan dan mengorganisasikan unsur-unsur atau elemen-elemen individual menjadi sebuah pola atau persepsi yang bermakna. Ketika Anda melihat pemandangan pada Gambar 5, otak Anda secara otomatis mengorganisasikan ratusan rangsang visual, termasuk tekstur, bayangan, batu, baja, kaca, daun, ranting, dan sebagainya, menurut satu atau lebih dari enam aturan pengorganisasian perseptual yang diuraikan di bawah ini (Plotnik & Kouyoumdjian, 2011). Gambar dan video terkait dengan hukum-hukum persepsi Gestalt ini dapat Anda akses juga di http://www.psychdomain.com/tag/perception/

Figur-Latar Belakang

Salah satu aturan paling dasar dalam pengorganisasian persepsi adalah mengambil/memilih objek dari latar belakangnya. Sebagaimana Anda lihat dalam Gambar 6, Anda akan secara otomatis melihat sebuah objek putih yang timbul dari sebuah latar belakang hitam. Hal ini mengilustrasikan prinsip figur-latar belakang.

Gambar 6. Figur dan latar belakang

Aturan figur-latar belakang menyatakan bahwa, dalam mengorganisasikan rangsang, kita cenderung secara otomatis memisahkan figur dari latar belakang. Figur yang dipandang lebih terperinci timbul atas latar belakang yang dipandang kurang terperinci. Ada sejumlah bukti yang menyatakan bahwa kemampuan kita memisahkan figur dari latar belakang merupakan respons bawaan (innate). Sebagai contoh, individu yang buta sejak usia dini dan penglihatannya kembali ketika dewasa mampu membedakan antara figur dan latar belakang dengan sedikit atau tanpa latihan (von Senden, 1960). Aturan figur-latar belakang merupakan salah satu aturan pertama yang digunakan otak kita untuk mengorganisasikan stimuli menjadi sebuah persepsi (Vecera dalam Adelson, 2002). Gambar ini menarik karena, ketika Anda terus menatapnya, figur dan latar belakang akan tiba-tiba berbalik (latar belakang bergeser menjadi figur, figur bergeser menjadi latar belakang), dan Anda akan melihat profil dua wajah berhadapan. Namun demikian, dalam dunia nyata, gambar-gambar dan objek-objek yang biasanya kita persepsikan tidak dapat berbalik (irreversible) karena bentuk-bentuknya lebih distingtif (Humphreys & Muller, 2000).

Keserupaan (Similaritas)

Ketika Anda melihat Gambar 7, Anda akan melihat delapan lingkaran kecil sebagai “tepi bunga” dan lingkaran yang ada di tengah sebagai “pusat bunga”. Aturan keserupaan menyatakan bahwa, dalam mengorganisasikan rangsang, kita mengelompokkan bersama unsur-unsur yang nampak serupa.

Gambar 7. Hukum keserupaan

Klosur

Meskipun pada Gambar 8 ini, garis-garisnya tidak lengkap, Anda dapat dengan mudah mempersepsikan gambar ini sebagai topi suku tertentu. Aturan klosur menyatakan bahwa, dalam mengorganisasikan rangsang, kita cenderung mengisi bagian-bagian yang hilang dari sebuah gambar, dan melihat gambar sebagai gambar yang utuh atau lengkap. Sebagai contoh, aturan klosur menjelaskan mengapa Anda dapat mengisi huruf-huruf yang hilang pada sebuah teka-teki silang atau kepingan yang hilang pada sebuah puzzle.

Gambar 8. Hukum klosur

Kedekatan (Proksimitas)

Meskipun dalam Gambar 9 ini terdapat persis delapan lingkaran pada tiap jalur horizontal, Anda mempersepsikan setiap jalur terbentuk oleh jumlah kelompok lingkaran yang berbeda. Aturan proksimitas menyatakan bahwa, dalam mengorganisasikan rangsang, kita mengelompokkan bersama objek-objek yang secara fisik dekat satu sama lain. Anda secara otomatis mengelompokkan lingkaran-lingkaran yang dekat satu sama lain, sehingga mempersepsikan jalur horizontal pertama tersusun atas tiga kelompok lingkaran (Kubovy & Wagemans, 1995).

Gambar 9. Hukum kedekatan

Kesederhanaan (Simplisitas)

Lihatlah Gambar 9 pada gambar A, dan kemudian tentukanlah apakah gambar A tersusun dari kepingan yang nampak pada gambar B, C, atau D. Hampir setiap orang melihat gambar A tersusun atas kepingan dalam gambar B. Sebuah bentuk oval dengan sebuah kotak yang tumpang tindih. Aturan kesederhanaan menyatakan bahwa rangsang diorganisasikan dengan cara yang sesederhana mungkin. Sebagai contoh, hampir tidak ada orang yang melihat gambar A tersusun dari kepingan-kepingan kompleks yang diperlihatkan dalam gambar C atau gambar D (Shimaya, 1997). Aturan ini menyatakan bahwa kita cenderung mempersepsikan gambar-gambar kompleks yang terbagi-bagi dalam sejumlah gambar yang lebih sederhana.

