Kehidupan sebagai Penerjemah (9): Kepribadian

Pada 2011, saya menerjemahkan sejumlah karya yang saya pilih dalam bidang psikologi, semata-mata untuk memperkaya materi kuliah Psikologi Umum bagi mahasiswa di fakultas psikologi. Terjemahan ini tidak dimaksudkan pertama-tama untuk dikutip. Kendati demikian, apabila hendak dikutip juga, Anda dapat menerakan hal sebagai berikut di dalam Daftar Pustaka Anda:

Haslam, N. (2007). Introduction to personality and intelligence — Sage foundations of psychology series (Penerjemah/Translator: Juneman Abraham). London, UK: SAGE Publications, Inc.

Seorang Ibu menggendong ke samping anaknya yang sangat kecil, kemudian menatap matanya, dan mengatakan kepada anak itu, “Nak, kamu sangat buruk rupa, kamu tidak cerdas, kamu tidak punya kepribadian, dan kamu mungkin tidak akan pernah memiliki banyak teman. Ibu pikir ibu harus mengatakan ini padamu sewaktu kamu masih sangat belia, sehingga kamu tidak mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistis untuk masa depan.

Perkataan ibu ini membangkitkan sejumlah pertanyaan. Kerugian apa yang diderita oleh anak laki-laki tersebut oleh karena pernyataan ibunya? Apakah anak tersebut akan tumbuh menjadi seorang alkoholik, seorang pembunuh berdarah dingin, atau seorang dokter gigi? Jenis ibu apa yang akan mengatakan hal seperti itu kepada anaknya? Apakah cerita ini sungguhan terjadi ataukah rekaan seseorang? Namun demikian, ada satu pertanyaan yang mungkin memunculkan pertanyaan besar: Apa yang dimaksud dengan “tidak punya kepribadian?” Atau, bila kita balik pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan “memiliki kepribadian”?

Konsep Kepribadian

Menurut sejarahnya, kata “kepribadian” (personality) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada abad ke-14. Arti kata ini adalah kualitas menjadi seorang manusia (quality of being a person), yang dibedakan dari binatang maupun benda mati (inanimate). Kepribadian merujuk pada kapasitas (seperti kesadaran dan pikiran rasional) yang diyakini memberikan manusia sebuah tempat khusus dalam penciptaan (Williams, 1976). Dalam penjelasan teologis ini, kepribadian merujuk pada kemanusiaan (humanitas) dari semua manusia.

Selanjutnya, kepribadian bergeser maknanya sebagai karakteristik-karakteristik yang memberikan kepada setiap orang individualitas. Kepribadian berfokus pada individu manusia, person. Menariknya, kata “person” aslinya tidak merujuk pada individu sebagaimana yang kita maksudkan sekarang. Kata “person”, masuk melalui bahasa Perancis, berasal dari kata Latin “persona”, yang merujuk pada topeng yang digunakan oleh seorang aktor untuk mempersonifikasikan (memainkan peran) karakter tentu. Dalam pengertian teaterikal ini, kepribadian berurusan dengan peran atau karakter yang dimainkan seseorang dalam sebuah drama kehidupan. Individualitas seseorang adalah persoalan peran atau karakter yang diandaikan oleh tiap-tiap orang.

Lebih lanjut, “kepribadian” memiliki makna yang lebih spesifik. Kepribadian tidak merujuk pada semua jenis individualitas, namun merujuk pada antusiasme atau karisma. Orang-orang yang memiliki kualitas ini dalam jumlah yang banyak dikatakan memiliki lebih banyak kepribadian. Buku-buku pengembangan diri memberikan arahan untuk memperoleh sebanyak mungkin kepribadian jenis ini. Barangkali, dalam konteks inilah anak di atas tadi dikatakan “tidak punya kepribadian”. Hal ini juga menjelaskan mengapa selebritis atau ikon publik secara umum (dalam bahasa Inggris) disebut sebagai “personality”, seperti dalam kalimat, “Oprah Winfrey is a popular TV personality”.

Jadi, kepribadian memiliki sejumlah makna yang berbeda: kemanusiaan, individualitas, dan karisma personal. Semua ini merupakan makna-makna yang dipahami oleh orang awam dan digunakan dalam perbincangan sehari-hari.

“Kepribadian” Dalam Psikologi

Apabila Anda menanyai sepuluh ahli psikologi kepribadian, Anda mungkin akan memperoleh sepuluh rumusan “kepribadian” yang berbeda. Kepribadian merupakan konsep yang sulit diberikan sebuah definisi sederhananya. Namun demikian, di antara semua definisi tersebut, para ahli psikologi sepakat bahwa kepribadian secara mendasar merupakan persoalan individualitas manusia (human individuality), atau “perbedaan individual” (individual differences). Namun demikian, penjelasan tersebut perlu ditambahkan, sebab kenyataannya tidak semua perbedaan antar orang merupakan perbedaan kepribadian. Orang-orang berbeda dalam atribut-atribut fisik, usia, kebangsaan, jenis kelamin. Semua perbedaan ini bukan mengenai kepribadian. Tentu saja perbedaan-perbedaan ini dalam satu dan lain hal berkaitan dengan kepribadian, namun perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah perbedaan kepribadian itu sendiri. Kita seringkali mendengar iklan atau praktisi pemasaran bahwa “Laki-laki berasal dari Mars dan Perempuan berasal dari Venus”; bahwa laki-laki agresif dan dominan, sedangkan perempuan penuh cinta dan mengasuh. Bahkan meskipun stereotip sederhana yang dipropagandakan ini benar, jenis kelamin biologis bukanlah sebuah karakteristik kepribadian. Jadi, kita harus lekas menentukan definisi kita sehingga kepribadian merujuk hanya pada perbedaan psikologis antar orang, perbedaan yang menyangkut pikiran, emosi, motivasi, dan tingkah laku.

Namun demikian, definisi di atas juga tidak cukup memadai menurut kebanyakan ahli psikologi. Secara tradisional, para psikolog menganggap perbedaan psikologis tertentu antar orang berada di luar dunia kepribadian, lebih khususnya perbedaan yang melibatkan kecerdasan kognitif. Selama bertahun-tahun, peneliti dan teoris psikologis telah mencoba untuk memahami dan mengukur kapabilitas intelektual seseorang, yaitu perbedaan individual yang memprediksi keberhasilan kinerja dalam ragam tugas, dan secara khusus yang melibatkan sekolah formal. Dengan demikian, apabila kita sepakat untuk menyingkirkan perbedaan kecerdasan kognitif dari kepribadian, maka definisi kepribadian menjadi perbedaan psikologis non-intelektual antar orang.

Pembedaan antara perbedaan intelektual dan non-intelektual ini mungkin tidak mudah dipahami oleh Anda, namun Anda bukan satu-satunya orang yang kebingungan pada awalnya. Banyak psikolog yang menggunakan kedua konsep tersebut secara bertukaran. Sebagai contoh, “kreativitas” merupakan konsep intelektual ataukah non-intelektual? Nampaknya kreativitas sebagian merupakan persoalan kemampuan mental, dan sebagian lagi merupakan kualitas non-intelektual (seperti keterbukaan terhadap pengalaman baru, keluwesan mental, dan dorongan). Di samping itu, sejumlah psikolog berpendapat bahwa perbedaan kepribadian tertentu, yakni perbedaan yang tidak melibatkan kompetensi dalam tugas kognitif tertentu, dapat pula berkembang untuk dipahami sebagai kemampuan atau kecerdasan. Sebagai contoh, sejumlah psikolog akhir-akhir ini mengajukan konsep kecerdasan interpersonal dan kecerdasan emosional. Namun, meskipun batas antara ranah intelektual dan non-intelektual bersifat samar-samar dan lentur (permeable), batas ini merupakan batas yang disepakati oleh kebanyakan psikolog untuk dipertimbangkan secara serius.

Dengan demikian, apakah kita sekarang boleh membuat sebuah definisi kerja tentang kepribadian sebagai perbedaan psikologis non-intelektual antar orang? Sayang sekali, tidak. Ambil contoh konsep mengenai emosi dan suasana hati (mood). Emosi dan suasana hati merupakan kondisi mind yang bersifat non-intelektual, namun individu-individu berbeda setiap saat dalam hal emosi dan suasana hati. Apakah dengan demikian emosi dan suasana hati merupakan aspek dari kepribadian? Para ahli psikologi menyatakan bahwa keduanya bukan kepribadian, karena emosi dan suasana hati merujuk pada keadaan yang mudah bergerak (fleeting states) ketimbang karakteristik yang bertahan (enduring characteristics) dari seseorang. Hanya karakteristik-karakteristik yang memiliki tingkat stabilitas dan konsistensi tertentu sajalah (atau, dengan perkataan lain, karakteristik-karakteristik yang dapat dipikirkan sebagai disposisi yang bertahan dari seseorang) yang dapat dipandang sebagai aspek-aspek kepribadian. Sekali lagi, keadaan emosional orang dapat mencerminkan disposisi emosional yang bertahan (misalnya, Anda mungkin adalah seorang yang mudah marah). Namun keadaan emosional itu dapat berkaitan dengan kepribadian dalam satu hal (misalnya, Anda mungkin marah sekarang karena Anda adalah jenis orang yang cepat bertindak ofensif/menyerang). Namun demikian, keadaan-keadaan emosional terlalu singkat jangka hidupnya untuk dipertimbangkan sebagai aspek-aspek kepribadian itu sendiri.

Persoalan terkait muncul berkenaan dengan karakteristik-karakteristik psikologis seperti sikap/attitudes (misalnya, setuju atau melawan pembatasan remisi koruptor), keyakinan/beliefs (misalnya, apakah Tuhan ada ataukah tidak), selera/tastes (misalnya, lebih suka Iwan Fals ataukah Ananda Sukarlan), dan kebiasaan (misalnya, pergi tidur lebih awal atau lebih terlambat). Semua karakteristik ini, tidak seperti emosi dan suasana hati, dalam beberapa hal sekurang-kurangnya bersifat stabil sepanjang waktu, dan jelas mencerminkan perbedaan non-intelektual antar orang. Namun demikian, para ahli psikologi biasanya masih tidak menganggapnya sebagai komponen sejati dari kepribadian. Alasannya adalah karena sikap, keyakinan, selera, dan kebiasaan secara normal cukup terbatas pada relevansi psikologisnya. Sikap dan keyakinan senantiasa menyangkut proposisi tertentu, selera menyangkut pengalaman spesifik, dan kebiasaan menyangkut tindakan spesifik. Sebaliknya, karakteristik-karakteristik kepribadian memiliki relevansi yang relatif luas. Karakteristik-karakteristik ini merujuk pada pola-pola umum dari fungsi psikologis. Sebagai contoh, orang-orang dikatakan memiliki kepribadian “otoritarian” apabila, di samping karena sentimen anti-imigrasi spesifik mereka, mereka memiliki beragam sikap yang berprasangka, represif, dan sangat konvensional. Serupa dengan hal tersebut, orang yang pergi tidur terlambat dapat dikatakan “ambisius” apabila kebiasaan ini merupakan bagian dari sebuah pola yang lebih besar, yakni kerja keras dan perjuangan kompetitif; atau “ekstrover dan pencari rangsangan (sensation seeking)” apabila merupakan bagian dari sebuah pola tukang pesta yang membabi buta.

Jadi, pemahaman mengenai kepribadian cukup kompleks, bukan sekadar “perbedaan individual”. Berdasarkan perspektif psikologi kepribadian, kepribadian merujuk pada perbedaan individual yang (1) bersifat psikologis, (2) di luar ranah intelektual, (3) merupakan disposisi yang bertahan ketimbang keadaan transisi/sementara, dan (4) membentuk pola-pola yang relatif luas atau umum. Secara skematik, lihatlah Gambar 37.

Gambar 37. Perbedaan individual dan kepribadian

Apakah definisi di atas sudah memuaskan? Cukup memuaskan. Namun demikian, kita perlu menambahkan satu lagi hal yang penting. Sejumlah psikolog berpendapat bahwa definisi kepribadian hendaknya tidak hanya merujuk pada perbedaan individual dalam disposisi, namun juga merujuk pada mekanisme psikologis yang mendasari serta proses-proses yang membangkitkannya. Jadi, kepribadian seseorang tidak hanya sekadar serangkaian karakteristik yang dimilikinya, tetapi juga serangkaian dinamika yang bertanggung jawab bagi karakteristik-karakteristik ini. Apabila kita sepakat dengan definisi ini, maka definisi kepribadian Funder (1997, h. 1–2) nampaknya saat ini merupakan definisi yang paling memadai. Ia mendefinisikan kepribadian sebagai:

an individual’s characteristic pattern of thought, emotion, and behavior, together with the psychological mechanisms — hidden or not — behind those patterns.”

Meskipun kepribadian hanya merupakan subset/bagian dari perbedaan antar orang, namun aspek-aspeknya memegang peran penting. Apabila Anda diminta untuk mendeskripsikan diri Anda, Anda mungkin menyebutkan banyak atribut yang bukan merupakan aspek dari kepribadian Anda, misalnya kelompok keanggotaan Anda (misalnya, kelompok nasional, etnis, jender, usia) dan deskripsi-deskripsi fisik; namun Anda hampir pasti menyebutkan sejumlah karakteristik kepribadian. Di samping itu, hampir jarang Anda akan menyebutkan banyak karakteristik psikologis yang telah kita singkirkan dari definisi kepribadian, seperti kondisi suasana hari saat ini, sikap-sikap spesifik, atau kebiasaan-kebiasaan tertentu. Bayangkanlah apa yang Anda rasakan apabila seseorang yang Anda minta untuk mendeskripsikan dirinya menyatakan bahwa ia “merasa khawatir, berpikir bahwa Agnes Monica merupakan penyanyi yang bagus, dan membersihkan gigi lima hari sehari”. Anda mungkin akan berpikir bahwa orang tersebut tidak sedang sungguh-sungguh menjawab pertanyaan Anda secara tepat. Ia tidak sungguh-sungguh memberikan Anda sebuah perasaan (sense) mengenai “siapa dirinya sebagai seorang pribadi (person)”. Ia hanya merujuk pada rincian insidental dari kehidupannya.

Inilah poin pentingnya. Alasan mengapa karakteristik kepribadian yang telah kita definisikan secara khusus merupakan hal yang signifikan adalah karena karakteristik-karakteristik tersebut nampak sentral bagi siapa kita sebagai pribadi, ketimbang semata-mata merupakan rincian minor atau insidental. Alasan ini bukanlah sebuah misteri besar. Karakteristik-karakteristik yang bukan merupakan disposisi yang bertahan tidaklah sangat informatif mengenai siapa diri kita sebagai pribadi yang bertahan melalui waktu. Kondisi psikologis temporer/sementara tidaklah mencerminkan siapa kita secara normal, melainkan lebih merupakan “make-up” kita ketimbang mencerminkan koherensi antara tingkah laku dengan identitas kita. Bahkan meskipun kita memikirkan diri kita dalam sebuah daftar sikap-sikap, selera-selera, keyakinan-keyakinan spesifik, dan sejenisnya, maka daftar ini akan menjadi panjang dan tak berbentuk, yang tidak akan menandakan dengan baik siapa diri kita sebagai individu. Itulah sebabnya mengapa kita cenderung mendefinisikan diri kita dalam kaitannya dengan pola-pola berpikir, merasa, dan berperilaku yang lebih luas; atau, ringkasnya, karakteristik-karakteristik kepribadian. Bahkan pembedaan antara perbedaan intelektual dan non-intelektual juga relevan bagi perasaan kita akan diri kita (sense of self). Orang cenderung mendefinisikan diri mereka lebih banyak dalam karakteristik kepribadian (non-intelektual) ketimbang dalam ranah kemampuan kognitif yang relatif sempit (meskipun tentu saja sebagian besar dari kita berpikir bahwa diri kita “inteligen/cerdas”).

Jadi, kepribadian merupakan ranah perbedaan individual yang secara khusus penting, bahkan meskipun nampaknya definisi kita mengenai kepribadian telah menyempit. Penting, karena kepribadian meliputi sejumlah karakteristik psikologis yang paling informatif mengenai siapa diri kita sebagai individu; individu yang perilakunya koheren, berpola, dan diatur oleh perasan stabil (stable sense) akan diri atau identitas pribadi.

Konsep-konsep Terkait

Dua buah konsep yang maknanya berdekatan dengan kepribadian adalah “temperamen” dan “karakter”. Dalam bahasa sehari-hari, peristilahan ini seringkali digunakan secara bergantian dengan “kepribadian”. Namun demikian, dalam psikologi, ketiganya memiliki makna yang berbeda. Temperamen merujuk pada aspek-aspek individualitas psikologis yang ada sejak lahir atau sekurang-kurangnya sejak masa perkembangan kanak-kanak awal, berkaitan dengan ekspresi emosional, dan dianggap memiliki dasar biologis. Ringkasnya, karakteristik-karakteristik temperamental dianggap memiliki dasar dalam proses-proses badaniah.

Di sisi lain, karakter biasanya merujuk pada atribut-atribut pribadi yang relevan dengan tingkah laku moral, penguasaan diri, kekuatan kemauan, dan integritas. Orang-orang yang “berkarakter buruk” memiliki sifat-sifat culas, impulsif, dan pemalas. Sementara karakteristik-karakteristik temperamental secara umum mengasumsikan basis biologis, karakter seringkali diasumsikan merupakan hasil dari pengalaman sosialisasi, aspek-aspek make-up psikologis seseorang yang bergantung pada pembelajaran akan bentuk-bentuk pengendalian diri yang tepat secara sosial dan tingkah laku “prososial”. Kedua asumsi ini sebagiannya benar.

Bagaimanakah temperamen dan karakter berkaitan dengan kepribadian? Meskipun kedua konsep tersebut memiliki makna yang distingtif, para ahli psikologi sekarang cenderung untuk menganggap keduanya sebagai konsep-konsep yang merujuk pada jenis karakteristik kepribadian yang berbeda. Ringkasnya, konsep psikologi tentang kepribadian memuat temperamen dan karakter di dalamnya, serta mengakui bahwa karakteristik kepribadian dapat tumbuh dari pengaruh biologis dan/atau sosial, dari gen dan/atau pengalaman.

Tempat Psikologi Kepribadian Dalam Psikologi

Ada tiga perbedaan penting antara psikologi kepribadian dengan subdisiplin psikologi lainnya (Haslam, 2007). Pertama, psikologi kepribadian seluruhnya adalah mengenai perbedaan antar orang, sementara subdisiplin lainnya secara umum tidak. Kebanyakan ranah studi psikologis menyelidiki hal-hal apa yang dimiliki oleh orang secara umum; mekanisme-mekanisme, proses-proses dan struktur-struktur yang utamanya kita miliki bersama sebagai manusia. Psikolog kognitif menyelidiki bagaimana kita mempersepsi objek; psikolog sosial menyelidiki bagaimana membentuk stereotip; dan psikolog faal menyelidiki bagaimana zat-zat kimiawi otak berhubungan dengan suasana hati kita; dalam hal mana “kita” dalam hal ini merujuk pada orang-orang secara umum. Fokus studi yang dilakukan oleh para psikologi tadi biasanya merupakan pola-pola respons yang bersifat rata-rata (average) yang dimanifestasikan oleh sekelompok partisipan penelitian. Variasi-variasi antar partisipan di sekeliling rata-rata tersebut biasanya diabaikan dan dianggap sebagai sempalan (“kesalahan acak”). Sebaliknya, bagi psikolog kepribadian, variasi-variasi semacam itu merupakan hal yang secara persis paling diminati. Tentu saja, pemahaman mengenai bagaimana kita semua sama sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan pemahaman mengenai bagaimana kita berbeda. Namun, psikologi kepribadian pada dasarnya merupakan satu-satunya subdisiplin dalam psikologi yang berfokus pada hal kedua (bagaimana kita berbeda).

Kedua, ciri distingtif dari psikologi kepribadian adalah bahwa psikologi ini berfokus pada seluruh pribadi sebagai seorang individu yang terintegrasi. Hal ini mungkin kedengaran cukup “halus/samar”, namun hal ini jelas merupakan pembeda yang mengkontraskan psikologi kepribadian dengan ranah psikologi yang lain. Kebanyakan subdisiplin psikologi mempelajari sebuah fungsi atau ranah psikologis spesifik, satu ranah yang menyusun fungsi individu. Fungsi-fungsi dan ranah-ranah ini mencakup persepsi, berpikir, emosi, dan bahasa. Semua ini merupakan aspek-aspek penting dari psikologi manusia, namun dalam hal tertentu aspek-aspek ini bersifat “sub-personal”, dalam arti merujuk pada komponen-komponen yang diintegrasikan kedalam sebuah sistem koheren yang kita sebut “seorang pribadi” (a person). Psikologi kepribadian yang mempelajari individu ketimbang komponen-komponennya adalah lebih luas lingkupnya. Memang, psikologi sosial dan psikologi perkembangan mempelajari orang dalam interaksi sosial dan konteksnya serta perubahannya sepanjang waktu; hal ini membuat psikologi sosial dan psikologi perkembangan nampak berfokus pada keseluruhan manusia. Namun demikian, keduanya biasanya tidak menekankan pada perbedaan-perbedaan individual. Inilah salah satu alasan mengapa psikologi kepribadian, psikologi sosial, dan psikologi perkembangan seringkali dianggap sebagai “psikologi lembut” (“soft psychology”); metode-metodenya dipandang kurang ketat, serta temuan-temuannya dipandang kurang objektif dan reliabel dibandingkan dengan subdisiplin-subdisiplin “psikologi keras” (“hard psychology”). Oleh karena psikologi kepribadian dan subdisiplin-subdisiplinnya berurusan dengan orang dalam semua kompleksitasnya (sebagai ciptaan dengan dimensi-dimensi sosial, kultural, dan biologis), maka psikologi kepribadian menghadapi tantangan ilmiah yang lebih besar ketimbang subdisiplin-subdisiplin lain yang dapat mengisolasi dan mempelajari secara khusus satu bagian dari psike.

Ciri distingtif ketiga dari psikologi kepribadian merupakan ciri yang mengkontraskannya dengan psikologi sosial. Psikologi kepribadian dan psikologi sosial merupakan tetangga yang berdekatan dalam banyak hal. Banyak psikolog mengidentifikasikan diri mereka dengan keduanya, banyak jurnal-jurnal profesional yang didedikasikan bagi pengembangan ilmu keduanya (misalnya, Journal of Personality and Social Psychology / JPSP terbitan American Psychological Association / APA), dan keduanya cenderung berbagi fokus pada keseluruhan pribadi. Namun demikian, sebagaimana telah kita lihat, psikologi kepribadian berfokus pada karakteristik-karakteristik yang bertahan dari seorang pribadi yang konsisten lintas situasi yang berbeda. Sebaliknya, psikologi sosial cenderung memberikan perhatian kepada aspek-aspek pemikiran, perasan, dan perilaku manusia yang berubah sepanjang waktu serta di dalam kondisi-kondisi yang berbeda. Psikolog sosial meminati bagaimana mind dan tingkah laku kita dibentuk oleh konteks-konteks sosial di mana kita terlekat serta interaks-interaksi sosial di mana kita berpartisipasi. Sebagai konsekuensinya, psikolog sosial menekankan hal-hal sejauh mana sikap-sikap, keyakinan-keyakinan, emosi-emosi, dan perilaku-perilaku kita merupakan produk tempaan lingkungan sosial kita. Sedangkan, psikologi kepribadian menekankan hal-hal sejauh mana sikap-sikap, keyakinan-keyakinan, emosi-emosi, dan perilaku kita merupakan atribut-atribut yang stabil (tetap) dari seseorang. Psikolog kepribadian memiliki kecenderungan atau pun bias untuk melihat fenomena psikologis sebagai fenomena yang disebabkan oleh faktor-faktor internal (pengaruh-pengaruh yang bersumber secara intrinsik dari orang tersebut). Psikolog sosial memiliki tendensi untuk melihat fenomena psikologis sebagai fenomena yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal yang berada dalam lingkungan sosial.

Ringkasnya, psikologi kepribadian merupakan ranah studi yang penting dan distingtif dalam lapangan psikologi yang lebih luas. Distingsi atau kekhasannya berada pada fokusnya pada variasi psikologis, fokusnya pada keseluruhan pribadi atau individu sebagai unit analisis, dan fokusnya pada determinan-determinan berpikir, merasa, dan berperilaku yang bersifat intrinsik pribadi.

Riset-riset psikologi kepribadian dapat dibaca dalam jurnal-jurnal berikut ini: European Journal of Personality, Journal of Personality, Journal of Personality and Social Psychology, Journal of Research in Personality, Personality and Individual Differences, Personality and Social Psychology Bulletin, Personality and Social Psychology Review.

Psikologi Sifat (Trait Psychology)

Bagaimana kita mendeskripsikan perbedaan-perbedaan individual yang menyusun kepribadian seseorang? Deskripsi merupakan masalah fundamental dalam ilmu apapun, termasuk psikologi kepribadian. Ilmu kimia memiliki tabel periodik dari unsur-unsur, zoologi memiliki taksonomi spesies biologis, ilmu fisika memiliki klasifikasi partikel-partikel elementer. Sistem-sistem deskripsi ini secara sistematis memaparkan sejumlah hal yang dijumpai dan menjadi objek kerja oleh para ilmuwan ketika menjelaskan fenomena. Mereka mendeskripsikan struktur organisasi dunia dari perspektif ilmu mereka, serta menyajikan unit-unit analisis bagi kerja-kerja teoretik dan empiris. Jadi, bagaimana kita mendeskripsikan struktur kepribadian, dan apa sajakah unit-unit deskripsinya yang tepat?