Gambar 10. Hukum kesederhanaan

Kontinuitas (Kesinambungan)

Saat orang melihat Gambar 11, kebanyakan mata akan bergerak dari kiri ke kanan atas dalam sebuah jalur sinambung, sesuai dengan warna lingkaran yang lebih muda. Aturan kesinambungan menyatakan bahwa, dalam mengorganisasikan rangsang, kita cenderung memilih jalur yang paling mudah atau sinambung ketika menafsirkan serangkaian titik atau garis. Sebagai contoh, aturan kontinuitas meramalkan bahwa Anda cenderung tidak melihat sebuah garis yang mulai dari kiri ke kanan bahwa pada Gambar 11.

Gambar 11. Hukum kesinambungan

Gambar-gambar di atas menunjukkan aturan-aturan Gestalt untuk mengorganisasikan stimuli menjadi persepsi. Anak-anak kecil secara pelan-pelan mempelajari aturan-aturan perseptual ini dan mulai menggunakannya sejak bayi (Quinn, Bhatt, & Hayden, 2008). Sebagai orang dewasa, kita menggunakan aturan-aturan tersebut guna mengorganisasikan ribuan rimuli menjadi persepsi. Bagi para dokter yang membaca mammogram atau citra sinar X lainnya, aturan Gestalt seperti figur-latar belakang, keserupaan, dan proksimitas merupakan hal yang esensial dalam pekerjaan mereka sehari-hari (Koontz & Gunderman, 2008).

Konstansi (ketetapan) Ukuran, Bentuk, dan Penerangan

Studi tentang persepsi sangatlah menarik. Kita melihat orang, binatang, mobil berubah bentuknya ketika bergerak, namun kita mempersepsinya tetap memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Sebagai contoh, sebuah mobil tidak kita persepsikan menjadi lebih kecil meskipun bergerak menjauh meninggalkan kita, padahal bentuknya pada retina kita menjadi semakin kecil. Sebuah pintu tidak kita persepsikan menjadi trapesium ketika kita melewatinya, meskipun bentuk trapesium nampak sebagai bentuk di retina. Ini adalah contoh bagaimana persepsi tetap konstan. Konstansi perseptual adalah kecenderungan kita untuk mempersepsikan ukuran, bentuk, penerangan, dan warna sebagai sama meskipun karakteristik fisiknya terus-menerus berubah.

Konstansi Ukuran

Bayangkanlah sebuah dunia di mana Anda mempersepsikan bahwa setiap mobil, orang, atau binatang menjadi lebih kecil apabila bergerak menjauhi kita. Untungnya, kita menanggulangi perubahan stimulus dengan konstansi perseptual. Salah satu jenisnya adalah konstansi ukuran. Konstansi ukuran adalah kecenderungan kita untuk mempersepsikan objek-objek tetap sama ukurannya meskipun citranya di retina kita secara kontinu menjadi lebih besar atau lebih kecil.

Konstansi ukuran kita pelajari dari pengalaman kita bersama objek-objek yang bergerak. Kita belajar bahwa objek-objek tidak bertambah atau menurun ukurannya ketika objek-objek itu bergerak. Sebagai contoh, seseorang yang buta sejak lahir dan pada masa dewasanya memperoleh penglihatannya kembali melihat keluar melalui jendela adanya makhluk kecil yang berjalan di trotoar. Oleh karena ia tidak pernah mempelajari konstansi ukuran, ia tidak mengetahui bahwa makhluk kecil itu adalah orang dengan ukuran penuh (Gregory, 1974).

Konstansi Bentuk

Setiap kali kita menggerakkan sebuah buku, gambar/citra buku di retina kita berubah dari segi empat ke trapesium. Namun kita tetap melihat bentuk buku sebagai tetap sama oleh karena konstansi bentuk. Konstansi bentuk adalah kecenderungan kita mempersepsikan objek tetap sama bentuknya meskipun kita melihatnya dari berbagai sudut pandang, dan meskipun bentuknya pada retina mata berubah.

Konstansi Penerangan dan Warna

Konstansi penerangan adalah kecenderungan kita mempersepsikan tingkat penerangan/pencahayaan (brightness) objek sebagai tetap sama meskipun pencahayaan atas objek itu berubah. Misalnya, dalam sebuah ruang yang redup, pakaian kita nampak lebih suram dan keabu-abuan. Namun ketika memilih baju berwarna merah misalnya, kita mempersepsikan bahwa warna baju kita tetap stabil atau sama (tidak berubah menjadi abu-abu, misalnya, dalam ruangan yang cukup gelap).