Banyak psikolog berpikir bahwa unit terbaik untuk mendeskripsikan kepribadian adalah sifat (trait). Jadi, struktur kepribadian merupakan organisasi dari sifat-sifat. Pada satu tingkat, konsep sifat itu sederhana. Sifat merupakan bentuk karakteristik berperilaku, berpikir, atau merasa, seperti “bersahabat” (friendly), “kaku” (rigid), “cemas” (anxious). Namun pada tingkat situasi yang lain, sifat lebih kompleks, dan sejumlah aspek penting dari sifat harus disebutkan, yakni:

● Sebuah trait harus merupakan karakteristik yang relatif bertahan dari seseorang, bukan kondisi sementara. Perkataan “relatif” bermakna bahwa trait dapat berubah, namun perubahannya tidak secara cepat atau ricuh/kaotik. Trait cenderung merupakan atribut stabil seseorang.

Trait merepresentasikan pola berperilaku, berpikir, dan merasa yang relatif konsisten atas ragam situasi. Apabila seseorang berperilaku sangat berbeda dalam situasi-situasi serupa/sejenis (misalnya, sangat santai dan terbuka dalam sebuah situasi, namun sangat berhati-hati dan malu dalam situasi lain), kita hendaknya tidak mengatribusikan sebuah trait kepadanya. Perkataan “relatif” ini penting karena trait tidak terkait dengan konsistensi situasional yang bersifat total dalam perilaku seseorang. Orang tidak perlu malu dalam semua situasi sosial guna kita sebut orang tersebut sebagai pemalu.

Trait merupakan cara dengan mana orang berbeda dari orang lain. Trait merupakan variabel yang dimanifestasikan dalam tingkatan yang berbeda pada individu-individu yang berbeda. Guna mempermudah penjelasan, kita boleh mengatakan bahwa seseorang entah memiliki trait tertentu atau tidak memiliki trait tertentu. Namun para psikolog secara umum mengasumsikan bahwa orang-orang berbeda dalam hal derajat/tingkat dari trait. Orang dapat memiliki tingkat kemaluan (shyness) yang lebih besar atau lebih kecil. Prinsipnya, derajat/tingkat ini dapat dikuantifikasikan.

Trait merupakan disposisi-disposisi. Artinya, trait paling baik dipikirkan sebagai tendensi/kecenderungan probabilistik bahwa seseorang pasti bertindak dalam sebuah cara tertentu dalam sebuah situasi tertentu. Sebagai contoh, kucing memiliki disposisi untuk mengeong dan menggaruk, namun hanya akan mengekspresikan disposisi ini dalam situasi tertentu. Namun, dalam situasi tertentu tersebut kucing mungkin juga tidak selalu melakukannya. Sebagai konsekuensinya, sebuah trait boleh jadi tetap tidak terekspresikan dan tidak terobservasi.

Traits bervariasi dalam keumuman (generalitas)-nya. Sejumlah trait hanya berlaku pada ranah-ranah kehidupan seseorang yang sempit jangkauannya, dan sejumlah lainnya relevan terhadap proporsi yang sangat besar dari aktivitas orang tersebut sehari-hari. Kita dapat berbicara mengenai hierarki sifat. Dalam hierarki ini, sejumlah relatif traits berhubungan dengan sejumlah kecil perilaku yang berada di bawah traits yang lebih luas. Sebagai contoh, pemalu (shame-proneness) dapat dianggap sebagai satu komponen dari trait yang lebih umum, yakni “emosionalitas negatif”, disposisi untuk mengalami keadaan emosional yang tidak menyenangkan. Hierarki tersebut dapat memiliki beberapa tingkat. Perilaku atau kebiasaan tertentu berada pada tingkat bawah. Misalnya, menempatkan iklan pribadi yang berbau cabul merupakan sebuah perilaku yang dapat mencerminkan sebuah trait yang sempit jangkauannya, yakni pencarian sensasi seksual. Trait ini merupakan suatu komponen dari trait pada tingkat medium, yakni pencarian sensasi. Trait ini merupakan satu komponen dari trait tingkat tinggi, yakni ekstraversi.

Pada 1936, Allport dan Odbert mendefinisikan batas-batas dari himpunan sifat dengan mengumpulkan sebuah daftar yang besar tentang deskriptor-deskriptor kepribadian (John, 1990). Mereka membuat sebuah kamus sifat yang berisi kira-kira 4.500 lema dalam bahasa Inggris mengenai sifat-sifat yang dianggap berbeda. Tentu saja, ada tumpang tindih makna di antara sifat-sifat tersebut, misalnya antara “hostile”, “aggressive”, “fierce”, dan “belligerent”. Muncul pemikiran bahwa di balik 4.500 sifat tersebut terdapat sejumlah kecil karakteristik kepribadian yang fundamental (basic traits), sebagaimana konstelasi bintang di langit malam. Pertanyaan metodologisnya adalah bagaimana menentukan sifat-sifat dasar ini, dan jawabnya adalah dengan melakukan olah data statistik. Langkah yang dilakukan adalah mencari koefisien korelasi di antara sifat-sifat, dan selanjutnya melakukan analisis faktor untuk menemukan struktur kepribadian (pola-pola di dalam kelompok-kelompok sifat yang berkorelasi). Apabila sifat X, sifat Y, dan sifat Z merujuk pada satu faktor, maka identitas atau makna dari faktor tersebut dapat diperkirakan dengan cara memikirkan bagaimanakah ketiga sifat tersebut secara konseptual serupa, atau ketiga sifat tersebut bersama-sama mencerminkan mengenai apa. Upaya metodologis ini dilakukan oleh Raymond Cattell, yang mencoba menyaring sejumlah kecil faktor kepribadian dasar dari daftar sifat Allport dan Odbert. Reduksi ini tidak mudah dilakukan hanya dengan mengandalkan sarana statistik, sehingga Cattell (1943) mulai menyortir istilah-istilah sifat dalam kluster-kluster yang secara semantik bersinonim atau hampir bersinonim, menurut penilaian Cattell sendiri. Selanjutnya ia menyortir kluster-kluster ini dalam pasangan-pasangan yang secara semantik bertentangan (oposisi). Dari upaya ini, Cattel menurunkan 160 kluster, yang kemudian ia tambahkan dengan sejumlah kecil kluster berdasarkan literatur psikologi, serta memilih sebuah istilah yang dapat mewakili masing-masing kluster tersebut. Pada titik upaya ini, 4.500 sifat terkurangi menjadi 171 sifat. Pada tahap ini metode statistik masih memainkan peran minor, meskipun merupakan peran awal/pertama. Korelasi di antara 171 sifat tersebut dikelompokkan dalam 60 kluster, yang selanjutnya dikurangi lagi menjadi 35 kluster menurut penilaian Cattel yang didukung oleh literatur psikologi. Selanjutnya ia melakukan analisis faktor yang kompleks, dan berhasil menurunkan 12 faktor, yang kemudian ia tambahkan lagi dengan 4 faktor berdasarkan studi-studi lanjutan. Jadi, ia menghasilkan 16 faktor kepribadian dalam bangunan teori kepribadiannya. Upaya Cattel untuk menemukan dimensi-dimensi fundamental dari sifat-sifat merupakan upaya yang sangat hebat, oleh karena keterbatasan komputasional pada pertengahan abad ke-20 waktu itu karena memakan waktu beberapa minggu untuk melakukan kalkulasi tertulis (tidak seperti sekarang, ada program komputer seperti SPSS dan LISREL). Dengan demikian, Cattel merupakan pelopor riset-riset faktor-analitis dalam kepribadian. Tes kepribadiannya populer dengan nama 16PF.

Meskipun demikian, karya Cattel ini memudar dalam psikologi kepribadian mutakhir oleh karena tiga alasan utama. Pertama, banyak peneliti telah menemukan bahwa prosedur Cattel untuk memperoleh saringan 15 faktor agak sewenang-wenang (arbitrer), karena mengandalkan sejumlah langkah yang melibatkan terlalu banyak penilaian subjektif Cattel sendiri. Para peneliti tersebut juga menemui kesulitan untuk mereplikasi faktor-faktor Cattell dalam penelitiannya. Kedua, meskipun 16 faktor memungkinkan deskripsi kepribadian yang jauh lebih ekonomis ketimbang 4.500 istilah sifat, jumlah tersebut masih dipandang terlalu banyak bagi kebanyakan teoris (ahli teori) kepribadian. Tentu saja sulit untuk mengingat begitu banyak dimensi dalam satu waktu, sehingga banyak teoris mengharapkan adanya sistem deskripsi kepribadian yang lebih sederhana. Ketiga, banyak dari faktor-faktor Cattell nampak berkorelasi. Fakta ini merangsang kemungkinan bahwa ada dimensi-dimensi dasar atau “superfaktor-superfaktor” yang mendasari 16 faktor Cattel. Superfaktor-superfaktor ini seharusnya independen satu sama lain dan tidak berkorelasi, serta tidak dapat direduksi lagi.

Upaya reduksi menuju superfaktor tersebut dimulai oleh Fiske (1949) dan dilanjutkan oleh banyak psikolog dalam dekade-dekade berikutnya. Dalam banyak studi, para peneliti mulai memperhatikan bahwa analisis faktor terhadap kepribadian seringkali berkonvergensi pada hanya lima faktor besar, meskipun peneliti yang berbeda memiliki nama/label dan makna yang berbeda untuk kelima faktor tersebut. Kendati demikian, akhirnya berdasarkan sejumlah studi dengan beragam metodologi serta sampel penilai (personality raters) yang besar dan beragam, sejumlah psikolog menamai kelima faktor tersebut “Big Five”. Kelima faktor ini diklaim merepresentasikan lima cara fundamental dengan mana kepribadian orang-orang bervariasi. Inti kepribadian Anda dapat direpresentasikan oleh posisi Anda pada lima dimensi ini (Tabel 7).

Nama Standar

Nama Alternatif

Istilah-istilah yang Menggambarkan

I. Extraversion

Surgency

sociable, assertive, enthusiastic, energetic, forceful, talkative

(oposisinya: quiet, reserved, shy, retiring)

II. Agreeableness

Social adaptability

warm, modest, kind, appreciative, trusting, affectionate, helpful

(oposisinya: cold, quarrelsome, unfriendly)

III. Conscientiousness

Dependability, Prudence, Will to Achieve

efficient, organized, thorough, planful, reliable, (oposisinya: careless, irresponsible, frivolous)

IV. Neuroticism

Emotional instability

tense, irritable, shy, moody, nervous, high-strung

(oposisinya: stable, calm, contented, unemotional)

V. Openness to Experience

Culture, Intellect

imaginative, intelligent, original, insightful, curious, sophisticated

(oposisinya: narrow interests, simple, shallow)

Tabel 7. Ringkasan Faktor Kepribadian Big Five (John, 1990)

Rangkaian faktor kepribadian “Big Five” ini, yang sering disebut “model lima faktor”, nampaknya merupakan model struktur kepribadian yang dominan dalam psikologi kepribadian kontemporer. Sebuah kuesioner yang mengukur faktor-faktor ini, yakni NEO PI-R (Costa & McCrae, 1992) merupakan salah satu skala kepribadian yang paling luas digunakan. Meskipun demikian, model lima faktor ini belum diterima sepenuhnya oleh para psikolog yang bekerja dalam tradisi psikologi sifat, karena model ini sesungguhnya masih mendasarkan diri pada karya Allport dan Odbert yang memuat kelemahan. Karenanya, beberapa model alternatif telah diajukan.

Salah satu pendekatan untuk menghasilkan model alternatif tersebut adalah pendekatan leksikal (kebahasaan) terhadap deskripsi kepribadian. Satu kata natural dalam sebuah bahasa mewakili satu trait. Kelemahan pendekatan ini adalah bahwa sejumlah karakteristik kepribadian mungkin tidak memiliki terminologinya (tidak ada istilahnya), tidak dikenali atau tidak diperbincangkan oleh anggota komunitas yang menggunakan bahasa tersebut, atau dikomunikasikan bukan dengan satu kata melainkan dengan kelompok kata (frasa) atau kalimat-kalimat.

Pendekatan lainnya adalah pendekatan kuesioner, yaitu dengan memeriksa respons-respons orang terhadap skala/kuesioner kepribadian ketimbang terhadap daftar trait. Skala ini terdiri atas pernyataan-pernyataan yang direspons orang dengan ya/tidak, atau benar/salah, atau skala respons 1 (sangat tidak sesuai) sampai dengan 5 (sangat sesuai). Butir-butir skala merujuk pada perilaku, perasan, sikap, atau keyakinan seseorang. Penilaian (rating) orang, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, dapat diolah dengan analisis faktor. Kelebihan pendekatan ini dibandingkan pendekatan leksikal adalah mampu mencakup jangkauan karakteristik kepribadian yang lebih luas, karena diperoleh dari kompleksitas semantik pernyataan-pernyataan dalam kuesioner, serta bersifat kontekstual. Contoh butir skala ini adalah:

“Saya suka bertemu orang-orang baru bilamana saya mengetahui bahwa saya mungkin tidak akan berjumpa dengan mereka lagi di masa mendatang.

Salah seorang pendukung pendekatan kuesioner adalah Hans Eysenck, seorang psikolog berkebangsaan Inggris kelahiran Jerman. Ia mengembangkan model kepribadian dua faktor. Eysenck (1947) lah yang sesungguhnya pertama kali menemukan dan meneliti secara ketat faktor Ekstraversi-Introversi dan Neurotisisme. Menurut Eysenck, 16 dimensi sifat dari Cattel dapat direduksi menjadi dua faktor yang tidak berkorelasi ini, dan menurutnya kedua faktor ini bervariasi menurut fungsi sistem saraf. Selanjutnya, Eysenck menemukan faktor ketiga, yakni Psikotisisme. Sifat-sifat yang tergolong dalam faktor ini adalah agresivitas, sifat dingin (coldness), egosentrisitas, tendensi antisosial, kreativitas, tiadanya empati, dan pemikir keras (tough-mindedness), dalam hal mana sifat-sifat ini dapat ditemukan dalam normalitas psikologis sampai dengan gangguan psikotik (seperti skizofrenia, dengan simtom-simtom seperti halusinasi dan delusi aneh).

Tellegen (1985) mengembangkan model kepribadian tiga faktor yang menyerupai triade Eysenck, yakni Emosionalitas Positif, Emosionalitas Negatif, dan Konstrain. Dua faktor yang pertama sangat dekat dengan Ekstraversi dan Neurotisisme, dan menekankan kepekaan emosional (emotional susceptibilities). Konstrain memiliki korelasi negatif yang kuat dengan Psikotisisme, karena merepresentasikan kecenderungan untuk menghambat serta mengendalikan ekspresi impuls-impuls dan tingkah laku antisosial. Sifat-sifat yang tergolong Konstrain, misalnya kehati-hatian (carefulness, cautiousness), reflektif, dan tiadanya spontanitas.

Bukti-bukti lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan Big Five dapat ditemukan dalam varietas binatang (Gosling & John, 1999). Penelitian-penelitian ini membuktikan bahwa faktor-faktor yang menyerupai Ekstraversi, Neurotisisme, dan Agreeablesness dapat ditemukan dalam spesies-spesies yang diteliti. Sebagai contoh, faktor-faktor terkait Agreeableness ditemukan dalam simpanse, anjing Afrika (hyena) anjing, babi, tikus, dan lima spesies lainnya, namun tidak ditemukan dalam ikan tropis (guppy) dan gurita. Faktor-faktor terkait Openness ditemukan dalam 7 dari 12 spesies yang diteliti, namun Conscientiousness hanya ditemukan dalam simpanse (kerabat evolusioner dari manusia). Temuan-temuan ini memberikan dukungan bagi generalitas lintas spesies dan eksistensi yang sungguh-sungguh dari kelima dimensi sifat lima faktor ini pada manusia.

Perbedaan antara model lima faktor dengan model tiga faktor memang memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menentukan manakah yang tepat. Namun demikian, perbedaan di antara kedua model ini, sebagaimana telah kita lihat, bukannya tidak dapat dijembatani sama sekali. Perbedaan-perbedaan ini hendaknya kita pandang sebagai perbedaan preferensi teoretik di samping sebagai fakta. Hal ini meningkatkan apresiasi kita mengenai betapa para ahli psikologi sifat telah bergerak maju menuju tujuan mereka guna memahami organisasi kepribadian.

Di samping sifat-sifat utama (major traits) sebagaimana dibahas dalam model tiga faktor dan model lima faktor, ada juga sifat-sifat khusus (specific traits). Contohnya adalah:

● Otoritarianisme, merupakan sifat spesifik yang membantu dalam memahami akar dari prasangka. Penelitian ini dimulai oleh Adorno Frenkel-Brunswik, Levinson, dan Sanford (1950) yang berhasil menjelaskan kebencian ekstrim dan genosidal oleh rezim Nazim terhadap orang Yahudi, kaum Gipsi, kaum homoseksual, dan sebagainya. Sifat-sifat yang tergolong otoritarian adalah (1) penerimaan yang tidak kritis serta submisif terhadap otoritas sosial, (2) nilai-nilai yang sangat konvensional, (3) berpikir berdasarkan takhyul (superstition) dan kategori-kategori yang rigid, (4) tendensi memproyeksikan impuls diri sendiri kepada orang lain serta tendensi menghukum orang lain, (5) sinisme dan kebencian terhadap orang (misanthropy), serta (6) keengganan untuk melakukan introspeksi. Kuesioner untuk menjaring otoritarianisme adalah California F-scale. Dalam konteks Big Five, otoritarianisme nampak dicirikan utamanya dengan rendahnya Openness dan tingginya Conscientiousness (Heaven & Bucci, 2001).

● Pemantauan diri (self-monitoring), merupakan sifat yang paling bersangkutan dengan penyajian diri (self presentation) dalam tingkah laku publik. Menurut penemu trait ini, Snyder (1974), sifat pemantauan diri merujuk pada tingkat konsistensi yang ditampilkan orang, baik antara dunia batin (inner selves) dan topeng publik (public personas)-nya, maupun dalam tingkah laku publik lintas situasi yang berbeda. “Pemantauan diri yang tinggi” menunjukkan konsistensi yang relatif kecil, dan secara fleksibel membentuk penyajian publiknya untuk menyesuaikan dengan tuntutan situasi dan audiens mereka. “Pemantauan diri yang rendah” cenderung untuk menunjukkan sikap-sikap, keyakinan-keyakinan, dan disposisi-disposisi pribadi yang sama, tanpa mempertimbangkan situasi dan audiens. Pemantauan diri yang rendah dapat diinterpretasikan entah sebagai (1) kesetiaan terhadap diri sejati, yang pantas dikagumi, atau justru (2) tiadanya kepekaan sosial.

● Gaya kelekatan (attachment style), merujuk pada serangkaian karakteristik kepribadian yang secara khusus relevan dengan hubungan akrab. Trait ini diinspirasikan oleh penelitian psikologi perkembangan mengenai cara-cara reaksi yang berbeda yang ditunjukkan bayi dan anak kecil terhadap pemisahan (separasi) dari pengasuhnya. Reaksi ini menjadi orientasi dasar bagi orang dewasa dalam hubungan-hubungan intim. Ada tiga jenis gaya (Hazan & Shaver, 1987). Orang dengan “gaya kelekatan aman” (secure attachment style) itu nyaman dengan keakraban dan kebergantungan mutual, serta tidak mengalami preokupasi dengan kemungkinan pengabaian. Gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment style) berhubungan dengan tiadanya kepercayaan terhadap orang lain, keengganan untuk dekat atau bergantung pada orang lain. Orang-orang dengan gaya kelekatan cemas/ambivalen cenderung untuk mengharapkan intimasi yang lebih banyak serta cepat ketimbang partner-nya, juga khawatir diabaikan atau dicintai secara cukup.

● Tipe A, merupakan karakteristik kepribadian yang paling intensif diteliti oleh para psikolog yang berminat memprediksi risiko penyakit jantung, yang merupakan penyebab utama kematian dalam banyak masyarakat industrial. Kardiolog telah lama mencurigai bahwa orang-orang yang menderita penyakit jantung cenderung memiliki gaya kepribadian yang berbeda, dan Tipe A merupakan jenis kepribadian ini (Friedman & Rosenman, 1974). Kepribadian tipe A digambarkan sebagai kompetitif, perjuangan meraih prestasi yang berlebihan (eksesif), energetik dalam pola-pola aktivitas dan pembicaraan, hostil, tidak sabar, serta mengalami tekanan waktu. Hostilitas merupakan komponen yang paling beracun, dan paling kuat berhubungan dengan risiko jantung koroner.

Sifat-sifat spesifik ini dipandang lebih efektif dalam meramalkan tingkah laku konkret ketimbang sifat-sifat yang lebih luas (tiga faktor atau lima faktor).

Terdapat kritik yang ditujukan kepada psikologi sifat. Menurut kaum situasionis, tingkah laku tidak terlampau mengikuti sifat (trait). Buktinya, tingkah laku tidak sangat konsisten antar konteks yang berbeda. Menurut mereka, tingkah laku ditentukan terutama oleh situasi, jadi sifat merupakan peramal yang lemah akan terjadinya tingkah laku.

Pendekatan Biologis

Salah satu cara untuk menjelaskan variasi kepribadian adalah dengan meninjau basis biologisnya. Namun demikian, memang banyak psikolog yang sangat keberatan dengan pendapat bahwa pengaruh biologis (nature) mengalahkan pengaruh kultural dan sosial terhadap perilaku. Perdebatan natur-nurtur memang kompleks dan seru, namun kita harus mengingat sejumlah hal penting di awal. Pertama, apabila kita mengatakan bahwa perbedaan biologis mendasari kepribadian bukan berarti bahwa kita menyatakan pengaruh sosial dan kultural dan kepribadian tidaklah penting. Kedua, kita dapat menyelidiki basis biologis dari kepribadian tanpa mengklaim bahwa dasar-dasar biologis ini secara langsung menentukan variasi kepribadian (determinisme), atau bahwa kepribadian dapat direduksikan pada basis biologis (reduksionisme). Ketiga, pembagian antara pengaruh dan penjelasan biologis dan sosiokultural dalam hal tertentu merupakan pembagian yang keliru. Manusia secara intrinsik dan bawaan bersifat sosial. Di samping itu, pengaruh sosial memengaruhi biologi kita, sama seperti biologi memengaruhi perilaku sosial kita. Penjelasan biologis tentang kepribadian hanya merupakan satu dari sekian banyak cara yang absah untuk memahami sumber variasi kepribadian manusia.

Biologi memberikan tiga penjelasan utama tentang kepribadian, yakni yang berkaitan dengan (1) pengaruh genetik, (2) kegiatan otak, dan (3) evolusi (Haslam, 2007). Ketiga perspektif ini sesuai dengan tiga jenis penjelasan: (1) gen merupakan penjelasan mengenai struktur yang mendasari perbedaan kepribadian, (2) pola-pola kegiatan otak merupakan penjelasan mengenai proses dan mekanisme, sedangkan (3) evolusi merupakan penjelasan fungsional tentang variasi kepribadian.

Genetika Kepribadian

Banyak perbedaan antar orang merupakan perbedaan yang diturunkan/diwariskan. Karakteristik seperti jenis kelamin, tinggi badan, warna mata, dan kerentanan terhadap beragam penyakit jelas berada dalam kontrol struktur biologis yang diteruskan oleh orangtua kepada kita. Struktur ini disebut sebagai gen-gen, yang merupakan segmen-segmen dari sebuah molekul panjang heliks ganda yang dikenal sebagai DNA (Deoxyribonucleic acid). DNA manusia mengandung sekitar 30.000 gen yang terdiri atas 3 milyar pasang basis/molekul sederhana. Rangkaian pasangan basis ini memuat informasi dalam kode yang dibaca oleh sel-sel kita untuk menyintesiskan protein-protein yang membangun, memelihara, dan mengatur badan kita. Secara kasar, kira-kira 99,9% dari pasangan basis ini adalah identik pada semua orang, jadi tidak dapat merupakan sumber perbedaan individual dalam kepribadian atau karakteristik lain. Sisanya, 3 juta-an pasangan basis mengambil dua atau lebih bentuk-bentuk alternatif sebagai hasil dari mutasi-mutasi genetik, dan karenanya disebut sebagai “polimorfisme”. Perbedaan antar orang yang berbasiskan genetik didasarkan pada modifikasi dalam fungsi gen yang merupakan hasil dari polimorfisme-polimorfisme ini.

Genetika perilaku (behavioral genetics) merupakan lapangan studi yang berupaya untuk memahami pengaruh perbedaan-perbedaan genetik yang diturunkan ini terhadap karakteristik psikologis, seperti kemampuan kognitif, gangguan mental, dan sifat kepribadian. Genetika perilaku memiliki tiga metode penelitian utama: (1) penelitian keluarga, (2) penelitian anak kembar, (3) dan penelitian adopsi. Ketiga jenis penelitian ini merupakan cara-cara untuk mengestimasi sejauh manakah pengaruh genetika dan lingkungan terhadap karakteristik kepribadian.

Penelitian keluarga memeriksa keserupaan antar anggota keluarga dalam hal karakteristik kepribadian mereka sebagai fungsi dari derajat kedekatan genetik. Kelemahan penelitian ini adalah ketidakmampuan untuk memisahkan pengaruh genetik dari pengaruh lingkungan. Kerabat-kerabat yang dekat (seperti antar saudara kandung, atau antara orangtua dan anak) memiliki keserupaan genetik lebih dekat ketimbang kerabat jauh mereka. Namun demikian, kerabat-kerabat yang dekat ini juga serupa dalam hal lingkungan mereka, kelas sosial mereka, dan pengalaman hidup mereka. Sebagai konsekuensinya, berisiko bagi kita untuk menyimpulkan bahwa besarnya keserupaan karakteristik kepribadian di antara mereka disebabkan oleh gen-gen yang sama antar mereka (shared genes), karena boleh jadi keserupaan kepribadian itu sebagian besar atau seluruhnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang sama (shared environments).

Penelitian anak kembar memberikan sarana alternatif untuk menguji dan mengestimasi kontribusi genetik terhadap karakteristik kepribadian. Ada dua jenis kekembaran: kembar identik (MZ/monozigotik, berasal dari telur tunggal yang dibuahi), dan kembar fraternal (DZ/dizigotik, berasal dari dua telur yang terpisah). Pengaruh genetik nampak apabila anak-anak kembar MZ lebih menunjukkan keserupaan kepribadian ketimbang anak-anak kembar DZ; dan anak-anak kembar DZ lebih menunjukkan keserupaan kepribadian ketimbang anak-anak yang tidak kembar. Tidak seperti penelitian keluarga, penelitian anak kembar menyingkirkan pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap karakteristik kepribadian (asumsi kesetaraan lingkungan). Kelemahan penelitian ini adalah (1) anak-anak kembar bukan merupakan representasi dari populasi umum, sehingga hasil penelitian terhadap mereka tidak dapat digeneralisasikan, (2) anak-anak kembar identik mungkin diperlakukan lebih sama oleh orangtua mereka ketimbang anak-anak kembar fraternal, sehingga mempengaruhi hasil penelitian.

Penelitian adopsi menyelidiki perbandingan keserupaan anak yang diadopsi masing-masing terhadap orangtua biologis dan orangtua adoptif mereka. Tingkat keserupaan anak-anak dengan orangtua biologis yang melahirkannya memperlihatkan tingkat pengaruh genetik, karena pada anak yang diadopsi, terdapat sedikit keserupaan lingkungan sistematik antar anak tersebut dengan orangtua biologisnya. Keserupaan anak-anak yang diadopsi dengan orangtua adoptifnya menunjukkan tingkat pengaruh lingkungan, karena anak yang diadopsi dengan orangtua yang mengadopsi tidak memiliki keserupaan genetik sistematis. Jadi, apabila anak-anak yang diadopsi lebih menyerupai orangtua biologis mereka ketimbang orangtua yang mengadopsi mereka, maka kita dapat menyimpulkan bahwa gen-gen memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap karakteristik kepribadian ketimbang faktor-faktor lingkungan. Penelitian-penelitian ini seringkali dilakukan dengan mengadopsi dua anak kembar secara terpisah untuk melihat bukti mengenai pengaruh genetik dan lingkungan. Kelemahan penelitian ini adalah bahwa ada kemungkinan keserupaan orangtua biologis dan orangtua adoptif dalam hal kelas sosial, pendidikan, atau inteligensi (masalah “selective placement”); sehingga kita tidak dapat meyakini bahwa keserupaan anak-anak adoptif dengan orangtua biologis mereka secara murni bersifat genetik. Di samping itu, orangtua biologis tidak hanya mengkontribusikan gen-gen mereka terhadap anak-anak mereka yang selanjutnya diadopsi oleh orangtua adoptif. Orangtua biologis juga mengkontribusikan lingkungan pranatal mereka selama sembilan bulan. Konsekuensinya, keserupaan genetik antar orangtua biologis dengan anak-anak mereka yang diadopsi orang lain mungkin secara parsial dipengaruhi oleh lingkungan.

Pengaruh genetik perilaku dapat diteliti dan menghasilkan indeks heritabilitas. Studi-studi genetika perilaku secara konsisten menemukan bahwa setiap trait kepribadian yang diteliti memiliki heritabilitas yang jangkauannya antara 0,3 sampai dengan 0,5 (Plomin, DeFries, McClearn, & Rutter, 1997). Artinya bahwa antara sepertiga sampai dengan setengah variasi kepribadian disebabkan oleh pengaruh genetik. Hal ini berlaku bukan hanya untuk sifat-sifat kepribadian Big Five, namun juga untuk karakteristik spesifik yang secara intuitif nampaknya sama sekali tidak berhubungan dengan pengaruh genetik, seperti religiusitas, minat pekerjaan, dan sikap-sikap terhadap hukuman mati. Hal ini tidak berarti bahwa ada “gen iman”, “gen pustakawan”, dan “gen eksekusi”. Melainkan hal ini berarti bahwa proporsi/bagian besar dari perbedaan antara orang dalam hal karakteristik kepribadian disebabkan karena banyak gen-gen polimorfis yang mempengaruhi proses-proses otak dengan cara-cara yang hingga kini belum diketahui.

Heritabilitas merupakan sebuah konsep penting untuk menggambarkan kontribusi relatif pengaruh genetik terhadap variasi dalam sebuah populasi. Sebagai contoh, penelitian Loehlin (1992) menunjukkan bahwa Ekstraversi memiliki heritabilitas sekitar 0,5. Taraf korelasi ini mengindikasikan bahwa apabila Anda adalah seorang ekstrovert (skor ekstraversi Anda berada di atas rerata populasi), maka probabilitas saudara kandung (siblings) atau orangtua Anda juga seorang ekstrovert kira-kira 58–60%. Namun dapat terjadi bahwa dalam hal ini, korelasi genetik antara Anda dengan orangtua Anda hanya 0,16, atau korelasi genetik antara Anda dengan saudara kandung Anda hanya 0,20. Hal ini menjelaskan mengapa meskipun seorang anak berkorelasi tinggi dengan anggota keluarganya, dapat terjadi bahwa sifat kepribadian antar mereka sangat berbeda (heritabilitas rendah). Penting dicatat bahwa heritabilitas yang tinggi tidak mensyaratkan korelasi genetik yang tinggi antar kerabat dekat, dan sebaliknya.

Heritabilitas juga tidak mengimplikasikan mengenai apakah suatu karakteristik kepribadian dapat diubah ataukah tidak. Karakteristik yang sangat heritabel (mudah diwariskan) dapat pula siap dimodifikasi/diubah (mutable), baik pada tingkat individu maupun tingkat kolektif. Sebagai contoh, ada terapi-terapi yang sangat efektif bagi banyak gangguan-gangguan mental maupun fisik yang heritabel. Jadi, heritabilitas hanya menunjukkan kecenderungan statistik, bukan sesuatu yang tak dapat dihindarkan/diubah.

Temuan penting lainnya dalam bidang genetika perilaku adalah bahwa sejumlah pengaruh lingkungan justru dapat dirunut penjelasannya ke efek genetik. Dalam satu hal, peristiwa-peristiwa negatif kehidupan yang menimpa dan membentuk kita sebagiannya bersifat heritabel. Sebagai contoh, kerentanan terhadap kecelakaan dan perceraian sebagian bersifat heritabel, mungkin karena berhubungan dengan trait kepribadian yang dapat diwariskan. Serupa dengan itu, kita secara aktif memapar diri kira sendiri pada lingkungan yang sesuai dengan disposisi genetik kita. Sebagai contoh, orang-orang ekstravert mendekatkan diri dengan pekerjaan yang memiliki banyak rangsangan (excitement) dan keramaian orang. Disposisi genetik juga mempengaruhi respons-respons yang kita timbulkan dari lingkungan. Sebagai contoh, anak-anak dengan temperamen yang “sulit” cenderung untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan berisiko dan antisosial, serta menggabungkan diri dengan teman sebaya yang nakal (delinquent). Dengan demikian, hal ini menimbulkan respons-respons yang bersifat punitif (menghukum) dan kritis dari para orangtua dan guru mereka. Di samping itu, gen-gen juga mempengaruhi bagaimana kita mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan, sehingga orang-orang dengan disposisi genetik yang berbeda akan berespons sangat berbeda terhadap peristiwa yang sama. Prinsipnya adalah bahwa disposisi genetik orang yang nampak dalam kepribadian mereka dapat sangat mempengaruhi lingkungan yang mereka tinggali. Jadi jelas bahwa pengaruh genetik dan lingkungan bersifat “saling melibatkan” serta seringkali sulit untuk dipisahkan.

Tantangan penelitian genetika perilaku dalam kepribadian adalah menentukan gen-gen spesifik yang berkontribusi kepada variasi kepribadian. Akhir-akhir ini, hal tersebut telah dilakukan oleh para peneliti genetik (Hamer, 1997). Para peneliti ini telah menentukan gen-gen spesifik yang berhubungan dengan perbedaan-perbedaan individual dalam trait pencarian-kebaruan (novelty seeking, yakni trait yang suka dengan pengalaman-pengalaman baru dan perilaku pengambilan risiko), dan trait yang terkait dengan kecemasan (seperti neurotisisme). Kedua gen tersebut berhubungan dengan perbedaan dalam transmisi pesan-pesan kimiawi dalam otak oleh zat-zat kimia yang disebut neurotransmitter. Dalam trait pencarian-kebaruan, varian-varian gen menghasilkan molekul-molekul yang membuat otak sensitif terhadap kehadiran dopamin, sebuah neurotransmitter yang terlibat dalam penghargaan (reward) dan kenikmatan subjektif (subjective pleasure). Dalam kasus trait terkait kecemasan, gen terlibat dalam menghasilkan protein yang mempengaruhi fungsi serotonin. Masing-masing gen tadi bertanggung jawab hanya untuk sebuah fraksi kecil dari pengaruh genetik terhadap trait yang berkaitan, namun penemuan ini menjadi hal menonjol dalam penjelasan biologis tentang kepribadian.

Adanya setumpuk bukti mengenai pengaruh genetik terhadap kepribadian tidak selalu disambut dengan kegembiraan oleh para psikolog maupun populasi umum. Penemuan gen-gen yang terkait dengan kepribadian tertentu secara khusus membuka skenario-skenario “mimpi buruk” oleh para orangtua, yang dengan sengaja melakukan aborsi janin yang gen-gennya memiliki risiko memiliki karakteristik kepribadian yang tidak diharapkan. Penemuan sebuah gen yang berhubungan dengan disposisi kepribadian kompleks seperti orientasi seksual (misalnya, heteroseksualitas/homoseksualitas) membuat ketakutan pada banyak orang. Meskipun masyarakat harus menanggapi ancaman etis dari temuan-temuan penelitian yang pesat berkembang ini dengan penuh kewaspadaan, namun penting juga untuk meletakkan peran pengaruh genetik terhadap kepribadian dalam perspektif yang jernih. Konstruksi sebuah kepribadian, meskipun dipengaruhi oleh gen-gen, lebih merupakan sebuah proses-proses yang jauh lebih fleksibel dan ditentukan oleh interaksi banyak faktor, serta turut dipandu oleh pilihan-pilihan pribadi, lingkungan sosial, dan (mungkin) keberuntungan buta (blind luck).

Kepribadian dan Fungsi Otak

Dengan mengetahui bahwa eksistensi gen memengaruhi variasi kepribadian tidaklah menjelaskan proses-proses biologis yang mendasarinya. Gen-gen tidak secara langsung memengaruhi disposisi perilaku, melainkan secara tidak langsung dengan mempengaruhi perkembangan otak, struktur otak, dan kimiawi otak.

Teori pertama dan yang paling berpengaruh mengenai proses-proses otak yang mendasari kepribadian diajukan oleh Hans Eysenck (1967), yang selanjutnya dikembangkan oleh Jeffrey Gray (1981). Meskipun Gray mengakui bahwa ekstraversi dan neurotisisme merupakan dimensi-dimensi fundamental guna mendeskripsikan kepribadian manusia, ia menyatakan bahwa dimensi yang tepat untuk menjelaskan kepribadian dalam kaitannya dengan sistem otak adalah campuran dari kedua dimensi tersebut. Sebagai pengganti ekstraversi dan neurotisisme, ia mengajukan dimensi impulsivitas dan kecemasan. Impulsivitas merupakan kombinasi dari neurotisisme dan ekstraversi. Seorang introvert yang stabil adalah orang yang tidak impulsif (unimplusive). Posisi seseorang dalam dimensi ini mencerminkan kekuatan serangkaian mekanisme otak yang disebut Gray sebagai “behavioral approach system” (BAS). Kecemasan merupakan kombinasi dari neurotisisme dan introversi, serta mencerminkan yang disebut Gray sebagai “behavioral inhibition system” (BIS). Gray telah melakukan banyak sekali penelitian, yang kebanyakan dilakukan pada binatang, guna mengkarakterisasikan neuropsikologi dari kedua sistem ini.

Dalam teori Gray, kedua sistem perilaku tersebut (BAS dan BIS) bersifat umum pada semua mamalia. BAS dan BIS melibatkan sensitivitas terhadap jenis-jenis kondisi lingkungan yang berbeda serta pola-pola respons terhadapnya. BAS peka terhadap sinyal-sinyal reward, yakni konsekuensi-konsekuensi perilaku yang bersifat positif, diinginkan, atau menyenangkan. Jadi BAS berfungsi untuk mencari dan memperoleh peluang-peluang menguntungkan dari perilaku. Sebaliknya, BIS peka terhadap sinyal-sinyal hukuman dan kebaruan, yakni konsekuensi-konsekuensi perilaku yang bersifat negatif, aversif (menyakitkan), dan tak terprediksi. BAS berfungsi untuk mempersiapkan organisme berespons terhadap peristiwa-peristiwa yang mengancam dan penuh tekanan, serta menghambat atau menginterupsi perilaku yang sedang berlangsung, sambil sungguh-sungguh memperhatikan keadaan. Menurut Gray, orang yang BAS-nya kuat cenderung bertindak yang impulsif dan berisiko. Orang yang BIS-nya tinggi cenderung cemas dan memiliki kepribadian terhambat, karena bagi mereka peluang penderitaan, kehilangan, dan kejutan yang tak menyenangkan lebih menonjol (salient) ketimbang peluang kenikmatan dan pencapaian. Dengan demikian, berkebalikan dengan teori Eysenck, Gray menekankan sensitivitas organisme terhadap aspek-aspek motivasional dari lingkungan ketimbang keadaan internal aktivasi keterbangkitan dan otonomi sistem saraf. Teori Gray telah merangsang banyak sekali penelitian mengenai neuropsikologi kepribadian dan neuropsikologi beragam gangguan mental, serta telah dipuji karena inovasi dan kecanggihannya.

Selanjutnya, Richard Depue (Depue & Collins, 1999) menekankan aspek neurokimiawi dari fungsi otak. Menurutnya, ada tiga neurotransmitter utama yang berimplikasi pada sistem neurobehavioral dasar, dan bahwa perbedaan individu dalam sistem-sistem ini berhubungan dengan tiga superfaktor kepribadian (ekstraversi, neurotisisme, dan konstrain). Ketiga kimiawi otak tersebut adalah dopamin (DA), norepinefrin (NE), dan serotonin (5-HT). Dopamin merupakan dasar dari sistem fasilitasi perilaku, yakni sistem yang dekat dengan BAS-nya Gray. Seperti BAS, sistem ini berurusan dengan motivasi positif atau “insentif” dan diekspresikan dalam perilaku yang merngarahkan organisme menuju tujua-tujuan yang menyenangkan (rewarding) misalnya eksplorasi, gerakan maju, aktivitas sosial, dan pemecahan masalah fleksibel. Namun berkebalikan dengan BAS-nya Gray, Depue menekankan bahwa aktivasi sistem fasilitas keperilakuan berhubungan dengan pengalaman-pengalaman emosional positif dan kenikmatan, serta menghubungkan sistem ini lebih kepada ekstraversi (emosionalitas positif, kelincahan, dorongan, motivasi berprestasi, optimisme, dan pencarian kebaruan) ketimbang impulsivitas. Penelitian menunjukkan bahwa pada orang-orang ekstravert, fungsi DA lebih besar.

NE merupakan neurotransmitter yang berhubungan dengan faktor kepribadian neurotisisme atau “emosionalitas negatif”. Menurut Depue, NE merupakan komponen neurokemis dari sistem peringatan neuroperilaku. Sistem ini memotivasi organisme untuk mengarahkan perhatian pada potensi ancaman dalam lingkungan bilamana kondisi lingkungan berubah atau tidak pasti. Sistem ini diekspresikan dalam perilaku yang waspada dan berhati-hati, dan dalam keadaan emosional negatif seperti takut dan marah. Sistem ini mirip dengan BIS-nya Gray, namun lebih menekankan hubungannya dengan keadaan emosional negatif dan neurotisisme ketimbang dimensi kecemasannya Gray.

Tidak seperti DA dan NE, neurotransmitter 5-HT tidak berkenaan dengan emosionalitas, melainkan berhubungan dengan sistem non-emosional yang memodulasi aliran informasi dalam otak. 5-HT memainkan peran sentral dalam menghambat reaksi-reaksi otak terhadap stimulasi dan keterbangkitan emosional. Pada binatang, pengurangan 5-HT menyebabkan binatang sangat peka (over-sensitive) terhadap stimulasi dan ekspresi emosional yang berlebihan. Menurut Depue, fungsi 5-HT pada manusia berkenaan dengan perbedaan kepribadian dalam dimensi Konstrain dari Tellegen. Tingginya 5-HT tercermin dalam ekspresi emosional yang dibatasi, kekakuan (rigiditas); sementara rendahnya 5-HT termanifestasi dalam fenomena disinhibisi (impulsivitas, agresivitas, iritabilitas, dan ketidakstabilan emosional).

Sebagaimana kita lihat, teori-teori neurobiologis telah menunjukkan kemajuan pesat dalam menjelaskan mekanisme-mekanisme dan proses-proses otak yang mendasari kepribadian. Namun demikian, penting untuk mengakui bahwa semua temuan tersebut merupakan penyederhanaan (simplifikasi) dari kerja-kerja otak manusia yang sangat kompleks. Sebagaimana Zuckerman (1991) menyatakan, kita seyogianya tidak membayangkan bahwa terdapat korespondensi atau hubungan langsung antara sifat-sifat kepribadian tertentu dengan struktur-struktur, sistem-sistem, dan kimiawi otak tertentu. Semua kegiatan otak merepresentasikan interaksi yang terorganisasi dari banyak jalan/jalur (pathways) dan mekanisme yang sangat terinterkoneksi. Jika kita memisahkan satu jalur atau mekanisme dari konteks fungsionalnya yang lebih luar, kita berisiko mengalami kesalahpahaman. Oleh karena itu, pengetahuan ini merupakan tantangan bagi penelitian di masa mendatang untuk lebih merinci penjelasan neurobiologis daripada yang ada sekarang.

Kepribadian dan Evolusi

Neurobiologi memberikan kita pengetahuan mengenai proses-proses otak yang mendasari variasi perilaku. Genetika perilaku memberikan kita pengetahuan mengenai pewarisan struktur-struktur yang mendasari proses-proses otak tersebut. Jadi, gen-gen mempengaruhi kepribadian dengan cara mempengaruhi proses-proses otak yang mendasarinya. Kita dapat bertanya lebih lanjut mengenai hal apakah yang menyebabkan pengaruh ini. Jawabnya adalah evolusi.

Evolusi oleh seleksi alam merupakan sebuah proses yang berlangsung pada variasi genetik (polimorfisme) yang terjadi pada sebuah spesies. Sepanjang banyak generasi, gen-gen yang meningkatkan kebertahanan hidup (survival) dan reproduksi organisme serta kerabat mereka (atau, gen yang berkontribusi kepada “kesesuaian adaptif”) secara bertahap terseleksi sebagai bagian dari penyusunan (konstitusi) genetik spesies. Gen-gen yang merugikan atau semata-mata memiliki efek yang tidak adaptif itu tereliminasi. Gen-gen yang meningkatkan kesesuaian adaptif menjamin keberlangsungan gen-gen ke generasi-generasi mendatang, karena organisme yang memiliki gen-gen ini lebih berhasil secara reproduktif (memiliki keturunan). Ringkasnya, evolusi berlangsung dalam cara-cara yang pelan, buta (blind), dan coba-salah (trial-and-error) guna meningkatkan “rancangan” sebuah spesies biologis, yang menjamin bahwa gen-gen tersebut mendukung serangkaian adaptasi/penyesuaian diri fungsional.

Pertanyaan pentingnya adalah: apakah perbedaan individual dalam kepribadian itu adaptif? Apakah sejumlah sifat kepribadian lebih mempromosikan kesesuaian adaptif ketimbang sifat-sifat yang lain? Memang, dapat dipahami bahwa variasi dalam sejumlah trait kepribadian normal berhubungan dengan keberhasilan reproduktif yang lebih besar (misalnya, kepribadian ekstravert mungkin lebih baik dalam menarik perhatian lawan jenis ketimbang kepribadian introvert). Pun sangat mungkin bahwa sejumlah karakteristik kepribadian patologis nyata-nyata maladaptif. Namun demikian, bukti langsung terhadap hal ini sangatlah langka. Di samping itu, ada sejumlah penalaran teoretik yang berargumen bahwa variasi kepribadian normal tidak mungkin adaptif. Penjelasannya adalah karena evolusi cenderung menghasilkan sebuah bentuk tunggal terbaik dari tiap-tiap satu gen, dan secara bertahap mengeliminasi alternatif-alternatif bentuk lain yang kurang meningkatkan kesesuaian adaptif. Ingat, sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa orang-orang identik dalam 99,9% dari pasangan-pasangan basis DNA mereka. Konsekuensinya, perbedaan-perbedaan genetik yang masih ada antar orang (seperti yang berhubungan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian) mungkin bersifat “netral adaptif” dan tidak berkaitan dengan kesesuaian adaptif.

Posisi pemikiran tersebut ditekankan oleh ahli-ahli psikologi evolusioner, Tooby dan Cosmides (1990), yang menyatakan bahwa evolusi telah menghasilkan kualitas bawaan manusia yang dimiliki oleh semua kita. Sebagaimana semua orang (kecuali beberapa orang yang patologis) dilahirkan dengan konfigurasi organ-organ badaniah yang identik, susunan genetik kita juga memberikan kita rangkaian mekanisme-mekanisme dan kapasitas-kapasitas psikologis yang identik, yang dapat kita sebut sebagai “organ-organ mental”. Oleh karena gen-gen kita diseleksi untuk memberikan kita rancangan manusia universal, kebanyakan perbedaan genetik di antara kita tidaklah bersifat adaptif, melainkan hanya merepresentasikan mutasi-mutasi acak atau merupakan efek sampingan (byproduct) dari evolusi. Dengan demikian, Tooby dan Cosmides meyakini bahwa sifat-sifat kepribadian yang berbasiskan genetik mungkin merupakan perbedaan-perbedaan yang cukup remeh (trivial) dari tingkatan dalam operasi kapasitas-kapasitas psikologis universal. Sebagai contoh, mutasi-mutasi netral adaptif mungkin mempengaruhi penyetelan atau ambang sistem otak tertentu, dan secara samar mempengaruhi kepekaannya terhadap stimuli tertentu atau tingkat aktivasi umum otak.

Tooby dan Cosmides juga menyatakan bahwa variasi kepribadian sebagian mungkin berbasiskan gen-gen kita tanpa diwariskan. Gen-gen kita (shared genes) tidak perlu menghasilkan efek keperilakuan yang sama pada orang-orang yang berbeda. Kebenarannya adalah bahwa genetik manusia memiliki tingkat “plastisitas fenotipik” yang tinggi: gen-gen (“genotip) dapat menghasilkan ekspresi yang berbeda (“fenotip”) bergantung pada lingkungan di mana organisme berkembang. Gen-gen kita membuat kita sensitif dan responsif terhadap kondisi-kondisi lingkungan kita, ketimbang mendikte perilaku kita. Contoh dari plasitisitas ini dapat dilihat pada organisme lain, dalam hal mana sebuah konstitusi/susunan genetik tunggal dapat menghasilkan bentuk-bentuk fisik dan keperilakuan yang berbeda drastis bergantung pada beberapa jenis “pergeseran” lingkungan. Sebagai contoh, apakah seekor semut betina akan menjadi seekor pekerja ataukah seekor ratu bergantung pada dietnya, dan apakah sebuah embrio reptilia alligator akan menjadi laki-laki atau perempuan bergantung pada suhu di mana telur tersebut dierami (diinkubasi). Jadi, pengaruh lingkungan memainkan peran yang besar dalam kepribadian manusia karena susunan genetik kita “menginstruksikan” kepribadian untuk mengambil bentuk-bentuk yang berbeda menurut pengalaman-pengalaman awalnya. Ringkasnya, sejumlah variasi kepribadian mungkin bersifat adaptif, berakar pada karakteristik-karakteristik yang diwariskan, namun tidak berbasiskan perbedaan genetik antar orang.

Meskipun Tooby dan Cosmides secara umum skeptis terhadap sifat adaptif dari variasi kepribadian yang berbasiskan genetik, teoris lain lebih terbuka terhadap kemungkinan tersebut. Wilson (1994) berpendapat bahwa sejumlah karakteristik kepribadian yang diwariskan (heritabel) itu sungguh-sungguh adaptif. Namun pemahamannya bukanlah bahwa sebuah bentuk gen yang terkait kepribadian akan lebih adaptif ketimbang gen-gen lain. Namun, ia menyatakan bahwa variasi-variasi keperilakukan yang memiliki basis genetik mungkin mencerminkan strategi-strategi adaptif yang berbeda yang terspesialisasikan untuk relung (niche) lingkungan yang berbeda. Dengan demikian, bentuk-bentuk alternatif dalam sebuah gen dapat menghasilkan fenotip-fenotip adaptif yang setara. Sebagai contoh, Wilson membahas tentang ular Alaska (Thamnophis sirtalis, garter snake) memiliki loreng-loreng yang panjang dan titik-titik warna. Loreng-loreng berguna untuk melarikan diri dari predator sehingga sulit ditentukan posisinya, sedangkan titik-titik warna berguna untuk menyamar dengan cara berdiam diri. Kedua varian penanda yang berbasiskan genetik tersebut bersifat adaptif karena sukses mengerjakan peran-peran ekologis yang berbeda. Kepribadian manusia pun menunjukkan cara-cara adaptif yang mengkhususkan diri untuk peran-peran dan aktivitas-aktivitas yang berbeda dalam dunia sosial. Wilson menyatakan bahwa semakin terhambat atau semakin introvert orang, ia makin terspesialiasi untuk bertindak dalam lingkungan-lingkungan yang lebih berstruktur dan bebas risiko. Sementara itu, orang-orang yang lebih berani dan ekstravert teradaptasikan dalam posisi-posisi sosial yang melibatkan inisiatif, toleransi risiko, dan kebaruan.