Persepsi Kedalaman

Normalnya, film-film yang kita saksikan tersaji dalam dua dimensi, memiliki lebar dan tinggi. Namun apabila Anda pernah menonton sebuah film 3 dimensi (dengan menggunakan kacamata khusus untuk melihat 3-D, yang tersaji dalam tinggi, lebar, dan kedalaman), Anda mengetahui serunya menonton objek atau binatang melompat keluar layar sedemikian realistiknya sehingga membuat Anda mengelakkan atau memutar kepala Anda. Anda mungkin tidak menyadari bahwa mata Anda secara otomatis memberikan Anda pemandangan 3-D dunia ini secara cuma-cuma, tanpa perlu memakai kacamata. Hal yang mengagumkan dari melihat dalam tiga dimensi adalah bahwa setiap hal yang diproyeksikan pada retina sebenarnya hanya dua dimensi (tinggi dan lebar). Hal ini berarti bahwa otak Anda mengkombinasikan berbagai petunjuk (cues) guna menambahkan dimensi ketiga, yakni kedalaman (Harris & Dean, 2003). Persepsi kedalaman adalah kemampuan mata dan otak kita untuk menambahkan dimensi ketiga, yakni kedalaman, pada semua persepsi visual, meskipun citra atau gambar yang diproyeksikan pada retina hanya dua dimensi (tinggi dan lebar).

Mustahil bagi semua orang yang memiliki penglihatan untuk membayangkan sebuah dunia tanpa kedalaman (depth), karena orang mengandalkan persepsi kedalaman untuk menggerakkan dan menempatkan objek-objek dalam ruang. Petunjuk-petunjuk bagi persepsi kedalaman dibagi menjadi dua, yakni binokular dan monokular. Petunjuk kedalaman binokular bergantung pada pergerakan kedua mata (bi artinya dua, ocular artinya mata). Sedangkan petunjuk kedalaman monokular dihasilkan oleh sinyal-sinyal yang berasal dari sebuah mata.

Kedalaman Binokular

Salah satu petunjuk kedalaman binokular adalah fenomena konvergensi. Konvergensi adalah sebuah petunjuk persepsi kedalaman binokular berdasarkan sinyal-sinyal yang dikirim oleh otot-otot yang menggerakkan mata. Anda dapat mengalami konvergensi dengan meletakkan sebuah jari di depan hidung Anda dan pelan-pelan menarik jari itu semakin dekat ke hidung Anda. Semakin mata Anda tertarik ke dalam atau berkonvergensi, makin dekat objek itu nampaknya dalam ruang. Otak kita menggunakan sinyal-sinyal yang dikirim oleh otot-otot mata kita untuk menentukan jarak jari dari hidung kita.

Salah satu keuntungan memiliki dua mata pada dua sisi wajah adalah karena setiap mata memiliki pandangan yang sedikit berbeda tentang dunia. Hal ini merupakan petunjuk persepsi kedalaman yang disebut disparitas retinal. Hal ini merupakan petunjuk kedalaman binokular yang bergantung pada jarak antar mata. Oleh karena posisi yang berbeda antara mata kiri dan mata kanan, setiap mata menerima citra/gambar yang agak berbeda di retina. Otak mengkombinasikan kedua citra yang agak berbeda dari mata kiri dan mata kanan ini, sehingga memberikan kita persepsi kedalaman. Otak menginterpretasikan disparitas retinal (jarak antar dua retina) yang besar sebagai objek yang dekat, sedangkan disparitas retinal yang kecil bermakna objek yang jauh.

Kedalaman Monokular

Individu dengan satu mata yang baik dapat mendaratkan sebuah pesawat terbang, mengendarai mobil, atau memainkan beragam permainan olahraga karena petunjuk kedalaman monokular. Jika Anda ingin mencoba petunjuk monokular ini, tutuplah satu mata Anda dan lihatlah apakah Anda dapat menghindari menabrak objek-objek ketika Anda berjalan mengelilingi sebuah ruangan.

Salah satu petunjuk kedalaman monokular adalah perspektif linear. Ketika kita melihat sebuah jalan yang terbentang panjang di depan, garis-garis paralel (sejajar) yang dibentuk oleh sisi-sisi jalan nampak berkonvergensi atau menyatu di satu titik jauh (Gambar 12). Konvergensi ini merupakan petunjuk monokular untuk jarak (distance), dan disebut perspektif linear.