Ada sejumlah karakteristik kepribadian bersifat adaptif hanya karena karakteristik tersebut langka. Kemungkinan ini sesuai dengan fenomena evolusi yang disebut sebagai “seleksi yang bergantung kekerapan” (frequency dependent selection). Guna menjelaskannya, ambil contoh seekor ngengat yang memiliki dua bentuk warna yang berbeda (Tooby & Cosmides, 1990). Apabila pemangsa cenderung mencari warna-warna umum, maka warna yang jarang akan lebih adaptif karena kurang kerap terdeteksi. Namun demikian, pada akhirnya warna-warna yang aslinya jarang akan menjadi dominan, dan predator akan mencarinya sebagai mangsa. Sebagai konsekuensinya, dua variasi bentuk ngengat akan ko-eksis (sama-sama ada) dalam sebuah ekuilibrium yang stabil dalam hal mana keduanya sama-sama adaptif.

Penjelasan serupa dapat diberikan untuk karakteristik kepribadian maladaptif, seperti gangguan kepribadian psikopati atau antisosial. Para psikopat secara interpersonal bersifat tak kenal kasihan, eksploitatif, kejam, dan culas. Sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat yang sulit memperoleh persetujuan sosial (social approval). Namun demikian, bentuk-bentuk perilaku ini mungkin berfungsi sebagai strategi adaptif yang efektif (khususnya, mungkin, sebagai cara orang untuk memperoleh sumberdaya-sumberdaya yang tak terjangkau serta melakukan reproduksi tanpa komitmen) apabila tidak banyak orang yang mengikutinya (Mealey, 1995). Meskipun psikopati merupakan strategi yang menguntungkan ketika strategi ini tidak umum (uncommon) serta kebanyakan orang mudah tertipu; namun, apabila strategi ini menjadi umum, maka frekuensi psikopati akan mencapai titik ekuilibrium dalam hal mana strategi keperilakuan ini sama adaptifnya dengan alternatif perilaku psikopati ini.

Meskipun penjelasan di atas spekulatif, namun pendekatan evolusioner terhadap kepribadian merupakan pendekatan yang popularitasnya meningkat pesat serta memiliki implikasi yang luas bagi penelitian-penelitian variasi perilaku.

Pendekatan Psikoanalitis

Pada 1896, Sigmund Freud merupakan seorang neurology dari Vienna yang menspesialisasikan diri dalam pengobatan histeria. Penyebab kondisi histeria yang banyak terjadi pada perempuan ini agak misterius. Orang-orang Yunani Kuno meyakininya sebagai hasil dari kandungan (uterus) yang mengalami dislokasi (perpindahan) serta menjalar ke seluruh tubuh. Para dokter pada zaman Freud memperdebatkan sejumlah teori alternatif mengenai histeria. Manifestasi kondisi ini juga membingungkan dan seringkali aneh. Freud menulis mengenai seorang pasien, Anna O., yang mengalami simtom (gejala) histeria berupa hilangnya perasaan anggota-anggota tubuhnya (lengan dan kaki); ketidakmampuan minum air; rasa sakit, kelumpuhan (paralisis), dan kejang-kejang otot yang tak dapat dijelaskan secara medis; halusinasi tentang ular hitam melata; kegagalan untuk melihat atau mendengar hal-hal yang berada di dekatnya; kehilangan kemampuan untuk berbicara bahasa Jerman yang merupakan bahasa ibunya, sementara mempertahankan kemampuannya berbicara dengan bahasa Inggris; serta masuk ke keadaan trans (trancelike state).

Freud mengobati histeria Anna O. dengan menggunakan hipnosis. Freud mencatat bahwa dalam kondisi hipnotik, banyak pasien mengingat kembali kenangan-kenangan masa kecilnya yang bersifat seksual. Ia menemukan bahwa ketika pasien-pasiennya dibimbing untuk menceritakan ingatan-ingatan ini, seringkali terlupakan banjir emosi, dan simtom-simtom histerisnya seringkali kemudian lenyap. Berangkat dari kesuksesan terapeutiknya, Freud mengembangkan sebuah teori mengenai kondisi histeria ini. Upaya pertama Freud, yang sering disebut sebagai teori “seduksi” (“godaan”), menyatakan bahwa penderita histeria mengalami memori-memori traumatis tentang kekerasan seksual masa kanak-kanak, yang umumnya dilakukan oleh ayahnya. Namun demikian, beberapa saat kemudian, Freud mengabaikan teori seduksi ini karena sejumlah alasan. Ia berargumen bahwa asal-usul histeria tidak ditemukan dalam memori-memori tentang peristiwa-peristiwa aktual (yang sebenarnya terjadi), melainkan dalam fantasi-fantasi kanak-kanak. Pada gilirannya, fantasi-fantasi ini mengekspresikan dan memuaskan harapan-harapan dan impuls-impuls seksual yang liar dari anak tersebut. Orang yang mengalami histeria menderita bukan karena memori-memorinya, melainkan karena produk/hasil yang tidak diakui dari hasrat-hasrat masa kanak-kanaknya. Episode ini menandai bangunnya teori kepribadian psikoanalitik Freud.

Beberapa ciri yang merupakan penandanya adalah sebagai berikut (Haslam, 2007). Pertama, bahwa asal-usul histeria bersumber dari kondisi yang dapat ditemukan dari fenomena di luar kesadaran pribadi. Histeria merupakan kondisi misterius bagi orang itu sendiri. Artinya pengalaman dan perilakunya yang terganggu dihasilkan oleh penyebab-penyebab yang tidak disadari oleh dirinya sendiri, yang hanya dapat diakses oleh prosedur-prosedur khusus seperti hipnosis. Kedua, penyebab-penyebab ini dianggap sebagai fenomena psikologis yang bermakna (memori-memori atau fantasi-fantasi) ketimbang serangkaian penyebab biologis. Ketimbang menjelaskan histeria dengan neurokimiawi (atau kandungan yang menjalar), Freud berargumen bahwa sumber histeria dapat dirunut, seringkali secara tak langsung, kepada pengalaman-pengalaman yang dapat ditafsirkan, entah pengalaman itu nyata atau diimajinasikan. Ketiga, teori Freud tentang histeria menyiratkan bahwa mind merupakan sebuah tempat konflik: pasien histeria memiliki keinginan-keinginan (wishes) yang dilarang dan ditentang, namun ia tidak mampu mengakuinya secara sadar. Akibat konflik antara keinginan dan larangan sosial ini adalah penderitaan-penderitaan dan simtom-simtom. Keempat, pengalaman masa kanak-kanak merupakan pengalaman yang istimewa dalam penjelasan perilaku orang dewasa/ Kelima, aspek-aspek pengalaman seksual juga memiliki peran yang besar dalam penjelasan psikoanalitik. Freud menyatakan bahwa anak-anak tidaklah bersih dari hasrat-hasrat dan pengalaman-pengalaman seksual. Unsur-unsur dasar teori psikoanalitik ini (ketidaksadaran, kebermaknaan perilaku, dan pentingnya konflik psikologis, pengalaman masa kanak-kanak dan seksualitas) merupakan unsur-unsur distingtif dari teori psikoanalisis Freud. Ciri keenam dari teori psikoanalisis khususnya yang berkaitan dengan teori seduksi adalah bahwa teori ini kontroversial sepanjang zaman.

Sejak awal Psikoanalisis merupakan hasil pikiran asli dari Sigmund Freud. Freud lahir dalam keluarga kelas menengah Yahudi di Freiburg, Moravia (Austria-Hungaria), pada 1856, kemudian pindah ke Vienna pada masa kanak-kanak awalnya. Freud menghabiskan sebagian besar hidupnya di Vienna. Freud masuk universitas untuk pelatihan medis dan segera menjadi tertarik dengan penelitian biologis. Penelitian pertamanya adalah tentang organ-organ seksual belut, namun selanjutnya ia tertarik dengan sistem saraf dan menghabiskan banyak tahun untuk melakukan penelitian laboratorium mengenai anatominya. Setelah lulus, selama beberapa tahun Freud melakukan kerja-kerja klinis dengan para pasien yang menderita gangguan neurologis, serta selanjutnya melakukan penelitian mengenai masalah-masalah seperti posibilitas penggunaan medis kokain. Setelah sebuah periode studi dengan neurology terkenal, Jean-Martin Charcot di Paris, Freud memulai praktik privat, di mana ia utamanya mengobati histeria dan neurosis lain dengan menggunakan metode-metode hipnotik yang kontroversial pada waktu itu.

Setelah Freud mengabaikan “teori seduksi”-nya sendiri tentang histeria, ia mulai mengembangkan gagasan-gagasan psikoanalitik dalam banyak buku dan kertas kerja. Setelah menerbitkan sebuah volum buku mengenai histeria, ketiga buku berikutnya bertemakan kepribadian dan gangguan mental. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tentang interpretasi mimpi, keselo lidah dan kekeliruan terkait, serta humor-humor, menyusun sebuah psikologi sistematik pada waktu itu. Fenomena tersebut nampak remeh namun dapat secara kaya menyingkap kehidupan mental. Tulisan-tulisan Freudselanjutnya mengembangkan dan mempopulerkan gagasannya, termasuk tulisan klinisnya mengenai pengobatan psikoanalitis terhadap gangguan mental. Sementara itu, Freud memberdayakan sebuah kelompok pemikir dan klinisi yang berminat dengan kerjanya, serta secara agresif berjuang untuk mengembangkan gerakan psikoanalitik yang mendunia. Meskipun sejumlah pendukungnya mula-mula, seperti Carl Jung dan Alfred Adler, memutuskan untuk berpisah dari gerakan ini, namun dalam sejumlah dekade, institut-institut untuk pelatihan bagi para psikoanalis Freudian tersebar luas di Eropa dan Amerika Serikat. Ketika Nazi menginvasi Austria pada 1938, Freud meloloskan diri ke London, di mana saudarinya Anna menempuh karier dalam psikoanalisis anak-anak. Pada 1939, Freud meninggal karena kanker tenggorok, kemungkinan karena perilaku merokoknya.

Unsur Unsur Teori Psikoanalitik

Perlu disadari sejak awal bahwa teori psikoanalisis memiliki fokus yang luas. Psikoanalisis sudah tentu mengandung teori kepribadian, namun psikoanalisis juga menawarkan teori-teori untuk memahami kebudayaan, masyarakat, kesenian, dan sastra. Psikoanalisis juga merupakan sebuah teori klinis yang hendak menjelaskan sifat dan asal-usul gangguan mental, serta pendekatan untuk mengobati gangguan tersebut. Untuk memperoleh gambaran mengenai keluasan teori Freud, ketahuilah bahwa ia telah menulis secara ekstensif mengenai topik-topik seperti: makna mimpi dan humor, asal-usul agama, drama Shakespeare, psikologi kelompok, homoseksualitas, sebab-sebab fobia dan obsesi, serta banyak lagi. Bahkan sebagai sebuah teori kepribadian, psikoanalisis pertama-tama membahas proses-proses dan mekanisme dari mind ketimbang membahas perbedaan individual.

Teori psikoanalisis Freud memiliki banyak komponen yang distingtif, sehingga hal ini membuat kita sulit untuk mengintegrasikan komponen-komponen tersebut menjadi sebuah model unitaris tentang mind. Meskipun komponen-komponen tersebut seluruhnya berinterkoneksi secara kompleks namun komponen-komponen teoretis ini (model-model teroretis) lebih baik diperkenalkan secara sendiri-sendiri.

Model Topografis

Model mind pertama disebut model topografis karena merujuk pada tingkatan atau lapisan dari kehidupan mental. Freud menyatakan bahwa isi mental (gagasan-gagasan, keinginan-keinginan, emosi-emosi, impuls-impuls, ingatan-ingatan, dan sebagainya) dapat ditentukan lokasinya pada satu dari tiga tingkat: Sadar (Conscious), Prasadar (Preconscious), dan Tidak Sadar (Unconscious). Freud menggunakan ketiga terminologi ini untuk mendeskripsikan derajat kesadaran atau ketidaksadaran, tetapi juga untuk merujuk pada sistem-sistem mental yang berbeda dengan hukum operasi yang berbeda pula. Kognisi tak sadar secara kategoris berbeda dari kognisi sadar, dan beroperasi pada isi mental yang berada di bawah kesadaran. Guna menyampaikan pemikirannya, Freud seringkali menyebut ketiga tingkat model topografis ini sebagai “sistem” Cs., Pcs., dan Ucs.

Kesadaran

Menurut Freud, kesadaran semata-mata merupakan “puncak gunung es” dari kegiatan mental. Isi Kesadaran adalah fraksi-fraksi (bagian-bagian) kecil dari hal-hal yang sedang diperhatikan oleh orang, seperti objek-objek yang dipersepsikan, peristiwa-peristiwa yang diingat, dan aliran pikiran yang kita wacanakan dalam hidup sehari-hari.

Prasadar

Tidak semua kehidupan mental kita terjadi dalam sorot atensi dan kesadaran. Ada banyak hal yang siap diperhatikan oleh kita namun tidak kita perhatikan, seperti gagasan atau rencana yang telah kita kesampingkan atau ingatan-ingatan mengenai hal-hal yang kita lakukan kemarin. Tanpa upaya yang besar, hal-hal ini (yang pada saat sekarang berada di luar kesadaran) dapat dibuat menjadi sadar. Hal-hal ini merupakan ranah Prasadar.

Batas antara Kesadaran dan Prasadar bersifat permeabel (dapat ditembus). Pikiran, memori, dan persepsi dapat melintasi batas tersebut tanpa kesulitan yang besar, sesuai dengan kebutuhan saat itu dan intensi individu. Pikiran, memori, dan persepsi yersebut juga memiliki moda kognisi yang sama, yang disebut Freud sebagai “proses sekunder”. Kognisi proses sekunder merupakan jenis pikiran sehari-hari, lebih/kurang rasional yang secara umum mengikuti hukum-hukum logika.

Ketidaksadaran

Ketidaksadaran mungkin merupakan konsep teoretis Freud yang paling dirayakan. Sesungguhnya, Freud tidak menemukan (invensi) Ketidaksadaran sebagaimana banyak disebut oleh buku-buku teks. Freud hanya memberikan analisis teoretis yang jauh lebih dalam ketimbang orang-orang sebelumnya. Freud membedakan antara isi mental dan proses mental yang secara deskriptif tak sadar dan yang secara dinamis tak sadar. Yang secara deskriptif tak sadar berada di luar kesadaran sebagai sebuah fakta, dan karenanya mencakup materi Prasadar yang dapat menjadi sadar apabila diupayakan. Kontribusi penting dari Freud adalah pemikirannya bahwa beberapa pikiran, memori, harapan, dan proses mental tidak hanya secara deskriptif tak sadar, tetapi juga tidak dapat dibuat sadar karena adanya kekuatan yang melawannya/merintanginya yang menjaganya tetap berada di luar kesadaran. Ringkasnya, kehidupan mental yang secara dinamis tak sadar merupakan bagian (subset) dari yang secara deskriptif tak sadar. Ketidaksadaran Freudian merupakan ketidaksadaran yang dinamis.

Freud menyatakan bahwa Ketidaksadaran memuat proporsi kehidupan mental yang besar namun tak diakui, yang beroperasi menurut hukum-hukum psikologisnya sendiri. Batas antara Ketidaksadaran dan Prasadar jauh lebih kuat dan sulit untuk ditembus ketimbang batas antara Prasadar dan Kesadaran. Di samping itu, batas tersebut dijaga oleh fungsi mental yang disamakan Freud dengan sebuah “sensor”. Peran sensor ini adalah untuk menentukan apakah isi-isi dari Ketidaksadaran akan bersifat mengancam (threatening) atau tak disetujui (objectionable) bagi orang tersebut apabila isi-isi itu menjadi sadar. Apabila sensor tersebut memutuskannya sebagai berbahaya, orang tersebut akan mengalami kecemasan tanpa mengetahui apa yang menyebabkannya. Dalam hal ini, pikiran-pikiran, keinginan-keinginan, dan sebagainya, secara normal akan diusir balik ke Ketidaksadaran; proses ini disebut “represi”. Material Ketidaksadaran memiliki kekuatan intrinsik yang menggerakkannya untuk menjadi sadar. Konsekuensinya, represi memerlukan kekuatan aktif yang melawannya untuk menolaknya.

Di bawah tekanan Ketidaksadaran untuk muncul ke Prasadar, sensor tersebut tidak hanya dapat sekadar merintanginya. Akan tetapi, sensor memungkinkan sejumlah material Ketidaksadaran untuk melintasi batas/rintangan itu setelah material tersebut ditransformasikan atau pun disamarkan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih dapat diterima/disetujui. Pelintasan ini mungkin mengambil bentuk perilaku impulsif yang relatif tidak merugikan, atau dalam bentuk fantasi pribadi, penyampaian humor, atau keselo lidah, dalam hal mana orang tersebut menyampaikan sesuatu “tanpa maksud” (unintentionally) yang menampakkan konsen-konsen dan keinginan-keinginan yang direpresikan. Orang yang sudah terlatih mampu mengenai terjadinya represi pada orang tersebut. Pelatihan psikoanalitis mengajarkan bagaimana fenomena seperti itu dapat ditafsirkan, sebuah proses yang melibatkan penyingkapan material ketidaksadaran yang disembunyikan dalam penyamaran mereka.

Bagi Freud, mimpi melambangkan contoh yang sangat baik untuk ekspresi yang disamarkan dari keinginan-keinginan Ketidaksadaran. Mimpi menawarkan “sebuah jalan besar menuju ke Ketidaksadaran”. Salah satu alasannya adalah karena selama tidur, sensor menjadi tenang (rileks) dan hal ini memungkinkan lebih banyak material Ketidaksadaran yang direpresi untuk melintasi rintangannya. Material ini mengambil bentuk yang kurang mengancam melalui proses “kerja-mimpi”, lalu menampakkan diri sebagai serangkaian citra (image) dalam bentuk khusus kesadaran yang kita sebut sebagai “bermimpi” (dreaming). Menurut Freud, setiap mimpi memiliki “muatan laten” dari keinginan-keinginan Ketidaksadaran yang telah ditransformasi menjadi “muatan manifes” tentang mimpi yang dialami. Transformasi ini harus memungkinkan kehendak-kehendak Ketidaksadaran untuk terpenuhi, namun pada saat yang sama menyamarkan atau menyembunyikan sifat mengancamnya. Apabila transformasi ini gagal menyamarkannya, pemimpi akan mendaftarkan ancaman tersebut dan dengan demikian menjadi terbangun. Untuk menghindari hal ini, kerja-mimpi dapat mengubah identitas-identitas dari orang-orang yang direpresentasikan dalam sebuah keinginan (wish). Sebagai contoh, apabila seseorang memiliki keinginan tak sadar untuk melukai orang yang dicintainya, kerja-mimpi mungkin menghasilkan sebuah mimpi dalam mana pemimpi melukai orang lain, atau dalam hal mana orang yang dicintai itu dilukai oleh orang lain. Dengan netralisasi semacam ini, keinginan Ketidaksadaran menemukan ekspresi sadarnya.

Mimpi juga menunjukkan bentuk khusus dari pikiran yang beroperasi dalam Ketidaksadaran. Pikiran “proses primer”, tidak seperti proses sekunder yang mengatur Kesadaran dan Prasadar, tidak menghormati hukum-hukum logika dan rasionalitas. Dalam pikiran proses primer, sesuatu dapat melambangkan sesuatu yang lain, termasuk oposisi (lawan)-nya, serta bahkan dapat melambangkan dua hal yang berbeda pada satu waktu. Pikiran-pikiran yang kontradiktif dapat berada bersama (ko-eksis). Juga, tidak ada rasa yang teratur mengenai lintasan waktu atau pun sebab-akibat. Pemikiran proses primer menggambarkan kualitas magis, kaotis dari mimpi, citra-citra misterius yang nampaknya dalam hal tertentu signifikan, alur cerita yang patah-patah, peristiwa-peristiwa yang mustahil dan tidak saling terkait (diskoneksi). Bagi Freud, mimpi bukanlah sesederhana rasa ingin tahu di malam hari, namun menampakkan bagaimana bagian yang lebih besar dari kehidupan mental kita berproses di bawah dangkalan kesadaran.

Model Struktural

Model topografis mind merupakan bagian dari teori psikoanalisis Freud hampir sejak awal. Ketidaksadaran menjadi salah satu konsep fundamental dalam teori ini. Beberapa dekade kemudian, pada 1923, Freud mengajukan pembagian mind dalam tiga cara yang lain. Kali ini, pembagian tersebut didefinisikan dalam kaitannya dengan fungsi mental ketimbang tingkat kesadaran dan proses terkaitnya. Dalam bahasa Inggris, ketiga struktur mental tersebut diterjemahkan sebagai Id, Ego, dan Super-Ego. Ketiga struktur ini bukanlah organ mental atau entitas mental yang nyata, melainkan lebih merupakan sejenis ringkasan konseptual untuk membicarakan jenis-jenis proses mental yang berbeda-beda. Dalam istilah Freud yang asli, dalam bahasa Jerman, adalah das Es, Ich, dan Über-Ich, secara literal dalam bahasa Inggris adalah the It, the I, dan the Over-I.

Id

Id merepresentasikan bagian kepribadian yang sangat terkait dengan dorongan instingtual yang merupakan sumber-sumber dasar dari motivasi dalam teori Freudian. Menurut Freud, dorongan-dorongan ini utamanya bersifat seksual dan agresif. Di satu sisi, id memiliki serangkaian “insting kehidupan” yang berurusan dengan pemeliharaan kehidupan, yakni yang bersifat kesatuan (unitas) dan seksual. Berlawanan dengan itu, ada serangkaian “insting kematian” yang berurusan dengan penghancuran kehidupan dan hubungan, yakni yang bersifat agresif (baik terhadap diri sendiri maupun orang lain); tujuannya adalah kondisi entropi atau nirwana, keadaan tanpa tensi/tegangan sama sekali. Freud menyatakan bahwa dorongan instingtual diberikan kekuatan oleh sebuah tanggul (reservoir) “negeri psikis” yang berlandaskan proses-proses biologis dasar. Bentuk seksual dari energi ini disebut sebagai libido.

Meskipun Freud menyatakan bahwa Id memiliki dasar biologis, namun isi id merupakan fenomena psikologis seperti keinginan (wishes), gagasan (ideas), niat (intentions), dan impuls. Fenomena ini sering disebut “turunan insting” (“instinct-derivatives”). Beberapa fenomena ini bersifat bawaan (innate), sementara yang lainnya diberikan kepada Id oleh proses represi. Semua muatan Id bersifat tak sadar (unconscious).

Freud menyatakan bahwa Id beroperasi menurut “prinsip kenikmatan” (“pleasure principle”). Prinsip ini menyatakan bahwa Id memiliki hasrat yang kuat untuk berjuang memperoleh kenikmatan dan menghindari “ketidaknikmatan” tanpa waktu tunda. Menurut Freud, kenikmatan merepresentasikan pelepasan (discharge) energi instingtual yang dipandu oleh pelepasan tensi/ketegangan. Ringkasnya, Id berjuang untuk memenuhi dorongannya dengan memungkinkan pelepasan energi instingtual yang bersifat segera dan nikmat. Kerja Id dapat digambarkan oleh ungkapan awam, “Saya mau kekasihku sekarang juga!”

Ego

Ego mempersulit gratifikasi (pemuasan) segera dari Id. Menurut Freud, “agensi psikis” (Ego) ini muncul dari serangkaian perkembangan yang dipelajari anak. Anak belajar bahwa seringkali perlu untuk menunda gratifikasi (pemenuhan). Botol susu atau buah dada Ibu tidak selalu muncul langsung secara instan ketika anak merasa lapar. Seringkali lebih baik bagi anak untuk menahan kencing pada popok yang baru diganti apabila ia ingin menghindari popok basah yang tidak enak, kejengahan, dan ocehan orangtua yang menakutkan. Ego muncul dari kapasitas/kemampuan anak untuk menunda ini. Pada waktunya, Ego menjadi pengendali ketidaksabaran Id. Namun demikian, pengendalian ini bukannya tidak fleksibel. Tugas Ego bukanlah menunda pemenuhan keinginan dan impuls selamanya, namun menentukan bilamana dan bagaimana pemenuhan itu dapat berlangsung secara paling peka atau bijaksana, dengan memperhatikan tuntutan lingkungan eksternal. Jadi, Ego bekerja menurut “prinsip kenyataan” (“reality principle”), yang mensyaratkan bahwa Ego mengatur perilaku orang menurut kondisi eksternal.

Freud menekankan bahwa Ego bukanlah kekuatan dominan dalam kepribadian, meskipun ia meyakini bahwa Ego mencoba untuk dominan. Pernyataan Freud yang terkenal tentang tujuan terapi psikoanalitik adalah, “Where Id was, there Ego shall be”. Menurut Freud, Ego tidak hanya muncul keluar dari Id [ingat, sebelumnya, bayi secara murni hanya memiliki Id], tetapi juga Ego mewarisi semua energinya dari Id. Freud membuat metafora mengenai relasi antara Ego dan Id, yakni penunggang kuda dengan kuda yang liar. Kuda tersebut menyediakan semua kekuatan, namun penunggang kuda dapat menyalurkan (kanalisasi) kekuatan tersebut ke arah tertentu.