Gambar 12. Perspektif linear

Petunjuk kedua adalah ukuran relatif. Apabila kita mengamati pemancar-pemancar pada gambar, kita mengharapkan pemancar-pemancar tersebut semuanya sama ukurannya. Namun demikian, oleh karena pemancar di depan nampak lebih besar, maka kita mempersepsikannya lebih dekat dengan kita (Gambar 13). Sedangkan, pemancar di belakang nampak lebih kecil, maka kita mempersepsikannya lebih jauh dari kita.

Gambar 13. Ukuran relatif

Petunjuk ketiga adalah interposisi. Anda mampu mengenali dan menunjuk objek mana yang lebih dekat dengan Anda dan mana yang lebih jauh dari Anda dengan menggunakan petunjuk kedalaman monokular mengenai tumpang tindih (overlap), yang disebut interposisi. Objek yang menutupi nampak lebih dekat, sedangkan objek yang ditutupi nampak lebih jauh (Gambar 14).

Gambar 14. Interposisi

Petunjuk keempat adalah cahaya dan bayangan. Objek-objek yang terang nampak lebih dekat, sedangkan objek-objek dalam bayangan nampak lebih jauh.

Gambar 15. Cahaya dan Bayangan

Petunjuk kelima adalah tingkat tekstur. Pada Gambar 16, patahan permukaan yang luas, terperinci, jelas/tajam, nampak lebih dekat, sedangkan patahan yang kurang terperinci dan sempit nampak lebih jauh.

Gambar 16. Tingkat tekstur

Petunjuk keenam adalah perspektif atmosferik. Perspektif atmosferik merupakan petunjuk kedalaman monokular yang diciptakan oleh kehadiran debu, kabut, awan, atau uap air. Kita mempersepsikan objek yang lebih jelas (tidak berdebu, tidak berkabut, dsb) sebagai lebih dekat, sedangkan kita mempersepsikan objek yang samar-samar atau berawan sebagai lebih jauh (Gambar 17)

.

Gambar 17. Perspektif atmosferik

Petunjuk ketujuh adalah paralaks gerak. Paralaks gerak Anda alami ketika Anda berada dalam kendaraan yang sedang bergerak (misalnya kereta api) dan melihat pemandangan di luar jendela. Objek-objek yang Anda lihat nampak bergerak berlawanan arah dengan laju kendaraan Anda. Di samping itu kecepatan objek-objek tersebut juga berbeda. Objek-objek yang dekat dengan Anda nampak bergerak lebih cepat ketimbang objek-objek yang jauh dari Anda.

Gambar 18. Paralaks gerak

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana sistem perseptual kita dapat “dibodohi” atau “dibohongi” (lemah). Ini adalah fenomena dunia ilusi.

Ilusi

Persepsi kita tidak pernah merupakan cerminan atau salinan realitas yang murni, karena persepsi kita dipengaruhi oleh emosi, motivasi, dan kebudayaan. Kita mewarisi sistem sensorik (indera) yang serupa dalam mana informasi diproses dan diinterpretasikan oleh wilayah-wilayah otak yang serupa (Franz, Gegenfurtner, Bulthoff, & Fahle, 2000). Namun demikian, kerusakan dalam wilayah sensorik dari otak dapat menghasilkan persepsi yang sangat terdistorsi (bias), misalnya sindroma pengabaian, dalam mana orang tidak mempersepsikan satu sisi dari badannya atau satu sisi dari lingkungannya.

Kita juga belajar dari pengalaman umum mengenai ukuran, bentuk, dan warna objek. Namun, persepsi kita dapat dibiaskan oleh pengalaman, emosi, dan pembelajaran sebelumnya. Misalnya, seseorang mempersepsikan binatang anjing secara berbeda setelah mengalami gigitan oleh seekor anjing. Ada cara lain di mana persepsi dapat dibiaskan, yakni dengan mengubah (modifikasi) petunjuk-petunjuk perseptual aktual sehingga Anda mempersepsikan sesuatu yang nampaknya tidak mungkin. Hal ini disebut ilusi.

Sebuah ilusi adalah sebuah pengalaman perseptual, dalam hal mana Anda mempersepsikan sebuah gambar yang sangat terbiaskan sedemikian sehingga, dalam realitas, gambar atau pemandangan sebenarnya tersebut tidak pernah ada. Sebuah ilusi diciptakan dengan memanipulasi petunjuk-petunjuk perseptual (perceptual cues) sedemikian sehingga otak Anda tidak lagi secara benar menginterpretasikan ruang, ukuran, dan petunjuk kedalaman.

Sebagai contoh, jika Anda melihat ilustrasi Gambar 7, Anda akan melihat lingkaran-lingkaran kecil bergerak-gerak. Gambar tersebut mengaktifkan sel-sel saraf pendeteksi gerak (motion-detecting neurons) dalam jaras-jaras visual. Pola-pola ilustrasi seperti ini “membodohi” sistem visual untuk melihat gerakan padahal tidak ada gerakan (Ramachandran & Rogers-Ramachandran, 2007). Wilayah persepsi motorik pada otak secara aktual memperlihatkan peningkatan aktivitas ketika orang menggerakkan matanya sementara melihat jenis ilusi ini (Kuriki, dkk., 2008). Namun, jika Anda tidak dapat melihat lingkaran-lingkaran yang bergerak, jangan khawatir. Sejumlah orang dengan penglihatan yang sama normalnya dengan yang melihat lingkaran bergerak tidak melihat gerakan dalam ilustrasi ini. Salah satu ilusi tertua yang pernah dialami orang adalah ilusi bulan (moon illusion), dalam hal mana bulan nampak lebih besar ketika mendekati garis horizon (Ross & Plug, 2002).

Gambar 19. Ilusi bulan

Ruang Ames

Dalam ruang Ames, Anda mempersepsikan orang yang ada di kanan dua kali lebih tinggi daripada orang yang ada di kiri. Kenyataannya adalah orang yang ada di kanan lebih kecil daripada orang yang ada di kiri namun nampak lebih besar karena rancangan ruang Ames (Ames room) (Gambar 20).

Gambar 20. Ruang Ames

Gambar 21. Penjelasan ruang Ames

Ruang Ames, sesuai nama penciptanya, memperlihatkan bahwa persepsi ukuran yang kita miliki dapat dibiaskan dengan mengubah petunjuk-petunjuk kedalaman. Alasan mengapa orang yang ada di kanan nampak dua kali lebih besar daripada orang yang ada di kiri adalah karena Anda melihatnya dari sebuah lubang pengintip yang tetap. Untuk mengetahui bagaimana ruang Ames mengubah petunjuk-petunjuk kedalaman yang Anda miliki, lihatlah diagram ruang Ames pada Gambar 21. Apabila Anda melihat ruang Ames dari sebuah ruang pengintip (viewing point), ruang tersebut nampak sebagai segi empat dan sesuai dengan pengalaman Anda dengan ruang-ruang lain yang biasanya bersegi empat. Namun demikian, ruang Ames, sebagaimana nampak dalam gambar, memiliki bentuk yang tidak lazim. Sudut kiri dua kali lebih jauh dari lubang pengintip ketimbang sudut kanan. Ini berarti bahwa secara aktual orang yang ada di kiri dua kali lebih jauh dari Anda ketimbang orang yang ada di kanan. Namun demikian, bentuk yang tidak lazim dari ruang Ames membuat Anda berpikir bahwa Anda melihat kedua orang tersebut dari jarak yang sama. Ilusi ini membuat Anda melihat orang di kiri yang lebih jauh jaraknya itu adalah lebih pendek daripada orang yang ada di kanan.

Ilusi Ponzo

Pada Gambar 22, garis putih tebal di atas nampak lebih panjang daripada garis putih di bawah. Namun demikian, apabila Anda mengukur kedua garis pekat tersebut, Anda akan menemukan bahwa keduanya sama panjangnya. Ini adalah ilusi Ponzo. Anda mempersepsikan garis di atas lebih jauh, dan Anda belajar dari pengalaman bahwa apabila dua objek nampak sama ukurannya, namun yang satu jaraknya lebih jauh, maka objek yang lebih jauh itu harus lebih besar, maka garis di atas nampak lebih panjang.

Gambar 22. Ilusi Ponzo

Ilusi Müller-Lyer

Lihatlah Gambar 23. Panah kiri nampak lebih pendek ketimbang panah di kanan. Namun demikian, apabila Anda mengukurnya, Anda akan membuktikan bahwa kedua panah memiliki panjang yang sama. Salah satu penjelasan atas ilusi ini adalah bahwa Anda belajar dari pengalaman dengan petunjuk-petunjuk sudut ruang. Anda belajar bahwa apabila sudut sebuah ruang seperti pada gambar kiri, maka sudut itu jaraknya lebih dekat dengan Anda. Pengalaman ini membiaskan persepsi Anda sedemikian sehingga panah di kiri lebih pendek daripada panah di kanan. Sebaliknya, Anda belajar bahwa jika sudut ruang seperti pada gambar di kanan, jaraknya lebih jauh dari Anda. Pengalaman ini membuat Anda mempersepsikan panah di kanan lebih panjang (Goldstein, 2010).