Untungnya, penunggang ini memiliki sebuah daftar keterampilan untuk kanalisasi tersebut. Freud menyatakan bahwa Ego dapat melaksanakan berbagai “mekanisme pertahanan diri” (“defence mechanisms” untuk melayani prinsip realitas. Sejumlah mekanisme defensif ini disajikan dalam Tabel 8 berikut ini.

Mekanisme defensif

Penjelasan

Penyangkalan (denial)

Menolak untuk mengakui bahwa beberapa peristiwa yang tidak menyenangkan atau mengancam telah terjadi; pada umumnya terjadi dalam reaksi duka cita.

Isolasi afek

Secara mental memotong gagasan/ide dari asosiasi emosionalnya yang bersifat mengancam, sehingga peristiwa dapat dialami tanpa mengalami rasa tidak menyenangkan; pada umumnya terjadi pada orang-orang obsesif.

Proyeksi

Mengingkari impuls atau pikiran dan mengatribusikannya/melemparkannya kepada orang lain; pada umumnya terjadi pada orang-orang paranoid.

Formasi reaksi

Secara tidak sadar mengembangkan keinginan atau pikiran yang berlawanan dengan hal yang dianggap tidak diharapkan (undesirable); pada umumnya terjadi pada orang-orang dengan tingkah laku moral yang kaku (rigid).

Represi

Mengusir pikiran yang mengancam dari kesadaran, lupa yang dimotivasikan (motivated forgetting); pada umumnya terjadi dalam reaksi-reaksi pasca-traumatis.

Sublimasi

Secara tidak sadar menyimpangkan impuls-impuls seksual atau agresif kepada ekspresi yang berbeda yang secara sosial dapat diterima; pada umumnya terjadi pada kreasi artistik dan olahraga.

Tabel 8. Mekanisme pertahanan diri

Semua mekanisme defensif yang beragam itu merepresentasikan operasi-operasi Ego untuk menangani ancaman-ancaman terhadap ekspresi rasional dari hasrat seseorang, entah ancaman itu berasal dari Id, Ego, atau lingkungan eksternal. Meskipun Tabel 8 di atas mencantumkan situasi-situasi dalam mana Freud meyakini mekanisme-mekanisme defensif tertentu kuat, Freud menyatakan bahwa mekanisme-mekanisme defensif itu merupakan proses-proses yang umum dalam kehidupan mental sehari-hari.

Super-Ego

Sebagaimana telah kita lihat, tugas Ego adalah untuk meregulasi ekspresi impuls-impuls Id dalam merespons tuntutan-tuntutan dan peluang-peluang dari lingkungan eksternal. Namun demikian, tugas ini dipersulit dengan munculnya agensi psikis ketiga sepanjang masa kanak-kanak, yakni Super-Ego. Super-Ego merepresentasikan bentuk suara hati (conscience) awal, serangkaian nilai-nilai, standar-standar, dan gagasan-gagasan ideal moral yang diinternalisasikan. Ajaran-ajaran moral ini bukanlah jenis aturan-aturan tingkah laku yang fleksibel, memiliki penalaran, dan dapat didiskusikan. Oleh karena nilai dan standar ini diinternalisasikan orang dalam masa perkembangan kanak-kanak, maka Super-Ego cenderung relatif kasar (harsh), mutlak (absolut), dan bersifat menghukum (punitif). Jadi, moralitas orang dewasa dalam hal ini merupakan sebuah refraksi (pemantulan) dari mind seorang anak yang tidak dewasa dan penuh ketakutan. Dengan demikian, Super-Ego merepresentasikan suara-suara lengking dari aturan-aturan dan batasan-batasan sosial, suara yang mengutuk dan melarang banyak keinginan/impuls/pikiran seksual dan destruktif, dan pikiran-pikiran yang muncul dari Id.

Ego sekarang menjadi pelayan dari tiga hal: Id, Super-Ego, dan lingkungan eksternal. Sekarang tidak cukup lagi melakukan rekonsiliasi antara hal apa yang diinginkan dengan hal apa yang mungkin dilakukan dalam situasi tertentu. Ego sekarang juga perlu mempertimbangkan hal apa yang secara sosial dilarang dan tidak diizinkan. Dorongan-dorongan instingtual masih harus dipenuhi; hal ini merupakan sebuah ketetapan konstan. Namun demikian, Ego sekarang berupaya untuk memuaskannya dengan cara-cara yang secara fleksibel “realistis”, yakni, sesuai dengan minat orang dalam situasi yang ada namun yang secara sosial diperbolehkan. Pelarangan ini seringkali cukup tidak rasional dan tidak fleksibel, menolak setiap ekspresi dorongan dengan kata “Tidak” tanpa syarat, entah karena kritik moral yang berasal dari sebuah kebudayaan secara intrinsik memang bersifat kaku/rigid, atau karena internalisasi sang anak terhadap kritik moral ini dilakukan secara membabi buta (hitam-putih).

Oleh karena banyak ranah yang harus dihadapi, Ego dapat menemukan cara untuk mengekspresikan hasrat Id secara sukses, atau Ego dapat gagal dalam upaya arbitrasi ini. Dalam hal ini, masalah psikologis akan terjadi. Apabila Id memenangi pertarungan, dan hasratnya terekspresikan dalam bentuk yang lebih/kurang tak tertransformasikan, orang itu akan mengalami perasaan bersalah (guilt), suatu tanda dari Super-Ego bahwa ia telah dilanggar. Orang tersebut juga mungkin harus “membayar harga” pelanggaran ini dengan sebuah tindakan impulsif. Apabila Super-Ego mendominasi, tingkah laku orang mungkin menjadi terlampau kaku, terbatasi aturan, cemas, dan tanpa kegembiraan. Hasrat-hasrat yang terlarang mungkin akan “pergi, lari ke bawah tanah” dan memanifestasikan dirinya dalam simtom-simtom seperti kecemasan dan kompulsif, atau dalam tingkah laku atau emosi yang impulsif yang nampak sebagai “bukan karakter orang itu”.

Konsep Freud mengenai Id, Ego, dan Super-Ego memiliki implikasi bahwa konflik dalam mind tidaklah terhindarkan. Pandangannya ini sering dianggap sejumlah orang sebagai teori yang “tragis”. Terkait dengan hal tersebut, tuntutan masyarakat, atau menurut Freud “civilization” dengan demikian tidaklah terhindarkan, untuk melawan dorongan alamiah kita. Sesungguhnya, konflik intrapsikis merupakan salah satu konsep fundamental dari psikoanalisis. Bagi Freud, konflik merupakan akar dari struktur kepribadian, gangguan mental, dan hampir semua fenomena psikologis.

Meskipun model struktural berbeda dari model topografis, keduanya berhubungan dalam tingkat tertentu. Isi dari Id berada dalam Ketidaksadaran, terlarang untuk memasuki Kesadaran kecuali disamarkan dalam bentuk mimpi, keseleo lidah (slips of the tongue), simtom-simtom, dan sebagainya. Namun demikian, Ego juga memiliki komponen Ketidaksadaran, karena banyak dari pertahanan psikologis dilakukan di luar kesadaran dan tidak dapat diakses melalui introspeksi. Super-Ego juga memiliki komponen Ketidaksadaran, karena mengandung moralitas penghukum yang seringkali bersifat “primitif” dan irasional, yang tercermin dalam keyakinan-keyakinan dan prinsip-prinsip hidup kita.

Model Genetis

Model genetis Freud memiliki konotasi “perkembangan”, bukan terkait dengan gen-gen. Freud menyatakan bahwa perkembangan anak berproses melalui serangkaian tahap-tahap yang berbeda sampai dengan masa dewasa. Setiap tahap tersebut memiliki temanya sendiri dan preokupasinya sendiri. Hal yang baru dari teori tahap Freud adalah bahwa tahapan dimengerti dalam konteks seksualitas anak. “Seksualitas” bermakna lebih daripada sekadar seksualitas genital orang dewasa, melainkan merujuk pada kenikmatan tubuh dan sensualitas yang lebih luas. Freud meyakini bahwa seksualitas orang dewasa hanya merepresentasikan kulminasi dari tahap-tahap “psikoseksual” anak, dalam hal mana fokus psikoseksual berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lainnya. Semua bagian tubuh (“zona erotogenik”) ini memiliki lubang terbuka bersama dengan membran-membran mukus yang sensitif (namun, dalam teori Freud, hidung tidak memiliki tahapnya sendiri, meskipun Freud sempat berspekulasi secara ringkas mengenai erotisme hidung). Mula-mulanya, sensualitas anak bayi berpusat pada mulut, diikuti oleh anus, dan kemudian alat kelamin (genital) pada masa kanak-kanak awal. Setelah sejumlah “drama” pada usia 5 tahun, seksualitas anak teredam beberapa tahun, namun muncul kembali dalam masa pubertas.

Tahap oral

Menurut Freud, tindakan menghisap yang dilakukan bayi tidak murni bersifat nutrisional (untuk memperoleh asupan gizi). Meskipun bayi jelas memiliki kebutuhan dasar untuk diberi makan, namun bayi juga memperoleh kenikmatan (Freud menyebutnya: kenikmatan seksual) dalam tindakan itu. Bayi nampak menikmati stimulasi (rangsangan) pada bibir dan rongga mulut, dan seringkali senang terlibat dalam “tindakan menghisap” yang bukan ditujukan untuk memperoleh makanan/gizi (“non-nutritive sucking”) saat mereka tidak lagi lapar, atau saat penyediaan susu terhenti. Di samping merupakan sumber kenikmatan badaniah yang intensif bagi bayi, tindakan menghisap juga mencerminkan cara bayi mengekspresikan cinta dan dependensi (kebergantungan) kepada pengasuh yang menyusuinya, biasanya ibunya. Tindakan tersebut juga menunjukkan posisi pengertian terhadap dunia, pengambilan tempat dalam pengalaman baru.

Di samping itu, tahap oral juga memiliki komponen agresif. Komponen “oral-sadistik” ditunjukkan dengan kenikmatan bayi dalam menggigit dan makan dengan rakusnya.

Tahap anal

Pada sekitar usia 2 tahun, anak mengembangkan derajat kontrol otonomi terhadap otot-ototnya. Termasuk otot-otot anus yang mengendalikan ekskresi (pembuangan). Setelah tahap oral (yang memuat pasivitas dan dependensi), anak mulai mengambil pendekatan yang lebih aktif terhadap kehidupan. Menurut Freud, tema-tema tentang aktivitas, otonomi, dan kontrol memainkan peran yang paling krusial di sekitar anus. Anak belajar untuk mengendalikan defekasi (buang air besar), dan menemukan bahwa hal ini dapat mengendalikan lingkungannya, khususnya orangtuanya, dengan membuang atau menahan faeses (kotoran)-nya. Lebih jauh lagi, dalam kontrol ini, bayi memperoleh kenikmatan, yang disebut Freud sebagai “erotisme anal”. Konflik penting dalam tahap ini melibatkan toilet-training. Anak berjuang untuk memenuhi tuntutan orangtua, bahwa anak harus mengontrol defekasinya menurut aturan tertentu. Namun demikian, tahap anal menyajikan serangkaian tema, pertarungan, kenikmatan, dan preokupasi yang tidak dapat direduksi semata-mata pada toilet-training.

Tahap falik

Pada tahap kanak-kanak awal, lokasi primer kenikmatan seksual dan minat bergeser dari anus ke genital (alat kelamin). Anak laki-laki menjadi terpesona dengan penisnya, dan anak perempuan dengan klitorisnya. Namun demikian, Freud menyebut tahap ini sebagai “tahap falik” ketimbang “tahap genital”, karena ia berpendapat bahwa kedua jenis kelamin tersebut berfokus pada organ laki-laki. Kata “phallus” merujuk bukan pada penis anatomis aktual namun merujuk pada nilai simboliknya. Ringkasnya, anak laki-laki memiliki penis, namun mengetahui bahwa anak perempuan tidak memilikinya; dan ia meyakini bahwa ia dapat saja kehilangan penis. Anak perempuan mengetahui bahwa ia tidak memiliki penis dan berharap bahwa ia memilikinya. Inilah pertama kali perbedaan antar jenis kelamin serta kontras antara maskulinitas dan femininitas sungguh-sungguh menjadi isu bagi anak. Hal ini juga merupakan tahap pertama di mana teori psikoseksual Freud memaparkan perbedaan jenis kelamin serta menandai titik krusial anak menjadi makhluk yang berkelamin (gendered being).

Perbedaan anak laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan phallus memainkan peran penting dalam menyingkap drama yang terjadi dalam keluarga sepanjang tahap ini, sekitar usia 3 sampai 5 tahun. Drama ini dikenal sebagai “Oedipus complex”. Oedipus Complex adalah legenda Yunani yang menceritakan bahwa Oedipus tanpa disadari membunuh ayahnya sendiri dan menikahi ibunya. Anak laki-laki dalam teori Freud mengarahkan hasrat falusnya kepada ibunya, objek cintanya. Sebagai konsekuensinya, anak laki-laki itu cemburu terhadap ayahnya, yang nampaknya memonopoli kepemilikan ibunya. Anak laki-laki mengalami “kecemasan kastrasi”, yakni ketakutannya bahwa penis (yang dihadiahi) yang ia miliki dapat hilang. Hal ini memunculkan gagasan dalam diri anak bahwa ayahnya mampu mengenakan hukuman ini (penghilangan penis) apabila ayahnya mengenali hasrat anak kepada ibunya. Dihadapkan pada ketakutan ini, sang anak melepaskan dan menekan hasrat ini, dan sebagai gantinya mengidentifikasikan dirinya dengan ayahnya. Anak laki-laki menjadi peniru (imitator) ayahnya ketimbang lawan (rival) ayahnya. Dengan cara ini, anak laki-laki mempelajari maskulinitas, serta menginternalisasikan aturan-aturan dan norma-norma sosial yang direpresentasikan ayahnya (Super-Ego).

Kasus pada anak perempuan agak sedikit berbeda. Menurut Freud, anak perempuan sangat merasa kehilangan penisnya (“penis envy”) dan menuduh bahwa ibunya lah yang telah membuat dirinya tak lengkap dan menyedihkan. Ayahnya lalu menjadi objek cinta primernya, dan ibunya menjadi lawannya. Selanjutnya, proses serupa dengan anak laki-laki terjadi. Anak perempuan merepresi (menekan) rasa cintanya kepada ayahnya, serta melakukan identifikasi dengan ibunya dan mengembangkan femininitas. Namun demikian, oleh karena perempuan tidak mengalami ancaman kastrasi (pemotongan penis), proses tersebut dialaminya dengan tekanan emosional yang sedikit. Karenanya, perempuan juga menginternalisasikan Super-Ego namun Super-Ego ini lebih lemah atau “kurang menghukum”.

Latensi

Setelah pergolakan kompleks Oedipus, dorongan-dorongan seksual menuju peredaan (semi-hibernation). Sepanjang tahun-tahun sekolah pra-pubertas, anak-anak terlibat dalam aktivitas yang bersifat kurang seksual. Hubungan anak dengan yang lain juga mengalami deseksualisasi. Anak-anak tidak lagi menghasrati orangtua mereka, melainkan mengidentifikasikan diri dengan mereka. Interupsi seksualitas pada masa kanak-kanak ini sebagian besar merupakan hasil dari represi masif dari perasaan seksual dari tahap falik. Salah satu konsekuensi dari represi ini adalah bahwa anak menjadi lupa tentang perasaan seksual awal mereka. “Lupa” ini merupakan sumber utama amnesia kita terhadap masa kanak-kanak kita. Pengaturan sosial seperti sekolah formal memperkuat represi seksualitas selama fase latensi, yang menyebabkan anak-anak memfokuskan energi mereka pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang bernilai secara kultural.

Tahap genital

Periode latensi berakhir dengan gelombang energi seksual yang didorong secara biologis yang mengiringi masa pubertas. Tahap genital merupakan tahap final dalam perkembangan psikoseksual, yang bila telah dilalui dengan baik akan menghasilkan seseorang dengan kapasitas untuk cinta seksual yang dewasa. Fokus kenikmatan seksual berbeda dengan seksualitas sebelum masa latensi, karena pada tahap genital seksualitas berfusi atau bergabung dengan kapasitas afeksi sejati terhadap objek hasrat. Di samping itu, kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) sekarang dibangun dalam genital mereka sendiri, bukan berfokus pada penis sebagaimana terjadi pada tahap falik.

Menurut model genetik, orang melalui setiap tahapan psikoseksual sebagai jalan menuju kedewasaan. Namun demikian, kita tidak melaluinya dengan mulus. Ada sejumlah hal dalam mana orang memiliki kesulitan dalam tahapan tertentu, dan ketika hal ini terjadi, maka orang mengembangkan suatu “fiksasi” Fiksasi merupakan kesulitan yang tak terselesaikan yang dapat menyebabkan gangguan kepribadian. Apabila orang tidak menerima pengasuhan dan pemuasan yang dapat diandalkan selama tahap oral (atau, apabila orang justru terlampau dimanjakan dalam hal ini), fiksasi dapat berkembang. Bilamana orang dihadapkan dengan stres, mereka dapat berbalik kepada cara-cara tidak dewasa untuk menanggulangi dunia pada masa-masa tersebut, yang disebut Freud sebagai “regresi”. Fiksasi oral terkait dengan depresi dan adiksi, fiksasi anal terkait dengan gangguan obsesif-kompulsif, fiksasi falik terkait dengan histeria. Karakteristik oral cenderung ditandai oleh pasivitas dan dependensi (ketergantungan), menggunakan pertahanan ego yang tidak dewasa seperti penyangkalan (denial). Karakteristik anal cenderung tidak fleksibel, kikir/pelit, keras kepala, dan rapi, dengan menggunakan pertahanan ego isolasi afek dan formasi reaksi. Karakteristik falik cenderung impulsif, sombong, dan kepala batu, dengan pertahanan diri berupa represi. Oleh karena ketiga tipologi ini, maka teori kepribadian psikoanalitik menjadi psikologi perbedaan individual.

Perkembangan Post-Freudian

Psikoanalisis tidak berakhir dengan Freud. Gerakan psikoanalisis justru sangat aktif sejak kematian Freud 1939, dan banyak pengembangan teoretisnya.

Teori-teori Neo-Freudian

Ada sebuah kelompok informal “cair” yang terdiri atas berbagai teoris. Kebanyakan dari mereka adalah imigran Eropa ke Amerika menyusul Perang Dunia II, yang membuat pemikiran psikoanalitis lebih dapat diakses dan memperoleh arah sosial. Sebagai contoh, Erich Fromm mengawinkan pemikiran Freudian mengenai pembentukan karakter dengan gagasan sosiologis dan politis mengenai kebebasan manusia dan masyarakat yang baik. Dalam karyanya, Fromm menyatakan bahwa kebutuhan orang melampaui dorongan-dorongan Freudian, yang mencakup hubungan cinta dengan orang lain dan perasaan identitas. Fromm lebih lanjut menyatakan bahwa banyak pengaturan-pengaturan sosial dan politis telah mendistorsi atau pun gagal memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar kita. Orang seringkali berupaya untuk membebaskan dirinya dari ketakutan akan kebebasan dan perasaan tidak aman yang dibawanya.

Fromm menulis buku-buku populer yang memperluas gagasan psikoanalitis ke dalam studi-sudi masyarakat dan menyatakan bahwa kekuatan masyarakat merupakan penyebab dari reformasi progresif. Serupa dengan itu, Karen Horney menulis sejumlah buku (sebagiannya merupakan buku-buku manual bantu diri/self-help) yang memberikan peran yang besar pada kekuatan sosial dalam kehidupan mental, jauh melampaui peran yang diberikan Freud. Baik Fromm maupun Horney menyatakan bahwa konflik sosial (konflik antar orang atau antara orang dengan lingkungan sosial yang lebih luas) penting bagi perkembangan kepribadian dan perilaku; sama pentingnya dengan konflik intrapsikis yang ditekankan oleh Freud. Banyak kontribusi yang paling signifikan dari Hornet yang menantang pandangan Freud tentang seksualitas perempuan dan perkembangan perempuan, termasuk kritik terhadap konsep iri penis (penis envy). Ketimbang merasa iri dan inferior terhadap laki-laki mengenai anatominya, Horney berpendapat bahwa banyak perempuan justru lebih menderita karena penekanan yang berlebihan terhadap cinta serta kekurangan kepercayaan diri (Hall & Lindzey, 1978). Horney menawarkan revisi terhadap konsep-konsep Freud, dan ia memandang bahwa kebutuhan akan rasa aman (security) dan kehangatan (warmth) merupakan motivasi manusia yang sesungguhnya ketimbang dorongan instingtual (konsep Freud). Horney juga mengatribusikan penderitaan manusia sebagai sesuatu yang disebabkan oleh perasaan tak tertolong/tak berdaya (helplessness), isolasi dan kebutuhan neurotik akan persetujuan (approval), prestasi (achievement), dan kekuatan (power); ketimbang disebabkan oleh kompromi antara kehendak-kehendak (wishes) dan larangan-larangan superego. Walaupun Horney mempertahankan inti komitmen psikoanalisis pada sentralitas proses-proses ketidaksadaran dan konflik, namun jelas bahwa Horney dan kaum Neo-Freudian yang lain telah berjalan jauh secara teoretis dari Freud.

Psikologi Ego

Psikologi ego merupakan perkembangan utama lain dari Amerika dalam teori psikoanalisis. Penekanan teoretis utamanya adalah pada fungsi ego. Ego merupakan struktur yang seringkali dilukiskan oleh Freud dipengaruhi langsung oleh dorongan-dorongan serta bertanggungjawab terhadap irasionalitas yang dihasilkan oleh represi dan mekanisme defensif lainnya. Para psikolog ego, seperti Heinz Hartmann, Robert White, dan George Klein, memberikan peran yang lebih kuat kepada ego, menyajikan ego sebagai sumber kekuatan psikologis dan secara potensial merupakan pertahanan yang matang (mature defence). Ego juga dipandang memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan tuntutan dunia luar, ketimbang semata-mata menyelesaikan masalah ketegangan internal. Di samping penekanan pada kapasitas adaptif ego, para psikolog ego juga menyatakan bahwa sejumlah fungsi ego secara relatif bebas dari konflik psikis, yang menyusun “bidang bebas konflik” ego. Bahkan ego memiliki dorongan intrinsiknya sendiri menuju penguasaan kompeten terhadap tugas, ketimbang secara sederhana mencari jalan untuk menyalurkan impuls-impuls seksual dan agresif dalam cara-cara yang dapat diterima secara sosial (Freud).

Kenyataannya, banyak ahli-ahli psikologi ego merupakan psikolog (psychologist). Hal ini mungkin nampaknya tidak mengejutkan, namun harus dipahami bahwa pada masa itu kebanyakan ahli psikoanalisis merupakan para dokter medis. Para psikolog ego ini terbuka terhadap psikologi akademis arus utama (mainstream) ketimbang mazhab psikoanalisis lainnya. Psikolog ego membuat upaya-upaya pertama untuk menguji secara sistematis-empiris hipotesis-hipotesis psikoanalisis. Mereka juga menyelenggarakan penelitian psikologis dalam tradisi psikologi sifat (trait psychology) dengan mempelajari perbedaan individual dalam “gaya kognitif”. Sebagai contoh, Klein menyatakan bahwa cara bagaimana orang mempersepsi lingkungannya sangat penting untuk dapat mengerti tingkah laku seseorang; sama pentingnya dengan memahami struktur-struktur dorongan (drives), pertahanan (defences), dan super-ego. Ia menemukan bahwa orang-orang berbeda secara sistematis dalam perhatian (atensi) mereka terhadap detail lingkungan mereka. Sejumlah orang melihat lingkungan dengan cara-cara yang relatif difus (menyebar) dan impresionistik; sedangkan sejumlah orang yang lain berfokus pada detail (rincian) lingkungan, dan sebagai akibatnya seringkali mempersepsinya dalam konteks yang lebih luas. Ringkasnya, para psikolog ego membawa psikoanalisis pada apresiasi yang lebih besar terhadap kognisi, terhadap adaptasi terhadap lingkungan, dan terhadap kebutuhan akan penelitian psikologis empiris.

Teori Relasi-relasi Objek

Psikologi ego memberikan ego peran yang lebih besar dalam teater kehidupan mental, namun sebaliknya membiarkan banyak teori psikoanalisis klasik Freudian tanpa kritik. Teori motivasi yang dibangun atas dorongan seksual dan agresif dibiarkan utuh, sebagaimana pandangan bahwa kompleks Oedipus merupakan titik balik krusial bagi perkembangan psikologis. Orang masih dimengerti sebagai seorang individu yang lebih-kurang soliter dengan dikepung/diserang oleh kehendak-kehendak dan impuls-impuls terlarang, larangan-larangan super-ego yang bersifat menghukum, serta tuntutan-tuntutan dunia luar. Meskipun para psikolog ego tetap setia dengan banyak doktrin psikoanalitis dasar, para psikolog aliran object relations mulai muncul di Inggris pada tahun 1950-an dan menantang aspek-aspek teori psikoanalisis klasik.