Gambar 23. Ilusi Müller-Lyer

Pembelajaran Dari Ilusi

Pada sebagian besar waktu, Anda mempersepsikan dunia secara akurat dengan menggunakan serangkaian petunjuk perseptual untuk ukuran, bentuk, dan kedalaman, yang sudah terbukti dan terandalkan. Namun demikian, ilusi mengajarkan kita bahwa ketika petunjuk-petunjuk perseptual tersebut diubah atau dimanipulasi, proses-proses perseptual yang kita anggap reliabel ini dapat ditipu, dan kita melihat sesuatu yang tidak riil (ilusi). Ilusi juga mengajarkan kita bahwa persepsi merupakan sebuah proses yang sangat aktif, dalam mana kita secara berkesinambungan mengandalkan dan menerapkan pengalaman kita sebelumnya bersama objek-objek ketika kita mempersepsikan objek atau situasi baru.

Penelitian Mengenai Jenis-jenis Memori dan Lupa

Memori memiliki banyak bentuk. James (1890) berdasarkan introspeksinya menemukan adanya dua jenis memori yang berbeda, yakni memori primer (primary memory / PM) dan memori sekunder (secondary memory / SM). James mengapresiasi hubungan yang rumit antara memori dan atensi. Ia menyadari bahwa PM bersifat tidak stabil dan akan cepat berlalu kecuali apabila ditangkap oleh atensi. James juga membedakan antara sejumlah kecil informasi yang mudah berlalu yang dapat secara sadar disimpan dalam mind dalam PM, dan sejumlah besar pengetahuan stabil yang dapat disimpan dalam SM. Dewasa ini kita merujuk PM dan SM sebagai memori jangka pendek (short-term memory / STM) dan memori jangka panjang (long-term memory / LTM). STM sekarang disebut juga sebagai “memori kerja” (working memory / WM; Baddeley & Hitch, 1974). Dalam model dari Anderson (1983), LTM dibedakan lagi antara memori prosedural dan memori deklaratif, sebagaimana telah diungkapkan pada bagian sebelumnya di atas.

Dewasa ini telah diketahui melalui penelitian bahwa memori memiliki basis biologis. Memori jangka pendek dan panjang terletak pada korteks, memori emosional terletak pada amigdala; sedangkan hipokamus otak mentransfer kata-kata, fakta-fakta, dan peristiwa pribadi dari memori deklaratif (bukan memori prosedural) jangka pendek ke memori jangka panjang (Plotnik & Kouyoumdjian, 2011).

Miller (1956) pernah menyajikan makalahnya, “Angka Ajaib Tujuh, Tambah atau Kurang Dua” (7 ± 2) (The Magic Number Seven, Plus or Minus Two). Angka “ajaib” ini merupakan jumlah potongan (chunk) informasi secara rata-rata yang dapat diingat pada satu waktu. Angka ini merepresentasikan kapasitas memori jangka pendek untuk informasi yang sedang aktif, sekaligus menunjukkan bahwa ada batas ingatan terhadap informasi dalam memori jangka pendek. Miller menunjukkan bahwa kapasitas ingatan kita tidak dibatasi oleh jumlah informasi, melainkan oleh jumlah potongan informasi. Setiap kata (word) tersusun atas sejumlah huruf (letter), dan huruf-huruf tersebut dapat dikelompokkan menjadi satu potongan informasi yang bermakna. Broadbent (1958) menyatakan bahwa memori untuk periode lebih dari beberapa detik ditangani oleh kombinasi dari sistem kapasitas terbatas dan penyimpanan memori penyangga (buffer memory store), yang mengikat informasi hanya untuk jangka waktu yang sangat singkat. Informasi yang diberikan melalui sistem kapasitas terbatas dapat diumpan-balik ke penyangga, dan didaur ulang secara tak terbatas. Broadbent (1971) menjelaskan bahwa dalam resirkulasi, atau rehearsal butir-butir dalam ingatan ini, seperti misalnya jika Anda sedang mengingat sebuah nomor telepon, dan seseorang menanyai Anda sebuah pertanyaan, Anda harus entah terus mengingat nomor telepon tersebut atau Anda harus mengabaikan pertanyaan tersebut. Jadi jenis memori ini disimpan sebagai kode verbal dan sangat rentan terhadap interupsi. Untuk menjadi sebuah ingatan yang bertahan, maka diperlukan kode lain yang berbeda yang kurang rentan. Broadbent (1971, h. 235) menyatakan bahwa, “Secara bertahap, ada transfer informasi dari tipe penyimpanan yang bersifat resirkulasi menjadi penyimpanan yang lebih permanen. Sepanjang periode pengulangan (rehearsal), orang tidak mampu mengatasi tugas-tugas lain”. Hal ini menunjukkan hubungan yang dekat antara atensi dan memori dalam sistem kapasitas terbatas. Jika atensi diarahkan kepada materi, dan diulang-ulang (rehearsed), maka materi tersebut tetap tinggal dalam kesadaran terjaga. Namun demikian, apabila atensi dialihkan (diverted), maka informasi tentang materi tersebut akan hilang, kecuali telah terdapat pengulangan (rehearsal) yang cukup sedemikian sehingga materi tersebut mengalami pengkodean ulang tersimpan dalam memori jangka panjang. Ketika materi sudah berada dalam memori jangka panjang, atensi tidak lagi diperlukan guna memelihara informasi dalam kesadaran terjaga.