Salah satu cara para teoris object relations, seperti Melanie Klein, Ronald Fairbairn, dan Donald Winnicott, memisahkan diri dari psikoanalisis klasik adalah dengan menekankan perkembangan pra-oedipal. Para teoris ini berfokus pada perhatian mereka terhadap tahun-tahun pertama kehidupan, dalam hal mana menurut Freud kehidupan anak dibungkus dalam hubungan “diadik” eksklusif dengan figur keibuan, sebelum memasuki area “triadik” hubungan Oedipal yang lebih kompleks (yakni, segitiga hubungan anak-ibu-ayah). Sepanjang masa tersebut, anak mengembangkan perasaan dirinya sebagai seorang individu yang berbeda dari orang lain, dan juga mempelajari bagaimana berhubungan dengan orang lain, mengalami pertama kalinya konflik antara independensi dengan interdependensi. Menurut para teoris object relations, bayi pada mulanya mengalami dirinya tergabung dengan dan tidak berbeda dari figur keibuannya. Bayi harus melalui sejumlah tahapan yang seringkali menyakitkan ketika mulai memasuki perasaan yang stabil sebagai individu yang terpisah dan otonom. Para teoris object relations membedah cara-cara orang secara mental merepresentasikan orang lain sepanjang tahapan yang berbeda ini, dan sebagai orang dewasa, bagaimana “representasi objek” ini mengatur cara-cara orang berhubungan dengan orang lain. Oleh karena persoalan otonomi dan keterhubungan sangat krusial bagi relasi-relasi orang dewasa, pendekatan object relations terhadap psikoanalisis menekankan hubungan-hubungan antarpribadi lebih banyak ketimbang psikoanalisis klasik Freudian.

Penekanan pada hubungan ini juga mewarnai pandangan para teoris object relations tentang motivasi. Ketimbang mengakui seksualitas dan agresi sebagai dorongan primer, sejumlah teoris object relations mengajukan sebuah dorongan dasar keterhubungan (relatedness). Orang menghasrati hubungan interpersonal tidak sesederhana sebagai kesempatan pemenuhan ketegangan instingtual yang mendatangkan kenikmatan. Gagasan ini menyempurnakan pandangan evolusioner mengenai perkembangan bayi dan memberikan dasar bagi para teoris seperti John Bowlby (1969) yang menyelidiki pembentukan kelekatan (attachments) pada anak-anak.

Psikoanalisis Lacanian

Pemikiran psikoanalisis lain yang populer dalam beberapa dekade terakhir, khususnya di Eropa dan Amerika Selatan, dipelopori oleh psikoanalis Perancis, Jacques Lacan. Lacan mengembangkan teori psikoanalitis dalam arah radikal baru. Lacan menantang banyak keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik psikoanalisis arus utama (mainstream), khususnya psikoanalisis yang berkaitan dengan psikologi ego Amerika. Lacan menyatakan bahwa dengan mengizinkan adanya wilayah bebas-konflik pada ego dan dengan memahami kesehatan mental dalam konteks kapasitas ego yang kuat untuk menguasai tuntutan kehidupan, maka para psikolog ego membelokkan psikoanalisis menjadi psikologi pengembangan diri dan adaptasi terhadap lingkungan sosial yang sifatnya dangkal. Bagi Lacan, kecenderungan ini tidak hanya tercermin dalam pendekatan “Amerika” terhadap kehidupan, tetapi juga terlah menghapus hal yang paling mengancam dalam teori Freud. Lacan mengajukan tanggapan “kembali ke Freud”.

Versi Lacan dari Freud menyandarkan diri utamanya pada teori linguistik dan kecenderungan intelektual pada abad ke-20 Perancis, seperti gerakan strukturalis. Ia menyatakan bahwa Ketidaksadaran distrukturkan seperti sebuah bahasa, sehingga operasi-operasi Ketidaksadaran dapat dibandingkan dengan fenomena kebahasaan (sebagai contoh, ia membandingkan represi dengan metafora). Salah satu konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa untuk menyingkap materi ketidaksadaran, psikoanalis harus menginterpretasikan atau pun membongkar (decode) serangkaian petunjuk dengan banyak kecerdasan verbal. Meskipun dinyatakan dengan agak sembrono, Lacan juga pernah menyatakan bahwa para analis dapat mempersiapkan profesi mereka dengan mengerjakan teka-teki silang (crossword puzzles). Lacan juga menyatakan bahwa ego bukanlah organ kontrol diri dan adaptasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh para psikolog ego. Ego merupakan perasaan tak stabil dan ilusif tentang kesatuan pribadi. Bagi Lacan, perasaan diri kita (sense of self) merupakan jaringan identifikasi dengan orang yang telah kita kenal. Satu-satunya kesatuan yang kita bayangkan kita miliki adalah merupakan fiksi, sebuah cara yang membuat kita nyaman dan menipu diri kita sendiri untuk menarasikan cerita pribadi kita. Diri kita sesungguhnya “terdesenterisasi”.

Gagasan-gagasan semacam ini cukup mengganggu. Apakah kita sungguh-sungguh terjebak dalam jaringan simbol dan tanda, kehilangan pusat (center) diri dan identitas yang stabil, termakan kekuatan hasrat-hasrat tidak sadar yang hampir mustahil untuk kita pahami? Dengan membuat klaim-klaim ini secara ekstrim dan tegas, Lacan bertujuan untuk menangkap kembali radikalisme yang diberikan Freud kepada para pembaca pertamanya. Teori Lacanian tetap bersifat radikal dalam komunitas psikoanalitis. Teori ini telah luas digunakan oleh pelajar sastra dan kultur, dengan menjaga jarak dari psikologi akademis dan diasosiasikan dengan pendekatan terhadap pemahaman psikoanalitis yang bersifat tidak biasa, abstrak dan intelektual.

Keempat cabang teori psikoanalitis yang dibahas di atas (Neo-Freudian, Psikologi Ego, Teori Relasi-relasi Objek, dan Teori Lacanian) hanya merupakan sejumlah sampel dari mazhab pemikiran yang berkembang sejak Freud. Namun demikian, hal ini membuat kita menyadari adanya keragaman keyakinan dalam psikoanalisis, dan bahwa psikoanalisis kontemporer tidak dapat direduksi kepada warisan Freud. Sesungguhnya, sejak kematian Freud, psikoanalisis tidak hanya memiliki diversitas pada sejumlah lini, namun juga telah menunjukkan sejumlah kecenderungan yang luas. Secara umum, teori psikoanalitis kontemporer memberikan perhatian lebih banyak kepada hubungan-hubungan interpersonal, memberikan lebih sedikit peran kepada pemikiran Freud tentang dorongan (drives), tidak lagi menggantungkan diri pada konsep-konsep usang seperti energi psikis dan insting, serta berupaya untuk melakukan rekonsiliasi dengan psikologi empiris.

Pendekatan Kognitif

Dalam sebuah naskah klasik yang dipublikasikan tahun 1990, seorang psikolog Amerika, Nancy Cantor melukiskan pembedaan yang penting antar dua cara mempelajari kepribadian. Yang pertama adalah dengan mempelajari hal-hal yang orang “miliki”. Yang kedua adalah mempelajari hal-hal yang orang “lakukan”. Psikologi “memiliki” menyelidiki atribut-atribut yang dimiliki orang, yakni karakteristik-karakteristik yang menyusunnya serta membedakan mereka dari orang lain. Hal ini dikenal sebagai psikologi sifat (trait psychology) sebagaimana dibahas di atas. Namun, sebagaimana kita ketahui, psikologi sifat tidak tanpa kritik. Sejumlah kritik menyatakan bahwa psikologi sifat menggambarkan orang sebagai koleksi atribut-atribut statis, dan gagal untuk menangkap proses-proses sifat yang membangkitkan cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Sifat lebih mendeskripsikan “apa” ketimbang “bagaimana” kepribadian itu. Untuk itulah psikologi “melakukan” dari Cantor mengisi kesenjangan ini. Cantor berargumen bahwa psikologi kepribadian membutuhkan sebuah pendekatan yang melengkapi psikologi sifat dengan menampakkan proses-proses mental yang bertanggung jawab terhadap bagaimana kita melakukan sesuatu. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan kognitif.

“Kognisi” yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan-kegiatan mental seperti berpikir, meyakini (believing), menilai (judging), menafsirkan (interpreting), mengingat (remembering), merencanakan, dan sejenisnya. Pendekatan kognitif terhadap psikologi muncul pada tahun 1950-an dan 1960-an, dengan pengakuan bahwa proses-proses kognitif harus ada untuk menjelaskan tingkah laku. Jelas dari analisis terhadap sifat bahasa dan pembelajaran bahasa bahwa kegiatan manusia sangatlah kreatif, fleksibel, dan kompleks, serta mensyaratkan sebuah sistem pemrosesan informasi kompleks yang mendasarinya. Prinsip dasar psikologi kognitif ialah bahwa pembelajaran dan memori merupakan proses-proses aktif. Orang tidak berhubungan dengan lingkungannya secara pasif (hanya mendaftarkan apa yang terjadi), namun menjumpainya secara aktif, dan berkeinginan untuk membuat pemaknaan terhadapnya. Kita secara aktif menyaring dan memberikan perhatian terhadap informasi yang datang menurut konsen-konsen saat ini. Kita secara aktif menggunakan pola-pola dan makna-makna berdasarkan pengetahuan dan harapan-harapan kita, serta secara aktif melakukan pencarian pada memori kita untuk melakukannya. Para psikolog kognitif mengembangkan banyak metode penelitian baru yang memungkinkan proses-proses mental ini dipelajari dalam situasi terkontrol dan ilmiah.

Serupa dengan itu, pendekatan kognitif terhadap kepribadian menekankan proses-proses aktif, penciptaan makna yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-harinya. Para pendukung pendekatan ini mempelajari proses-proses yang digunakan orang dalam menginterpretasikan lingkungan, menjelaskan peristiwa, menanggulangi tantangan kehidupan, mengimajinasikan dan merencanakan masa depan, serta menggunakan strategi untuk mencapai tujuannya. Penekanan pada proses kognitif dan penciptaan makna yang aktif ini membedakan pendekatan kognitif dari pendekatan biologis dan pendekatan psikoanalitis terhadap kepribadian yang kita bicarakan sebelumnya.

Tidak seperti pendekatan biologis, pendekatan kognitif merujuk pada fenomena yang dekat dengan pengalaman subjektif. Para teoris dan peneliti biologis membicarakan landasan disposisi kepribadian, dan tidak melakukan upaya untuk mempelajari bagaimana tingkah laku, pikiran, dan emosi diekspresikan dan dihidupkan. Pendekatan biologis juga lebih banyak berbicara tentang struktur-struktur dan sifat-sifat (“memiliki”) ketimbang proses-proses; pendekatan ini berfokus pada gen-gen dan pola-pola fisiologis. Pendekatan psikoanalitis sudah barang tentu membuat banyak rujukan pada proses-proses kognitif (seperti, mekanisme defensif, proses pikir primer dan sekunder, dan sebagainya) namun tidak secara sistematis. Para teoris psikoanalitis menekankan peran emosi dan dorongan dalam kepribadian. Kognisi dalam teori psikoanalisis secara umum dipandang sebagai sesuatu yang bergantung pada hasrat-hasrat (desires, urges), bersifat reaktif ketimbang pro-aktif, dan dimengerti pertama-tama sebagai ketidaksadaran. Pandangan terhadap kognisi ini sangat kontras dengan psikologi kognitif yang menekankan pada sifat aktif, mengejar tujuan, dan seringkali dapat diakses secara subjektif.

Guna memahami pendekatan kognitif terhadap kepribadian, penting untuk menelusuri pendekatan-pendekatan teoretis terhadap kepribadian yang akhirnya membawa perkembangan pada pendekatan kognitif. Pendekatan-pendekatan ini tidak lagi menonjol, namun pendekatan-pendekatan ini memberikan konteks historis dalam hal mana perspektif kognitif dapat diapresiasi.

Behaviorisme

Psikologi kognitif sebagiannya dimulai sebagai perlawanan terhadap mazhab “behavioris” yang dominan dalam psikologi. Behaviorisme itu sendiri mulai sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan pendekatan yang lebih ketat (rigorous) dan eksperimental terhadap psikologi ketimbang pendekatan-pendekatan yang mendahuluinya. Kaum behavioris (yang paling terkenal adalah psikolog Amerika, B. F. Skinner) menyatakan bahwa psikologi hendaknya menjadi ilmu tingkah laku ketimbang ilmu mind. Menurut mereka, proses-proses mental itu sendiri bersifat subjektif, tak teamati, serta sulit untuk ditentukan, sehingga proses-proses mental itu bukanlah fenomena yang tepat bagi studi ilmiah atau pembangunan teori psikologis. Sebaliknya, ilmu psikologis hendaknya berfokus pada apa yang dapat kita amati dan kita kontrol, khususnya perilaku manifes dan hubungannya dengan peristiwa-peristiwa teramati dalam lingkungannya. Apapun yang terjadi dalam organisme, antara persepsi terhadap sebuah peristiwa dan munculnya respons tingkah laku terhadapnya, tidak berada dalam jangkauan ilmiah.

Behaviorisme pertama-tama merupakan analisis empiris terhadap bagaimana organisme merespons lingkungannya, dan secara khusus bagaimana respons-respons behavioral ini berubah seiring dengan perubahan lingkungan. Ringkasnya, behaviorisme adalah mengenai psikologi belajar (psychology of learning). Kaum behavioris secara luas dan mendalam mempelajari bagaimana makhluk-makhluk memodifikasi tingkah laku mereka merespons pola-pola hadiah (reward) dan hukuman (punishment) yang berbeda. Pemahaman terhadap belajar adalah bersifat pasif dan deterministic: pola-pola hadiah dan hukuman secara langsung memengaruhi tingkah laku kita, dan tingkah laku kita semata-mata merupakan fungsi dari hadiah dan hukuman yang kita alami dalam kehidupan kita. Organisme bukanlah partisipan aktif dalam belajar, dan teori tidak menyisakan ruang bagi organisme untuk memiliki tujuan atau kebebasan bertindak sesuai pilihan-pilihannya.

Namun demikian. Behaviorisme memiliki keterbatasan serius sebagai sebuah psikologi kepribadian. Masalahnya bukanlah pada penggambaran organisme yang pasif dan deterministik, melainkan terletak pada hal-hal berikut ini. Pertama, behaviorisme sedikit sekali berurusan dengan manusia sebagai makhluk yang unik. Behaviorisme merupakan sebuah pendekatan terhadap studi proses belajar lintas banyak organisme, lebih daripada sebuah teori tentang individualitas manusia. Banyak dari bukti-bukti studinya berbasiskan pada studi-studi terhadap tikus-tikus dan merpati-merpati, dan secara menyedihkan cenderung gagal dalam mencari penjelasan atas fenomena yang unik bagi spesies manusia. Tidaklah kebetulan bahwa pentingnya psikologi kognitif ditegaskan oleh Noam Chomsky ketika ia mendemonstrasikan ketidakmampuan behaviorisme untuk menjelaskan bahasa manusia. Kedua, behaviorisme tidak memiliki penjelasan tentang struktur kepribadian: orang hanya merupakan sekumpulan tendensi-tendensi behavioral spesifik ketimbang memiliki dimensi-dimensi yang luas (sebagaimana dalam psikologi sifat) atau komponen-komponen yang mendasari (sebagaimana dalam psikoanalisis). Ketiga, kaum behavioris memandang motivasi secara sederhana. Orang semata-mata mencari hadiah dan menghindari hukuman. Tidak ada ruang bagi kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, dan hasrat-hasrat yang lebih terperinci. Keempat, pendekatan behaviorisme nampaknya meminimalkan kontribusi orang terhadap perilaku. Perilaku kita secara sederhana hanya merefleksikan sejarah belajar kita; jadi kita secara esensial semata-mata merupakan produk dari lingkungan kita. Individualitas tidak terdapat dalam orang sebanyak pada sejarah perjumpaan orang tersebut dengan dunia eksternal.

Jadi jelaslah bagaimana psikologi kognitif dan pendekatan kognitif terhadap kepribadian berbeda dari behaviorisme. Para kaum kognitivis mendeklarasikan proses-proses mental sebagai topik yang sah untuk dipelajari, menekankan sifat aktif dan (relatif) bebas dari seseorang serta mendorong fokus pada atribut-atribut dan kapasitas-kapasitas yang bersifat unik. Namun demikian, terlepas dari semua kekurangannya, behaviorisme meninggalkan dua warisan penting bagi pendekatan kognitif terhadap kepribadian. Pertama, para pendukung pendekatan kognitif mempertahankan komitmen kepada metode ilmiah sebagai sarana untuk mempelajari orang. Kedua, mereka mempertahankan keyakinan behavioris bahwa belajar (learning) merupakan proses yang penting secara fundamental. Lebih daripada banyak para teoris kepribadian yang lain, para teoris kognitif menyatakan bahwa orang tidak memiliki atribut-atribut yang tetap (fixed) melainkan atribut-atribut yang lentur (malleable). Mengubah kepribadian seseorang adalah sama mudahnya (atau sama sulitnya) dengan mengubah mind (kognisi) mereka.

Teori-teori humanistik

Sebagaimana telah kita lihat, pendekatan kognitif terhadap kepribadian sangat berbeda dari behaviorisme dalam beberapa hal namun juga memiliki keserupaan dengannya. Pendekatan lain yang juga memiliki sejumlah keserupaan dan perbedaan dengan pendekatan kognitif adalah pendekatan humanistik.

Dua tokoh kunci dalam pendekatan humanistik adalah Abraham Maslow dan Carl Rogers. Kedua teoris ini bereaksi melawan behaviorisme dengan menekankan aspek-aspek aktif, bebas, dan kreatif dari manusia, dengan menjadikan rasionalitas dan kesadaran sebagai proses-proses sentral dalam tingkah laku manusia, dan dengan menolak upaya koersif mengontrol orang dengan hadiah dan hukuman. Kedua teoris memandang orang sebagai makhluk yang secara intrinsik termotivasi untuk tumbuh dan berkembang secara positif, serta melihat lingkungan tidak sedemikian mendeterminasi orang melainkan sebagai sebuah konteks yang dapat memungkinkan pertumbuhan dan realisasi diri. Di samping itu, kedua teoris menggunakan konsep-konsep kognitif.

Menurut psikologi Maslow (1962), orang memiliki dorongan internal untuk merealisasikan potensinya (“aktualisasi diri”), dan akan secara alami cenderung melakukannya kecuali lingkungan sosialnya membatasi peluang dan pilihannya. Asalkan kebutuhan dasar kita untuk kelangsungan badaniah, keamanan, dan kedekatan dengan orang lain, serta penghargaan dari orang lain terpenuhi, kita akan berjuang untuk pertumbuhan pribadi. Pengaturan-pengaturan sosial yang gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan penderitaan neuroik. Ketika orang semakin dekat dengan aktualisasi diri, mereka mengadopsi cara-cara berpikir yang berbeda, menjadi kurang bersifat menghakimi (less judgmental).

Pendekatan Rogers terhadap psikologi kepribadian (Rogers, 1961) serupa dalam hal optimisme dan keyakinannya dalam sebuah tendensi intrinsik untuk mengaktualisasikan diri. Teori kepribadiannya menekankan peran pengalaman subjektif di atas lingkungan eksternal. Persepsi dan interpretasi terhadap situasi dan peristiwa lah yang menentukan tingkah laku seseorang, bukan fakta-fakta eksternal itu sendiri. Diri (self) memainkan peran sentral khusus dalam psikologi Rogers, yakni berfokus pada salah satu kebutuhan terkuat kita (yakni kebutuhan akan “penghargaan positif”/positive regard). Kesejahteraan pribadi (well-being) mengikuti ketika orang lain menghargai kita tanpa syarat (unconditionally), yang memungkinkan kita untuk bertindak menurut “diri sejati” (“true self”) kita.

Pendekatan humanistik terhadap kepribadian menyerupai pendekatan kognitif dalam hal penolakannya terhadap pandangan pasif dan deterministik terhadap orang oleh kaum behavioris. Pendekatan humanistik dan pendekatan kognitif juga memiliki kesamaan dalam posisi bahwa proses-proses mental dan pengalaman subjektif merupakan fenomena yang penting secara vital untuk diteliti. Para teoris dari kedua pendekatan ini memberikan peran sentral kepada konsep-konsep kognitif, seperti diri, kreativitas, pilihan, penilaian, dan tujuan. Sejumlah teoris kepribadian yang mengambil pendekatan kognitif memiliki kesamaan dengan psikolog humanistik setidaknya dalam hal orientasi pertumbuhan optimistik, yang dalam sejumlah hal dapat dipandang sebagai prekursor (pendahulu) pendekatan kognitif. Perbedaan utama antar kedua pendekatan tersebut adalah dalam hubungannya dengan metode ilmiah. Sementara para psikolog humanistik cenderung memiliki hubungan ambivalen atau negatif dengan penelitian ilmiah, para psikolog kognitif cenderung untuk memeluk penelitian ilmiah. Dalam hal ini, pendekatan humanistik dibandingkan dengan pendekatan kognitif memisahkan diri jauh dari behaviorisme.

Teori-teori Belajar Sosial

Baik behaviorisme maupun psikologi humanistik merupakan precursor pendekatan kognitif terhadap studi kepribadian, namun keduanya berbeda secara mendasar. Leluhur langsung dari pendekatan kognitif adalah “teori belajar sosial” (social learning theory) dan “teori sosial-kognitif”. Kedua pendekatan teoretis ini secara ketat ilmiah, sebagaimana behaviorisme, namun keduanya mengadopsi konsep-konsep kognitif yang menjembatani behaviorisme dengan psikologi kognitif.

Penganjur utama dari teori belajar sosial adalah Julian Rotter. Dalam sejumlah hal, pandangan Rotter jelas-jelas bersifat behavioris: ia memandang perilaku dimotivasikan oleh hadiah dan hukuman. Namun demikian, ia memperkenalkan kompleksitas kepada pandangan yang sederhana tersebut. Tingkah laku tidak diatur oleh konsekuensi hadiah dan hukuman ini secara langsung, melainkan oleh “ekspektansi” (harapan) kita bahwa tingkah laku kita akan menghadirkan kedua konsekuensi itu. Ekspektansi merupakan konsep kognitif, merujuk pada penilaian subjektif mengenai probabilitas peristiwa di masa depan. Ketika orang memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, mereka membentuk sebuah ekspektasi apakah perilaku tersebut kemungkinan memberikan hasil yang diharapkan. Kemungkinan bahwa seseorang akan bertindak dalam cara tertentu dalam situasi tertentu (“potensi perilaku”/behavioral potential dari tindakan) bergantung pada harapan akan hasil perilaku dan bergantung juga pada bagaimana penialian seseorang akan probabilitas hasil ini.

Rotter menyatakan bahwa ekspektansi tidak hanya berlaku bagi tingkah laku khusus, namun juga untuk tingkah laku umum (Rotter, 1966). Salah satu “ekspektansi umum” adalah “lokus kendali” (“locus of control”)” yakni keyakinan seseorang mengenai apakah hasil perilakunya secara tipikal berada di bawah kendalinya (“internal”) ataukah berada di bawah kontrol lingkungan (“eksternal”). Orang-orang dengan lokus internal meyakini bahwa mereka lah yang utamanya bertanggung jawab terhadap apa yang mereka peroleh dalam kehidupan. Mereka dengan lokus eksternal meyakini bahwa hasil-hasil kehidupan mereka ditentukan oleh orang lain, nasib, keberuntungan, atau sejumlah faktor lain yang tidak dapat mereka kendalikan. Lokus kendali secara esensial merupakan sebuah konsep kognitif, sebuah keyakinan mengenai diri dan dunia yang tidak secara langsung mencerminkan kondisi objektif.

Teori sosial-kognitif dari Albert Bandura bahkan menggerakkan kita lebih jauh dalam arah kognitif. Lebih dari Rotter, Bandura (1986) menekankan pentingnya diri sebagai agen aktif dan sebagai fokus keyakinan dan ekspektasi seseorang. Melawan pandangan behavioris bahwa tingkah laku ditentukan oleh hadiah dan hukuman, Bandura menyatakan bahwa tingkah laku utamanya bersifat “diatur oleh diri sendiri” (self-regulated): determinan utama perilaku adalah orang (person), bukan lingkungan. Bandura memberikan perhatian khusus pada keyakinan mengenai kapasitas diri untuk memberikan hasil-hasil tertentu. Orang-orang yang tinggi dalam “keyakinan/efikasi diri” (“self-efficacy”) secara kuat meyakini bahwa mereka mampu bertingkah laku secara efektif, seperti misalnya sukses dalam sebuah tugas/kerja. Sebaliknya, orang-orang dengan efikasi diri rendah memiliki ekspektasi yang rendah bahwa mereka dapat menghasilkan tingkah laku yang dikehendaki, dan konsekuensinya mereka cenderung tidak mengupayakannya. Ekspektasi efikasi seperti ini tidak perlu berkorespondensi dengan kemampuan/kapabilitas aktual/sebenarnya dari seseorang. Banyak orang terganggu oleh keraguan diri (self-doubt) dan gagal mewujudnyatakan kapabilitasnya. Bandura, dkk., telah secara berulang menunjukkan bahwa efikasi diri memprediksikan hasil-hasil positif dalam bidang yang luas (kesehatan, kinerja, prestasi akademik). Seperti teori belajar sosial, teori Bandura menempatkan kognisi sebagai pusat dalam studi tingkah laku manusia.

Kita telah melihat bagaimana teori-teori behaviorisme, humanistik, belajar sosial, dan sosial-kognitif menjadi latar belakang munculnya pendekatan kognitif terhadap studi kepribadian. Namun demikian, tidak ada teori kognitif yang tunggal tentang kepribadian, melainkan terdapat sejumlah aliran kognitif yang berbeda.

Konstruk Personal

Teori kognitif tentang kepribadian secara sistematis pertama kali dikembangkan oleh George Kelly (1955). Teori Kelly menggunakan metafora kognitif. Sementara para teoris biologis menggambarkan manusia sebagai organisme dan psikoanalisis memandang manusia sebagai medan perang (battlefield), Kelly memandang orang sebagai ilmuwan (scientist). Meskipun kebanyakan dari kita tidak memiliki gelar Doktor Filsafat (Ph.D.), namun kita semua terlibat dalam pengembangan dan pengujian teori-teori tentang dunia, mencoba untuk menghasilkan pemahaman terbaik tentang lingkungan kita dan diri kita sendiri.

Unit dasar dalam psikologi kepribadian Kelly adalah “konstruk personal”. Istilah ini merujuk pada teori-teori yang dikembangkan oleh orang sehari-hari. Kelly mendefinisikan konstruk sebagai sebuah cara dalam hal mana dua hal serupa dan berbeda dari hal ketiga. Ia menyatakan bahwa kognisi manusia mencari keserupaan (similarities) dan perbedaan (differences) atau kontras. Hal ini bersifat bipolar dan kategoris; artinya bahwa kita berpikir dan menggambarkan dunia dalam kategori-kategori oposisi, serta cenderung mempersepsi objek, peristiwa, dan orang sebagai bersesuaian dengan satu hal atau yang lain (misalnya, hangat lawan dingin), ketimbang jatuh pada kontinum antara satu hal dengan yang lain itu. Kita memandang dunia melalui kontras-kontras, dan hal ini menjadi sistem konstruk personal kita.

Postulat fundamental teori Kelly menyatakan bahwa proses-proses kognitif manusia dibentuk menjadi pola-pola yang konsisten oleh konstruk (cara orang mengantisipasi peristiwa). Berdasarkan postulat ini, ada enam turunan teori (corollaries). Pertama, antisipasi terhadap masa depan didasarkan atas construal masa lalu: konstruk-konstruk yang kita miliki bersifat aktif dan mengubah interpretasi terhadap bukti/eviden, dan kita berupaya untuk mengembangkan interpretasi kita sepanjang waktu. Kedua, konstruk-konstruk ini diorganisasikan dalam hierarki-hierarki: beberapa bersifat luas dan mendasar (baik lawan buruk), dan yang lain bersifat spesifik (berpakaian baik lawan berpakaian kotor dan tak rapi). Ketiga, kita cenderung memfavoritkan salah satu kutub dalam setiap konstruk: konstruk bersifat evaluatif. Keempat, orang mengkonstruksi peristiwa dengan cara yang berbeda-beda; semakin sistem konstruk antar orang berbeda, semakin orang-orang tersebut memiliki perbedaan psikologis. Kelima, pemahaman terhadap orang lain mensyaratkan kita untuk mengerti bagaimana orang mengkonstruksi dunia, meskipun kita tidak harus memiliki konstruk yang dimiliki oleh orang lain tersebut. Keenam, konstruk-konstruk yang dimiliki seseorang dapat bervariasi dalam hal keterbukaannya terhadap revisi (atau, justru rigiditas/kekakuan), serta dapat berkonflik satu sama lain.

Teori Kelly nampaknya abstrak, namun kita akan lebih mudah memahaminya apabila kita memperhatikan apa yang tidak ada dalam teori Kelly. Dalam teori Kelly tidak ada dorongan (drives), tujuan (goals) atau motif-motif apapun, kecuali motivasi/hasrat untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa secara lebih baik dan menangkap dunia secara lebih akurat. Tidak ada ketidaksadaran, tidak ada mekanisme defensif, tidak ada emosi, tidak ada biologi. Seluruh teori Kelly merujuk pada cara-cara subjektif kita dalam merepresentasikan dan menginterpretasikan dunia. Inilah yang membuat kita sebagai individu. Sebagai sebuah teori kognitif, sistem teori Kelly memunculkan domain subjektivitas (dunia mental internal kita) yang relatif diabaikan oleh kebanyakan teoris kepribadian.

Menurut Kelly, tujuan konseling dan psikoterapi adalah guna menentukan apakah sistem konstruk klien berfungsi dengan baik ataukah tidak. Sejumlah orang mungkin memiliki sistem yang sangat simplistik (sederhana) dengan hanya sedikit memiliki konstruk-konstruk yang dominan, sementara sejumlah orang yang lain dapat memiliki konstruk-konstruk yang penuh dengan kontradiksi-kontradiksi. Prasangka dapat dilahirkan oleh konstruk yang terlampau rigid/kaku sehingga menyempitkan pikirannya dan mencegah sistem konstruk untuk berkembang. Kecemasan dapat dilahirkan oleh peristiwa-peristiwa yang tidak dapat ditangkap oleh konstruk-konstruk yang ada.

Konstruk berbeda dari sifat. Sifat (trait) bersifat objektif, sedangkan konstruk bersifat subjektif. Sifat berada dalam kontinum, sedangkan konstruk berada dalam kategori pilah (diskret). Sifat merupakan sumber stabilitas dan konsistensi yang perubahannya jauh lebih lambat ketimbang konstruk.

Gaya Atribusi

Manusia tidak hanya puas dengan semata-mata mengobservasi hal-hal yang terjadi di sekitarnya, melainkan manusia terdorong untuk memahami penyebab (kausa) peristiwa-peristiwa, dan secara aktif berupaya menangkap mengapa peristiwa terjadi, bilamana, dan bagaimana terjadi. Apabila kita dapat menangkap penyebab peristiwa, maka kita berada dalam posisi yang baik untuk memprediksi dan mengontrol peristiwa-peristiwa. Kita akan mengetahui bilamana peristiwa serupa kemungkinan besar akan terjadi kembali dan jenis-jenis respons apakah yang dapat mencegah terjadinya apabila peristiwa-peristiwa tersebut tidak diharapkan; jenis-jenis respons apakah yang dapat memungkinkan terjadinya kembali apabila peristiwa-peristiwa tersebut diinginkan; serta menangani konsekuensi-konsekuensinya.

Menurut para psikolog (Abramson, Seligman, & Teasdale, 1978) ada tiga dimensi penjelasan. Sejumlah penjelasan merujuk pada penyebab internal seseorang, seperti keyakinan, hasrat, intensi, sifat, dan atribut-atribut fisik. Sejumlah penjelasan merujuk pada penyebab eksternal, seperti atribut-atribut psikologis atau fisik dari orang lain, peristiwa-peristiwa kehidupan, kondisi ekonomi atau sosial, kekuatan-kekuatan supranatural, keberuntungan, dan sebagainya. Sejumlah penjelasan merujuk pada penyebab yang bersifat stabil sepanjang waktu dan sulit berubah, seperti inteligensi, gen, ideologi kapitalisme. Sejumlah penjelasan yang lain merujuk pada penyebab yang tak stabil atau memiliki rentang waktu pendek, seperti suasana hati, cuaca, ketidakberuntungan. Sejumlah penjelasan merujuk pada penyebab yang implikasinya luas bagi orang tersebut, memiliki efek yang dalam dan luas pada diri orang tersebut, seperti kebodohan, nasib, skizofrenia. Sejumlah penjelasan yang lain merujuk pada penyebab yang implikasinya terbatas atau spesifik bagi orang tersebut, seperti masalah pengejaan (spelling problems), kesalahan acak (random errors), fobia ayam (chicken phobia).

Ketiga dimensi tersebut seringkali disajikan dalam serangkaian oposisi: internal lawan eksternal, stabil lawan tak stabil, global lawan spesifik. Pentingnya ketiga dimensi ini dalam kognisi manusia telah dicakup dalam riset-riset psikologi sosial yang disebut “teori atribusi”. Teori atribusi mempelajari bagaimana orang-orang mengatribusikan makna, penyebab (causation), dan tanggung jawab bagi aksi-aksi dan peristiwa-peristiwa. Setiap penjelasan (eksplanasi) atau penyebab (kausa) pada prinsipnya dapat diletakkan dalam tiap-tiap dimensi tersebut. Dengan demikian, ada delapan jenis penjelasan distingtif yang merepresentasikan kombinasi-kombinasi dari tiga pasang oposisi (misalnya: eksternal-tak stabil-spesifik, internal-stabil-global, dan seterusnya).

Namun demikian, banyak peristiwa yang secara kausal bersifat ambigu, dan tidak dapat dijelaskan. Oleh karenanya, orang-orang dapat berbeda dalam hal bagaimana orang menjelaskan peristiwa yang dialaminya, atau disebut juga “gaya eksplanatori”. Kebanyakan psikolog memfokuskan pada gaya eksplanatori pesimistik dan optimistik. Orang-orang pesimis cenderung menjelaskan baik peristiwa negatif maupun peristiwa positif dengan cara khusus. Mereka cenderung menjelaskan peristiwa negatif (peristiwa yang tidak mereka harapkan) disebabkan oleh penyebab yang bersifat internal, stabil, dan global. Peristiwa negatif dilihat sebagai sesuatu yang disebabkan oleh diri, cenderung bertahan, dan cenderung memiliki implikasi negatif yang luas. Dengan perkataan lain, penjelasan pesimistik membuat orang mempersalahkan diri sendiri atas masalah-masalah yang dialaminya, dan meyakini bahwa masalah-masalah itu besar (mendorong perasaan tak berdaya/helplessness) dan bertahan (mendorong perasaan tak berpengharapan/hopelessness). Misalnya, kinerja yang mengecewakan dalam ujian dipandang sebagai hal yang disebabkan oleh tiadanya kecerdasan diri. Sebaliknya, pesimis cenderung menjelaskan peristiwa positif dengan merujuk pada penyebab eksternal, tak stabil, dan spesifik. Hal-hal baik dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar kontrol orang pesimis, lekas berlalu, dan hanya memiliki implikasi terbatas bagi kesejahteraan pribadinya. Kinerja yang sangat baik (di atas harapan) dalam ujian mungkin dijelaskan sebagai sesuatu yang disebabkan oleh kesalahan dalam penyekoran atau jawaban tebakan yang kebetulan benar (keberuntungan). Orang-orang optimis menunjukkan pola yang berlawanan. Peristiwa-peristiwa negatif dijelaskan sebagai sesuatu yang penyebabnya eksternal, sementara, dan terbatas implikasi/pengaruhnya (“Ujian yang payah itu tidak adil”). Peristiwa positif dijelaskan sebagai sesuatu yang penyebabnya internal, stabil, dan implikasinya global (“Karena saya brilian”).

Perhatikan bahwa baik pola pesimis maupun optimis, keduanya tidak berimbang, dalam arti cenderung tidak akurat, bias, atau bahkan irasional. Pesimis yang ekstrim secara irasional merendahkan kesuksesannya sendiri, membesar-besarkan bencana/malapetaka (katastrofik), serta mengambil tanggung jawab yang berlebihan (eksesif) untuk kegagalan yang terjadi. Sementara optimis yang ekstrim melayani diri sendiri (self-serving), memuji diri sendiri yang berlebihan atas keberhasilan, dan membuat permakluman (excuses) untuk kegagalan yang terjadi. Namun perlu diperhatikan bahwa meskipun optimisme itu irasional (dalam pengertian tidak akurat dan bias), penelitian menunjukkan bahwa optimisme mungkin rasional dalam pengertian membuat kita lebih adaptif. Optimisme atau “ilusi positif” berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik (Taylor & Brown, 1988). Sebaliknya terdapat strategi kognitif yang dinamakan “pesimis defensif”. Pesimis defensif membayangkan hal-hal terburuk yang akan terjadi, memiliki kecemasan yang intensif, namun ia tidak akan berhenti berupaya dan membiarkan hal-hal yang dibayangkannya itu terjadi (self-fulfilling prophecy), melainkan ia menunjukkan kinerja yang sama dengan orang yang menempuh strategi optimistik.

Optimisme dalam hal ini bukanlah hanya merupakan istilah disposisional seperti sebuah sifat (trait), yang melibatkan kegembiraan dan harapan yang berlimpah. Melainkan, optimisme merupakan sebuah cara spesifik untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa, serangkaian proses-proses kognitif. Gaya penjelasan optimistic tidaklah berhubungan langsung dengan suasana hati yang positif atau ekspektasi umum bahwa hal-hal akan berlangsung dengan baik. Optimisme dalam konteks ini adalah sebuah cara membuat penjelasan kausal atas peristiwa-peristiwa, sebuah proses yang dapat diamati ketika orang memberikan penjelasan. Optimisme dalam hal ini bukanlah sebuah sifat statis yang menggambarkan posisi berpengharapan terhadap masa depan.

Strategi Penanggulangan

Construing (konstruk personal) dan explaining (gaya atribusi) sebagaimana dijelaskan di atas merupakan dua proses kognitif yang cukup luas dan umum implikasinya. Konstruk personal (Kelly) mempengaruhi cara bagaimana kita memaknai tiap-tiap hal yang kita jumpai dalam kehidupan dan orang lain. Gaya eksplanatori relevan untuk mencari penyebab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi yang kita amati. Fenomena kepribadian kognitif selanjutnya berurusan dengan cara-cara yang kita gunakan untuk menangani atau menanggulangi tantangan dan kesulitan dalam kehidupan yang kita alami. Penanggulangan (coping) didefinisikan sebagai “pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal dari situasi yang dinilai mengandung stres” (Folkman & Moskowitz, 2004, h. 745). Ringkasnya, orang terlibat dalam upaya-upaya penanggulangan bilamana mereka mempersepsi sebuah situasi membebani kapasitas mereka untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan, dan upaya-upaya ini dapat menyasar pada situasi yang dihadapi atau respons internal orang (seperti emosi) kepada situasi.

Membaca definisi di atas, kita melihat keserupaan dengan konsep psikoanalitis mengenai mekanisme defensif. Konsep penanggulangan (coping) dan pertahanan (defence) memang berkaitan, namun ada sejumlah perbedaan penting yang mencerminkan perbedaan teoretis antara pendekatan kognitif dan psikoanalitis terhadap kepribadian. Pertama, strategi penanggulangan utamanya menangani stres/tekanan eksternal yang dihadapi orang (peristiwa-peristiwa menantang); sementara mekanisme defensif utamanya menangani ancaman-ancaman internal (impuls-impuls dan pikiran-pikiran “terlarang”). Kedua, kebanyakan mekanisme defensif digunakan secara tak sadar; strategi-strategi penanggulangan umumnya digunakan secara sadar. Ketiga, “pertahanan” menyiratkan respons yang reaktif, mengendalikan kerusakan; “penanggulangan” merupakan respons yang dalam hal tertentu bersifat aktif dan berorientasikan masa depan. Ringkasnya, konsep penanggulangan mencerminkan rangkaian proses yang lebih aktif, sadar, dan berorientasikan eksternal ketimbang konsep mekanisme pertahanan.

Coping tidak merujuk pada sebuah fenomena tunggal, melainkan setiap respons yang digunakan orang terhadap peristiwa-peristiwa stres. Respons-respons ini (“strategi-strategi penanggulangan”) sangatlah beragam. Dalam kajian literatur ilmiah mutakhir, ditemukan lebih dari 400 label yang digunakan untuk mendeskripsikan strategi coping (Skinner, Edge, Altman, & Sherwood, 2003), dan banyak upaya untuk membuat klasifikasinya. Klasifikasi yang paling luas digunakan adalah pembedaan antara problem-focused dan emotion-focused coping (Folkman & Lazarus, 1980). Penanggulangan yang berfokuskan masalah (problem focused) secara langsung dan aktif menyasar pada masalah yang menyebabkan tekanan (distress) serta berupaya mengubahnya. Contohnya adalah menanyai seseorang mengenai tingkah lakunya yang tidak menyenangkan terhadap Anda, mengembangkan rencana tindakan, atau secara aktif berupaya memecahkan masalah. Penanggulangan yang berfokuskan emosi berupaya untuk mengubah respons emosional seseorang terhadap situasi stres ketimbang mengubah situasi itu sendiri. Sebagai contoh, seseorang mungkin melakukan wishful thinking (yakni mengimajinasikan bahwa situasi yang tidak menyenangkan secara magis akan menghilang), berupaya mengurangi tekanan dengan minum alkohol, mengacaukan perhatian (distraksi) diri sendiri dari pemikiran-pemikiran stres, mencoba relaksasi, atau mencoba menilai kembali situasi (reappraisal) sehingga situasinya tidak nampak sangat buruk. Efektivitas dari masing-masing strategi penanggulangan, baik yang berfokuskan masalah maupun yang berfokuskan emosi, bergantung pada konteks peristiwa stresnya, apakah dapat dikontrol ataukah tidak dapat dikontrol. Untuk situasi yang dapat dikontrol, strategi yang pertama (problem-focused) lebih baik digunakan daripada yang kedua.

Beberapa tipe strategi coping lainnya adalah: (1) penghindaran (avoidant), (2) pencarian dukungan sosial (seeking of social support), dan (3) pencarian makna dalam kemalangan (finding meaning in adversity).

Psikologi coping merupakan bidang penelitian yang aplikasinya luas. Yang paling menarik dari konsep coping dan pendekatan kognitif terhadap kepribadian pada umumnya adalah bahwa strategi-strategi kognitif ini merupakan keterampilan atau cara berpikir yang dapat diajarkan.

Representasi Diri

Ketiga konsep yang kita diskusikan di atas (konstruk personal, eksplanasi dan atribusi, keterampilan coping) merupakan proses-proses kognitif. Bagaimanapun, proses hanya merupakan satu komponen dari kognisi. Ada komponen lain yakni produk kognitif. Orang-orang memiliki pengetahuan yang terorganisasikan tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka, dan pengetahuan ini mencerminkan cara-cara orang memaknai dunia. Psikolog kognitif seringkali menyebut pengetahuan yang terstruktur ini sebagai “representasi”. Orang menyimpan representasi-representasi mengenai dunia dalam memori mereka. Representasi ini dibangun dan dimodifikasi sepanjang perkembangan kita. Representasi inilah yang memandu kita memproses informasi baru.

Salah satu struktur pengetahuan atau representasi ini adalah diri (self). Diri dalam hal ini dimengerti sebagai “konsep diri” (self-concept), yakni sekumpulan pengetahuan seseorang yang terorganisasi mengenai atribut-atributnya sendiri. Pada tingkat yang paling dasar, kita dapat secara sederhana meminta orang untuk mendaftarkan karakteristik-karakteristik yang mereka lihat sebagai aspek-aspek dari diri mereka sendiri (misalnya, jawablah pertanyaan berikut, “Saya ……..”). Umumnya orang tidak memiliki kesulitan mendaftarkan banyak sekali atribut. Sejumlah atribut ini merujuk pada karakteristik-karakteristik pribadi, baik psikologis maupun fisik (misalnya, sifat/trait, sikap/attitude, kemampuan/abilitas, tinggi, warna rambut); sementara atribut-atribut yang lain merujuk pada kelompok/group dengan mana orang mengidentifikasikan dirinya (misalnya, kebangsaan/nasionalitas, etnisitas/kesukuan, jenis kelamin). Atribut-atribut yang lain merujuk pada peran-peran atau relasi-relasi seseorang (misalnya, ayah, karyawan, kekasih). Seringkali ketiga komponen diri ini dirujuk sebagai diri pribadi (personal), diri kolektif, dan diri relasional.

Namun demikian, konsep diri bukanlah semata-mata merupakan sebuah daftar dari atribut-atribut atau label-label yang saling tidak berhubungan, melainkan sebuah rangkaian keyakinan yang terstruktur. Atribut-atribut tertentu mungkin sentral bagi konsep diri seseorang, namun insidental bagi orang yang lain. Jenis kelamin, penampilan fisik, ketabahan (toughness), keanggotaan dalam kelompok etnis, mungkin merupakan inti identitas (primer) bagi seseorang, dan hal-hal lain merupakan hal sekunder. Di samping itu, atribut-atribut dalam konsep diri seseorang saling berhubungan dalam tingkat yang bervariasi; dan hal ini berbeda untuk tiap-tiap orang. Sebagai contoh, bagi konsep diri seorang perempuan, jenis kelamin perempuan mungkin berasosiasi dengan sifat-sifat kesederhanaan (modesty) dan pengendalian diri (self-control), sehingga ia merasa paling feminin ketika melakukan pengekangan diri (self-restraint). Sementara, bagi perempuan yang lain, femininitas justru berasosiasi dengan spontanitas dan penggodaan (seduktivitas). Ringkasnya, orang dapat merepresentasikan pengetahuan diri mereka dengan cara-cara yang cukup unik dan pribadi.

Sejumlah riset psikologi kepribadian telah mempelajari diri (self). Dua topik yang cukup penting adalah harga diri (self-esteem) dan kompleksitas konsep diri (self-complexity).

Kecerdasan Emosional

Pada awal bab ini dikemukakan bahwa ada dua jenis perbedaan psikologis antar orang, yakni perbedaan intelektual dan perbedaan non-intelektual. Karakteristik intelektual mencakup kemampuan dan keterampilan kognitif, khususnya yang mendasari kinerja dalam kegiatan akademik dan yang terkait dengan sekolah. Karakteristik non-intelektual, seperti sifat kepribadian, mencakup disposisi untuk bertingkah laku, berpikir, dan merasa dengan cara tertentu, kemampuan yang melibatkan kapasitas untuk menemukan secara objektif solusi yang tepat terhadap masalah, dan melakukan hal-hal dengan mudah dan cepat. Pembedaan antara karakteristik intelektual dan non-intelektual tidak selalu hitam-putih. Karakteristik seperti kreativitas memiliki komponen kemampuan kognitif, tetapi juga mencakup gaya berpikir dan merasa yang melampaui kemampuan tersebut (seperti fleksibilitas dan keterbukaan).

Pakar lain menyatakan bahwa kepribadian mencakup hal-hal lain di luar konteks spesifik akademik. Diinspirasikan sebagian oleh para teoris yang mengajukan konsep kecerdasan majemuk/multiple intelligences (Gardner, 1983), beberapa pakar akhir-akhir mengembangkan konsep “kecerdasan emosional”, yakni serangkaian kemampuan yang mencakup keahlian memproses informasi terkait dengan emosi (Goleman, 1995).

Para pendukung kecerdasan emosional menyatakan bahwa kecerdasan emosi sesuai dengan kriteria tradisional tentang kecerdasan/inteligensi. Mereka mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai “sebuah kemampuan untuk mengenali makna-makna emosi dan hubungan-hubungannya, untuk menalar dan memecahkan masalah berdasarkan pengenalan itu” (Mayer, Caruso, & Salovey, 1999). Para teoris ini mengatakan bahwa kecerdasan emosi memiliki empat komponen fundamental. Pertama, kemampuan untuk secara akurat mempersepsi emosi, kapasitas untuk mengenali kondisi emosi orang lain secara non-verbal, dengan mengobservasi ekspresi wajah, suara, dan gerakan orang lain, serta juga mengenali kondisi emosional diri sendiri. Kedua, penggunaan emosi untuk memfasilitasi atau memudahkan kegiatan berpikir seseorang, kemampuan untuk menggunakan informasi tentang keadaan emosi orang lain untuk membuat rencana tindakan dan untuk mengarahkan perhatian atau atensi kepada informasi yang relevan. Ketiga, memahami emosi, melibatkan kemampuan untuk menalar secara akurat mengenai makna kondisi emosional orang lain, seperti memperkirakan bagaimana seseorang kemungkinan merasa apabila sebuah peristiwa tertentu terjadi dan hal apakah yang menjadi implikasi dari emosi tersebut. Keempat, mengelola emosi, kemampuan untuk meregulasi atau mengontrol emosi diri sendiri dan orang lain untuk mencapai tujuan diri. Orang yang cerdas dalam kecerdasan emosi secara akurat mengidentifikasikan emosi, mengetahui bagaimana menggunakan informasi itu untuk memetik manfaat, memahami implikasi personal dan interpersonalnya, serta pandai mengatur emosinya.

Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa keempat komponen tersebut merupakan satu faktor dalam faktor analisis, berbeda dari bentuk inteligensi lain (seperti kemampuan verbal atau IQ umum), dan sangat independen dari dimensi sifat kepribadian standar (seperti Big Five). Ada sejumlah bukti bahwa kecerdasan emosional berasosiasi dengan kinerja akademik dan pekerjaan yang lebih baik serta tingkat tingkah laku antisosial yang lebih rendah. Makin cerdas emosi seseorang, makin tinggi kepekaan interpersonalnya dan makin disukai secara sosial oleh orang lain (Lopes, Salovey, Core, & Beers, 2005).

Yang jelas, banyak psikolog meyakini kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan kognitif yang menambahkan satu lagi pengetahuan kepada pendekatan terhadap kepribadian.

Stabilitas dan Perubahan Kepribadian

Persoalan mengenai perubahan kepribadian sangat menarik. Pendekatan biologis, khususnya yang berbasiskan genetika perilaku, cenderung menekankan stabilitas kepribadian, memandang perkembangan kepribadian sebagai penyingkapan tendensi keperilakuan bawaan (innate) yang dimediasikan oleh proses-proses otak yang berada melampaui kontrol sadar. Teori-teori psikoanalitis juga cenderung skeptis terhadap perubahan kepribadian, namun alasannya berbeda dari pendekatan biologis. Kepribadian dewasa dipandang secara substansial ditentukan (deterministic) oleh pengalaman masa kanak-kanak di dalam keluarga. Di samping itu, kepribadian dikonseptualisasikan sebagai serangkaian kompromi antara hasrat (desires) dan pertahanan (defences), dalam hal mana setiap modifikasi/pengubahan terhadap keseimbangan dari kekuatan oposisional (yang saling bertentangan) ini ditolak dengan sengit oleh pertahanan-pertahanan psikologis konservatif.