Sebagaimana Broadbent (1958), Atkinson dan Shiffrin (1968) meyakini bahwa pengulangan (rehearsal) penting bagi pembelajaran jangka panjang. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa rehearsal mentransfer butir-butir dari sistem kapasitas yang sangat terbatas ke penyimpanan yang lebih tahan lama, serta bahwa apabila rehearsal dicegah, butir-butir secara cepat terlupakan. Atkinson dan Shiffrin (1968) mengajukan sebuah model memori manusia dan proses kontrolnya, sebagaimana nampak dalam Gambar 23.

Gambar 23. Model memori dari Atkinson dan Shiffrin

Tes recall (misalnya, menyajikan seseorang dengan wajah-wajah, dan orang tersebut diminta untuk mengingat siapa nama-nama dari masing-masing wajah, tanpa petunjuk yang lain) biasanya menghasilkan kinerja memori yang lebih buruk daripada tes recognition (misalnya, orang diminta memasangkan nama-nama dengan wajah-wajah yang sudah tersedia). Sebagai contoh, mahasiswa menunjukkan ingatan yang lebih baik pada tes rekognisi (pilihan ganda) daripada tes recall (esai atau isian singkat). Penelitian juga menunjukkan bahwa ingatan (memori) sebagian berkaitan dengan seberapa akrab (familiar) atau menarik informasi bagi orang tersebut. Namun demikian, lupa (forgetting) dapat terjadi dan memiliki banyak sebab.

Apabila Anda diminta untuk mendeskripsikan apa yang terjadi sepanjang hari ini, maka Anda mungkin dapat secara akurat me-recall banyak peristiwa pribadi, percakapan, dan sebagainya. Namun demikian, meskipun Anda belajar berjam-jam, banyak hal yang nampaknya dapat Anda lupakan ketika Anda menempuh sebuah ujian. Lupa merupakan ketidakmampuan untuk menemukembali (retrieve), memanggil kembali (recall), atau mengenali (recognition) informasi yang tersimpan atau masih tersimpan dalam memori jangka panjang. Ada beragam sebab lupa.

Sebab lupa yang pertama adalah represi. Menurut Freud, represi adalah sebuah proses mental yang secara otomatis menyembunyikan dalam ketidaksadaran informasi yang mengancam secara emosional atau informasi yang menghasilkan kecemasan. Memori yang ditekan (direpresikan) tidak dapat dipanggil secara sengaja (volunter), namun sesuatu dapat menyebabkannya untuk memasuki kesadaran pada waktu yang lain.

Sebab lupa yang kedua adalah petunjuk temukembali yang buruk atau pengkodean yang buruk. Mempelajari sebuah bahan ujian dengan cara mengingat sebanyak-banyaknya (cramming) atau menghafal tanpa diolah/dipikir (rote memory) dapat mengakibatkan lupa, karena teknik ini menghasilkan petunjuk temukembali yang buruk dan pengkodean atau penyimpanan yang buruk. Petunjuk-petunjuk temukembali (retrieval cues) adalah pengingat-pengingat mental yang kita ciptakan dengan membentuk citra mental yang hidup atau menciptakan asosiasi antara informasi baru dengan informasi lama yang telah kita ketahui sebelumnya. Apabila Anda pernah mendengar tentang kursus-kursus memori yang mengklaim dapat meningkatkan secara luar bias ingatan Anda, biasanya yang diajarkan dalam kursus tersebut adalah metode mnemonik (baca: ni-mon-ick). Metode mnemonik merupakan cara-cara untuk meningkatkan pengkodean dan menciptakan petunjuk-petunjuk temu kembali dengan cara membentuk asosiasi-asosiasi yang hidup (vivid) yang meningkatkan pemanggilan kembali. Salah satu metode mnemonik adalah metode loci (baca: low-sigh). Metode loci (loci dalam bahasa latin berarti “tempat”) merupakan teknik pengkodean atau penyandian yang menciptakan asosiasi visual antar informasi yang telah kita ingat/pelajari sebelumnya dengan informasi baru yang akan kita ingat. Sebagai contoh, kita hendak mengingat nama-nama para psikolog awal, yakni Wündt, James, dan Watson. Maka, langkah pertamanya adalah mengingat urutan tempat di rumah Anda secara visual. Pilihlah tempat-tempat yang mudah diingat. Langkah kedua adalah menciptakan asosiasi yang hidup bagi setiap butir yang diingat. Misalnya, bayangkanlah gambar Wündt bergantungan pada puncak rumah Anda dan mengatakan “Saya mau lompat bersama James dan Watson dari wuwungan (bahasa Jawa: bubungan, puncak rumah)”. Langkah ketiga, setelah Anda menciptakan asosiasi yang hidup tersebut, Anda harus secara mental meletakkan setiap psikolog pada salah satu tempat yang Anda pilih. Misalnya, Wündt di wastafel, James di dekat jam dinding, Watson di dekat lampu terang ber-watt tinggi.

Banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa hal yang penting bukanlah seberapa lama ia belajar melainkan seberapa baik ia belajar. Belajar yang efektif tidak hanya mengingat (memorizing) namun juga menciptakan petunjuk-petunjuk temukembali yang baik. Petunjuk yang paling baik, yang menjamin pengkodean (encoding) yang juga baik, adalah menciptakan hubungan antara informasi baru dengan informasi yang pernah dipelajari. Sebagai contoh, ketimbang hanya mencoba mengingat bahwa hipokampus terlibat dalam memori, cobalah buat asosiasi baru, seperti misalnya seekor binatang Afrika, hippo, mengingat-ingat jalannya di sekitar kampus Anda.

Penyebab lupa yang ketiga adalah interferensi. Apabila Anda mempelajari sejumlah bahan untuk ujian dua mata kuliah yang akan berlangsung pada hari yang sama, sangat mungkin Anda mencampuradukkan dan melupakan sejumlah materi karena interferensi. Interferensi terjadi bilamana pemanggilan (recall) sejumlah ingatan tertentu dihambat atau dicegah oleh ingatan lain yang berkaitan. Sebagai contoh, jika Anda belajar untuk ujian psikologi sosial dan sosiologi pada waktu yang sama, Anda mungkin menemukan bahwa sejumlah materi mengenai tingkah laku sosial dalam psikologi sosial serupa namun tidak sama dengan materi dalam sosiologi. Campuran materi ini akan menyebabkan interferensi dan lupa. Ada dua jenis interferensi, yakni interferensi proaktif dan interferensi retroaktif. Pada interferensi proaktif, informasi lama (yang dipelajari lebih awal) mem-blok atau merusak ingatan informasi baru (yang dipelajari lebih belakangan). Sebaliknya pada interferensi retroaktif, informasi yang baru (yang dipelajari belakangan) menghambat atau merusak temukembali informasi lama yang berkaitan (yang dipelajari lebih dini).

Penelitian juga menunjukkan bahwa kultur mempengaruhi penyandian dan pemanggilan informasi. Kearins (1981) menemukan bahwa orang-orang Aborigin menunjukkan kinerja yang lebih baik pada tugas-tugas visual karena terbiasa menggunakan petunjuk-petunjuk visual, sedangkan orang Australia berkulit putih biasa menggunakan petunjuk-petunjuk verbal. Hal ini dapat ditelusuri dalam tinjauan evolusi dan kebudayaan.

Sebab lupa yang keempat adalah amnesia. Amnesia, yang dapat terjadi secara temporer (sementara) atau selamanya (permanen), merupakan kehilangan ingatan setelah terjadinya benturan atau kerusakan otak atau setelah sebuah penyakit (misalnya, Alzheimer), anestesi umum, obat-obatan tertentu, atau trauma psikologis yang berat. Dalam hal amnesia yang disebabkan oleh benturan, otak terbentur pada tulang tengkorak yang keras, sehingga mengganggu jejaring komunikasi sel-sel saraf.

Sebab kelima dari lupa adalah distorsi (bias). Lupa dapat disebabkan oleh bias atau sugestibilitas (Bower, 2005; Schacter, 2001). Misalnya, bias salah ingat (misremember) terjadi ketika pasangan yang bercerai mengingat kebanyakan waktu buruk yang mereka lalui, bukan waktu yang baik (Bahrick, Hall, & Berger, 1996). Sugestibilitas terjadi ketika korban kejahatan salah mengenali atau mengidentifikasi pelaku kejahatan, dalam hal mana kekeliruan mereka itu belakangan diklarifikasi dengan bukti DNA pelaku (Zernike, 2006). Dalam hal bias dan sugestibilitas ini, kita sendiri seringkali tidak menyadari distorsi memori yang kita alami.

Written by

Psikolog Sosial Indonesia \ Peneliti Psikoinformatika dan Psikologi Korupsi \ Sains Terbuka \ Blog: juneman.me

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store