Kontras dengan pendekatan biologis dan psikoanalitis, teori-teori kognitif menyiratkan bahwa kepribadian dapat berubah. Apabila kepribadian disusun oleh cara-cara mempersepsi, berpikir, dan meyakini, maka kepribadian seyogianya dapat dimodifikasi oleh proses-proses pengubahan kognisi, seperti pembelajaran coba-salah (trial-and-error), insight, peniruan (imitasi), pendidikan. Pendekatan behaviorisme bahkan lebih konsisten dengan gagasan perubahan kepribadian. Apabila perilaku diatur oleh konsekuensinya, sebagaimana diyakini oleh kaum behavioris, maka seluruh perilaku dimungkinkan untuk diubah berdasarkan pola-pola pemberian hadiah dan hukuman. Apabila “kontingensi penguatan” (reinforcement contingencies) ini dapat diubah dengan memberikan paparan lingkungan yang berbeda kepada seseorang atau dengan merancang lingkungan orang yang merangsang respons yang berbeda, maka disposisi-disposisi orang tersebut juga berubah.

Tidak ada satu pun dari pendekatan teoretis ini yang memiliki posisi mutlak. Bahkan pembela pendekatan biologis pun mungkin dapat menerima bahwa kepribadian dapat berubah sebagai respons terhadap pemberian obat (pharmaceutical treatment) seperti Prozac, atau bahwa warisan genetik mengatur pola-pola perubahan kepribadian sepanjang waktu. Para psikoanalis menyatakan bahwa kepribadian dapat berubah setelah pemberian terapi psikoanalitis bertahun-tahun.

Sebaliknya, para kognitivis juga mengakui bahwa sistem kognitif bersifat konservatif, seringkali menolak perubahan dengan mengabaikan informasi yang menantang perubahan atau mengasimilasikan informasi tersebut ke dalam cara berpikir yang sudah stabil. Behaviorisme juga sebagian bimbang karena memiliki masalah dalam menjelaskan resistensi sejumlah perilaku untuk berubah dalam merespons pola-pola hadiah dan hukuman baru. Meskipun demikian, bukti-bukti yang kita pertimbangkan menyangkut perubahan dan stabilitas kepribadian sudah barang tentu memiliki implikasi terhadap teori-teori kepribadian yang kita anut.

Orang-orang memiliki pandangan, sebagaimana para teoris. Apabila pandangan Anda utamanya sinis, tragis, atau pesimistik, maka Anda mungkin meyakini bahwa orang-orang tidak sungguh-sungguh berubah, dan bahwa mereka memiliki sifat esensial yang ditentukan satu kali untuk selamanya oleh kondisi-kondisi kehidupan mereka, oleh biologi mereka, atau oleh situasi-situasi kehidupan eksistensial yang sulit. Apabila pandangan Anda lebih optimistis, romantik, atau bahkan ceria, Anda mungkin memiliki keyakinan akan kekuatan orang untuk berubah, mengatasi rintangan dan ketidaksempurnaan menuju pengembangan atau pemenuhan diri.

Sebagaimana telah kita lihat, kepribadian dapat menolak perubahan atau pun dapat juga berubah. Jadi ada semacam kelembaman (inersia), seperti stabilitas relatif dari sifat-sifat fundamental yang kental dengan warisan (heritable); namun ada juga transformasi seperti perubahan tema-tema pada tahap-tahap perkembangan psikososial yang ditunjukkan oleh Erikson. Yang jelas, keyakinan orang mengenai apakah kepribadian dapat berubah ataukah tidak memiliki implikasi praktis dalam hidup sehari-hari. Misalnya, orang yang meyakini bahwa kepribadian menetap (tidak berubah) cenderung untuk berpikir stereotipik terhadap orang lain.

Asesmen Kepribadian

Berikut ini dikemukakan sejumlah metode pengukuran kepribadian.

Metode Wawancara

Salah satu cara mengetahui tentang orang lain adalah berbicara dengannya. Ketika percakapan ini diformalkan dan digunakan untuk tujuan asesmen (pemeriksaan), percakapan ini dapat disebut sebuah wawancara. Wawancara telah digunakan secara luas sebagai sarana pengumpulan informasi kepribadian, dan telah populer dalam setting klinis, di mana psikolog dan psikiater menggunakannya untuk mendiagnosis gangguan-gangguan mental. Bagi para pengguna setianya, wawancara dianggap sebagai alat asesmen yang efektif karena memberikan sumber-sumber informasi yang beragam mengenai orang yang sedang diperiksa, yakni jawaban terbuka (overt)-nya terhadap pertanyaan, penampilannya, pertanda-pertanda non-verbal-nya (seperti intonasi suara, ekspresi wajah, dan gestur/lagak/mannerism-nya). Di samping itu, metode wawancara memungkinkan pewawancara yang terlatih untuk mengeksplorasi bidang-bidang khusus secara lebih mendalam dan lebih fleksibel ketimbang metode asesmen lainnya. Jadi, metode wawancara menyediakan sebuah jendela yang unik untuk melihat kepada universum kepribadian seseorang.

Wawancara bervariasi menurut tingkat strukturasinya. Dalam wawancara “bebas” (free-form), pewawancara dimungkinkan untuk menggali ranah atau bidang yang ingin diperiksa (di-ases) dengan fleksibilitas yang lebih dalam pendekatan umum, dalam pengkalimatan, dan dalam urutan pertanyaan sesuai dengan kehendak pewawancara. Dalam wawancara yang lebih “terstruktur”, pewawancara dipersyaratkan untuk memeriksa topik-topik yang telah ditetapkan dan mengikuti instruksi terperinci dalam hal pengkalimatan pertanyaan dan urutan pertanyaannya. Dalam wawancara “setengah-terstruktur” (semi-structured), pewawancara dimungkinkan memiliki fleksibilitas dan organisasi wawancara pada tingkat menengah. Para psikolog yang berorientasi psikoanalitis pada umumnya menggemari wawancara yang kurang terstruktur, karena mereka membiarkan pewawancara bebas menggali konflik-konflik, pertahanan diri, dan resistensi orang sesuai dengan keunikan orang tersebut. Para peneliti dan para psikolog non-psikodinamik cenderung menggemari metode wawancara yang lebih terstruktur karena mereka menghendaki informasi yang lebih terstandar dan eksplisit.

Standarisasi wawancara dewasa ini telah banyak dilakukan. Akhir-akhir ini, para psikolog menggemari wawancara yang lebih terstruktur, karena adanya hasil-hasil penelitian yang menunjukkan reliabilitas yang rendah dari wawancara yang tidak terstruktur. Pewawancara yang berbeda yang memeriksa orang yang sama dengan menggunakan wawancara tak terstruktur seringkali menunjukkan tingkat kesepakatan (level of agreement) yang buruk. Ada sejumlah sebab dari ketidakandalan ini. Pertama, apabila pewawancara diberikan fleksibilitas yang tinggi untuk mengeksplorasi seseorang, mereka akan menanyai pertanyaan yang berbeda dan memperoleh informasi yang berbeda yang menjadi dasar asesmen mereka. Kedua, dengan memberikan pewawancara kekuasaan yang lebih untuk memutuskan bagaimana melaksanakan wawancara, maka wawancara tak terstruktur meningkatkan kemungkinan bahwa setiap bias pengalaman pribadi dan bias teoretis dari pewawancara akan mendistorsi asesmen mereka. Ketiga, orang yang diwawancarai secara tak terstruktur akan lebih terpengaruh oleh atribut-atribut pewawancara, seperti penampilan, usia, dan kepribadian, sehingga berespons secara berbeda kepada pewawancara yang berbeda. Wawancara yang lebih terstruktur membatasi peran pewawancara serta berfokus pada isi standar pertanyaan, sehingga mengurangi pengaruh-pengaruh tersebut. Ringkasnya, wawancara tak terstruktur memungkinkan fleksibilitas yang tinggi, namun harus dibayar dengan “ongkos” yang mahal, yakni meningkatnya subjektivitas dan ketidakandalan dalam asesmen, sehingga mengurangi validitas wawancara tersebut.

Metode wawancara memiliki permasalahan tambahan sebagai alat asesmen kepribadian. Pertama, seringkali metode ini menghabiskan banyak waktu (time-consuming), dan mensyaratkan pewawancara terlatih untuk menghabiskan periode waktu panjang pada tiap-tiap wawancara. Kedua, reliabilitas (keandalan) wawancara seringkali dirugikan oleh kualitas sosial yang tak terhindarkan. Dibandingkan dengan metode asesmen yang impersonal, seperti tes-tes kertas-dan-pensil atau tes-tes terkomputerisasi, maka wawancara berhadap-hadapan (face-to-face) seringkali membuat orang lebih konsen menciptakan impresi positif sehingga lebih mungkin mendistorsikan (membiaskan) respons-respons mereka. Di samping itu, intimasi setting wawancara mendorong terjadinya fenomena psikologi sosial yang dikenal sebagai “nubuat yang dipenuhi sendiri” (self-fulfilling prophecy). Kemungkinannya sebagai wawancara berikut: Pewawancara secara subtil (samar) mengkomunikasikan kesan pertamanya kepada yang diwawancarai (interviewee). Interviewee merespons dengan cara-cara yang mengkonfirmasi kesan pertama pewawancara. Sebagai contoh, seorang pewawancara memiliki kesan awal yang tidak menyenangkan mengenai orang yang diwawancarai (entah impresi/kesan ini memiliki justifikasi/pembenaran atau tidak). Pewawancara tersebut dapat berperilaku dengan cara-cara yang dingin dan meremehkan orang yang diwawancarai, sehingga interviewee merasa cemas, canggung, atau marah, sehingga dengan demikian “meneguhkan” (“mengkonfirmasi”) penilaian negatif pewawancara. Ketiga, sejumlah wawancara terstruktur yang telah dikembangkan untuk menilai kepribadian lebih banyak menaruh perhatian pada asesmen simtom gangguan mental, sehingga efektivitasnya dipertanyakan.

Inventori Kepribadian

Wawancara secara umum memungkinkan sejumlah fleksibilitas dalam pengkalimatan pertanyaan, penyusunan urutan pertanyaan, dan jawaban. Inventori kepribadian tidak memungkinkan hal tersebut. Inventori (sering juga dikenal sebagai kuesioner atau skala) menyajikan responden sebuah daftar pernyataan standar, dalam urutan standar, serta dengan pilihan-pilihan respons yang sudah tertentu. Responden menggunakan pilihan-pilihan ini untuk mengekspresikan kesetujuan (agreement) atau ketidaksetujuan (disagreement) pada tiap-tiap butir, biasanya dengan pen atau pensil (bisa juga secara online melalui internet, misalnya http://psychcentral.com/quizzes/ , atau menggunakan komputer). Respons mereka diberikan rating yang dijumlahkan atas kelompok-kelompok butir untuk menghasilkan skor-skor numerik. Pada setiap tahap, inventori kepribadian distandarisasikan.

Inventori kepribadian pertama kali dikembangkan oleh Sir Francis Galton pada akhir abad ke-19, dan sejak saat itu, terutama sejak Perang Dunia Kedua, banyak sekali inventori kepribadian yang dikonstruk. Ada dua perbedaan antar inventori kepribadian yang beragam ini. Pertama, sejumlah inventori mengukur sebuah karakteristik tunggal, sementara inventori yang lain menggunakan skala ganda untuk mengukur kepribadian secara lebih komprehensif. Sebagai hasilnya, inventori yang mengukur sebuah sifat tunggal (single trait) dapat memiliki jumlah butir yang sedikit, misalnya 10 butir. Sementara itu, ada inventori lain yang memiliki lebih dari 500 butir yang terdistribusi dalam lebih dari 20 skala. Kedua, format respons inventori bervariasi. Ada sejumlah inventori yang menawarkan dua pilihan verbal (misalnya, “Benar / Salah”). Ada juga inventori yang menawarkan skala rating, yang terdiri atas 7 pilihan respons (misalnya, dari 1 “Sangat Tidak Sesuai” sampai dengan 7 “Sangat Sesuai”).

Pengembangan inventori kepribadian biasanya dipandu oleh sebuah campuran atas analisis teoretis dan penelitian empiris. Umumnya, sejumlah besar butir inventori ditulis untuk mencerminkan pemahaman awal terhadap konstruk yang hendak diukur. Butir-butir sementara yang jumlahnya besar ini lalu diuji coba (pre-tested) pada sebuah sampel responden, sehingga secara psikometri kita dapat menyeleksi butir-butir yang lebih kuat menjadi ukuran, serta mengeliminasi butir-butir yang lebih lemah. Butir-butir diseleksi menurut kemampuannya untuk membedakan kelompok-kelompok (discriminating power), konsistensi antar butir, dan korespondensinya dengan variabel laten yang diidentifikasikan oleh analisis faktor. Sebagai contoh, sebuah butir untuk inventori hostilitas mungkin harus kita eliminasi apabila butir tersebut (1) gagal membedakan pelaku kriminal yang melakukan kekerasan dan pelaku kriminal yang tidak melakukan kekerasan, (2) tidak berkorelasi dengan kebanyakan butir lainnya, (3) tidak berasosiasi dengan sebuah faktor yang mendasari kebanyakan butir inventori yang lain. Butir-butir yang tahan terhadap seleksi statistik ini biasanya dikombinasikan guna membentuk inventori baru. Selanjutnya, inventori ini diadministrasikan kepada sampel responden baru, sehingga validitasnya dapat ditentukan.

Inventori kepribadian memiliki sejumlah keunggulan praktis. Dibandingkan dengan wawancara, inventori lebih mudah dan lebih cepat diselenggarakan dan di-skor. Inventori juga sangat efisien, karena dapat diberikan pada banyak orang secara serentak, bahkan tanpa harus ada kehadiran pemeriksa. Administrasi dan penyekoran inventori juga sudah banyak yang dikomputerisasi. Dewasa ini sejumlah program yang dapat digunakan untuk menghasilkan laporan interpretatif, meskipun harus ditelaah kembali untuk menghasilkan interpretasi yang lebih akurat dan dapat diandalkan.

Namun demikian, inventori juga memilih kelemahan tertentu. Oleh karena bergantung pada laporan diri (self-report), inventori kepribadian rentan terhadap “bias respons”. Pewawancara dapat menanyai lebih lanjut (probe) dan mengecek lebih lanjut respons orang yang diwawancarai sebagai bukti apakah ada ketidakjujuran dan distorsi; namun inventori bergantung pada responden untuk menjawab secara jujur dan tulus. Ada sejumlah bias respons, seperti penerimaan pasif (acquiescence atau “yes-saying”) dan “no-saying”. Keduanya merupakan tendensi untuk menyetujui (yes) atau tidak menyetujui (no) butir-butir tes tanpa memandang isi butir inventori. Di samping itu ada pula “faking good” dan “faking bad”. Keduanya merupakan kecenderungan untuk melakukan desepsi (kebohongan) guna menyajikan diri secara sangat menyenangkan atau secara sangat tidak menyenangkan. Ada juga “social desirability”, yakni tendensi berespons dengan cara-cara yang sesuai dengan persetujuan atau norma sosial, namun tanpa intensi berbohong. Di samping itu, ada pula tendensi untuk asal-asalan, berespons secara acak. Semua bias ini memperlemah validitas tes karena mengurangi keakuratan sebuah tes mengukur konstruk kepribadian yang tengah diukur.

Para pengembang inventori kepribadian biasanya waspada terhadap bias respons dan ancamannya terhadap validitas inventori, sehingga mengambil langkah aktif guna mengatasinya. “Selalu ya” dan “selalu tidak” dinetralkan dengan membuat jumlah butir yang sama dalam skala yang mensyaratkan persetujuan dan ketidaksetujuan, untuk di-skor dalam arah tertentu. Sebagai contoh, “Saya sangat mudah bersosialisasi” dan “Saya tidak suka menemui orang baru” memerlukan respons yang berbeda untuk mengindikasikan disposisi yang konsisten. Bias respons lainnya dapat dideteksi dengan menggunakan “skala validitas” khusus. “Faking good” (menampakkan diri yang baik) dan “social desirability” dapat dideteksi dengan menggunakan “skala kebohongan” (lie scales) yang mengandung pernyataan-pernyataan yang hanya diiyakan atau disangkal oleh orang-orang yang paling suci, seperti “Saya tidak pernah berbohong” dan “Saya tidak pernah menikmati lelucon jorok”. Skala-skala yang lebih samar juga telah dikembangkan untuk menangkap bentuk-bentuk yang lebih rumit dari penyajian diri (self-presentation) yang positif, seperti guardedness dan defensiveness. Faking bad, yang umumnya terjadi dalam sejumlah setting klinis dan legal, yang disebut “malingering” (berpura-pura sakit atau tidak punya kapasitas untuk menghindari tugas atau tanggung jawab) dapat diperiksa oleh skala-skala yang memuat pernyataan-pernyataan yang mengkritik diri sendiri (self-denigrating) serta simtom-simtom psikologis. Ringkasnya, inventori yang bersifat laporan diri ini dapat diproteksi terhadap bias-bias respons. Namun demikian, seringkali sulit untuk menentukan bagaimana melakukan penyesuaian terhadap skor-skor tes ketika sebuah bias terdeteksi.

Contoh inventori kepribadian adalah Revised NEO Personality Inventory (NEO PI-R), Myers Briggs Type Indicator (MBTI), Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2-Restructured Form (MMPI-2-RF), Sixteen Personality Factor Questionnaire (16 PF), Edwards Personal Preference Schedule (EPPS), Dominance–Influence–Steadiness-Compliance (DISC) Personality Inventory, Kostick Personality and Preference Inventory (PAPI).

Metode Proyektif

Di atas telah dikemukakan bahwa inventori kepribadian objektif memiliki sejumlah kelebihan, namun juga memilih sejumlah keterbatasan potensial yang serius. Pengkalimatan butir yang terstandar serta opsi-opsi respons yang tidak ambigu meningkatkan reliabilitas ukuran-ukuran dengan inventori, namun tidak dapat memastikan bahwa orang berespons secara valid, jujur, tulus. Orang dapat menampilkan beragam bias dan berespons secara tidak jujur, defensif, dan sembrono. Dapat dipahami bahwa orang dapat berespons dengan cara-cara yang menghindar atau melindungi diri sendiri, khususnya apabila butir-butir menanyainya tentang tingkah laku yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan secara sosial. Memang, skala-skala validitas yang canggih dapat secara parsial menanggulangi tendensi bias respons tersebut, namun tetapi tidak dapat meniadakannya.

Masalah potensial kedua pada inventori adalah bahwa inventori mungkin tidak mampu memeriksa sejumlah karakteristik kepribadian yang penting. Secara umum, inventori bergantung pada akses introspektif responden terhadap disposisi atau proses-proses psikologis di dalam dirinya sendiri. Namun, bagaimana apabila sejumlah pikiran perasaan, hasrat, dan motif tidak dapat diakses melalui introspeksi? Apabila hal ini terjadi, asesor kepribadian akan menemui ketidakpahaman orang yang dinilai, tebak-tebakan orang yang dinilai mengenai bagaimana mereka seyogianya berespons, atau keyakinan yang bias mengenai siapa diri mereka. Jadi, nampaknya ada bagian-bagian dari kepribadian kita yang tidak kita sadari, sehingga percuma jika ditanyakan kepada kita.

Para psikolog yang berorientasi psikoanalitis berargumen bahwa banyak bagian kepribadian manusia yang tidak dapat diakses oleh kesadaran (conscious awareness). Konsekuensinya, para psikolog tersebut skeptis terhadap inventori kepribadian laporan-diri. Sebagai gantinya, mereka merancang metode asesmen kepribadian yang tidak bergantung pada kesadaran introspektif responden.

Metode yang dirancang oleh para psikolog ini mensyaratkan orang untuk berespons dengan cara terbuka (open-ended) terhadap serangkaian rangsang ambigu. Metode ini seringkali disebut “tes-tes proyektif”, karena menuntut responden untuk “memproyeksikan” cara-caranya memberikan makna terhadap pengalaman (termasuk konflik, kecemasan, pertahanan diri, gaya kognitif, dan preokupasi) pada stimuli. Tes-tes proyektif yang paling luas digunakan mensyaratkan orang merespons stimuli visual ambigu (seperti bercak tinta /ink-blots atau gambar), atau instruksi verbal ambigu (seperti menggambar orang, yang tidak dispesifikasikan orangnya, atau melengkapi kalimat yang tidak selesai). Oleh karena responden tidak mengetahui karakteristik kepribadian yang hendak di-ases dari tes-tes proyektif ini, dan responden juga tidak memiliki akses introspektif terhadap karakteristik ini, para pengguna setia tes proyektif menyatakan bahwa tes-tes proyektif dapat menembus (penetrasi) permukaan kepribadian serta menghindari bias-bias inventori.

Tes proyektif yang paling dikenal adalah Rorschach Ink-Blot Test, yang dipublikasikan oleh psikiater Swis, Hermann Rorschach pada 1921, yang didasarkan atas sebuah permainan (game) orang Eropa yang populer pada abad ke-19. Tes tersebut menggunakan sepuluh bercak tinta standar yang simetris di sekitar sumbu vertikal (sisi kiri merupakan pencerminan sisi kanan) dan tercetak pada kartu-kartu. Sejumlah bercak tinta monokromatik (hitam/putih), sedangkan sejumlah yang lain berwarna ganda. Responden diminta untuk mengemukakan kepada pemeriksa, bagaimana nampaknya bercak tinta itu bagi mereka, dengan memberikan sejumlah respons apabila mereka melihat lebih dari satu objek persepsi. Mereka juga diwawancarai untuk menjelaskan ciri-ciri apa dari bercak tinta yang menyebabkan mereka memiliki persepsi tersebut.

Banyak skema interpretasi dan penyekoran Rorschach telah dikembangkan, berfokus pada banyaknya ragam unsur respons. Sebagai contoh, penyimpulan dapat berdasarkan isi (content) respons, makna simbolik (misalnya binatang buas merujuk pada ayah responden), atau properti formal respons (kontur bercak, gerakan, tekstur, kedalaman, reaksi terhadap porsi warna, dan sebagainya).

Tes proyektif lain yang banyak dikenal adalah Thematic Apperception Test (TAT), yang dikembangkan oleh psikolog Amerika Henry Murray, dkk. (1938). Sebagaimana Rorschach, TAT menggunakan gambar-gambar yang tercetak pada serangkaian kartu. Namun demikian, tidak seperti Rorschach, gambar-gambar tersebut berstruktur dan bermakna; namun cukup samar dan hitam/putih yang menggambarkan orang dalam berbagai pemandangan/peristiwa dalam rumah (indoor) atau luar rumah (outdoor). Tugas responden adalah melihat setiap kartu dan menceritakan tentang apa yang sedang terjadi, apa yang menimbulkan peristiwa tersebut, dan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang-orang di dalam gambar tersebut. Cerita-cerita ini biasa diinterpretasikan oleh psikolog dalam kaitannya dengan kebutuhan, preokupasi, mekanisme pertahanan diri responden, dan pemahaman responden terhadap hubungan-hubungan personal (“relasi-relasi objek”).

Ada beberapa kritik terhadap tes-tes proyektif ini. Pertama, interpretasi terhadap tes-tes ini menuntut orientasi teoretis yang berdasarkan konsep-konsep, istilah-istilah, dan doktrin-doktrin psikoanalitis (misalnya, pentingnya hubungan awal dengan figur orangtua). Padahal tidak semua psikolog setuju dengan orientasi ini. Kedua, sejumlah psikolog mengkritik dasar pikiran atau asumsi tes proyektif yang menganggap sebuah tugas artifisial seperti mengamati bercak tinta dapat secara memadai memunculkan cara orang melakukan aprehensi terhadap dunia, atau karakteristik kepribadian yang “dalam” atau “tersembunyi” dari orang tersebut. Tes-tes proyektif menganggap benar begitu saja anggapan bahwa kebiasaan orang memahami dirinya relasi interpersonalnya, dan lingkungannya akan disasarkan pada rangsang ambigu. Ketiga, dari sudut pandang praktis, tes-tes proyektif menghabiskan banyak waktu untuk diadministrasikan dan di-skor, dibandingkan dengan kecepatan administrasi dan penyekoran inventori laporan-diri. Keempat, tes-tes proyektif tidak sama sekali kebal dari respons defensif dan bias. Misalnya, responden dapat menolak untuk terlibat secara penuh terhadap tugas tes proyektif, dengan memberikan respons-respons yang singkat, terjaga, atau sembrono. Ada juga bukti bahwa orang dapat “berpura-pura buruk” (fake bad) pada tes proyektif. Kelima, responden juga seringkali secara samar terpengaruh oleh aspek-aspek acak dari situasi tes. Misalnya, responden mungkin menggambar orang berkumis bilamana pemeriksanya juga memiliki kumis. Keenam, ada masalah reliabilitas dan validitas tes proyektif. Tingkat persetujuan antar penafsir (interpreter) tes proyektif sangat rendah, serta prediksi-prediksinya terhadap fenomena psikologis sangat lemah. Kelemahan ini serupa dengan kelemahan pada wawancara tak terstruktur.

Guna merespons kritik-kritik di atas, sebuah sistem penyekoran untuk tes Rorschach telah dikembangkan, yang lebih baik dari pendahulunya. Sistem ini dikembangkan oleh Exner (1986), menggunakan aturan-aturan penyekoran respons yang eksplisit dan standar, sehingga meningkatkan reliabilitas antar penilai (inter-rater reliability) terhadap informasi Rorschach. Di samping itu, penelitian menunjukkan bahwa skor-skor berdasarkan aturan Exner merupakan prediktor (peramal) yang valid akan variabel-variabel psikologis yang penting (seperti risiko bunuh diri). Meskipun demikian, antusiasme penggunaan tes proyektif yang tersebar luas pada tahun 1950-an dan 1960-an itu telah menurun seiring dengan (1) keterbatasan psikometrik pada tes ini, (2) semakin kurang populernya pendekatan psikoanalitis terhadap kepribadian, serta (3) banyaknya ragam inventori kepribadian yang tersedia.

Contoh-contoh alat tes proyektif lainnya adalah Sentence Completion Tests (SCT), dan Implicit Association Test (IAT, https://implicit.harvard.edu/implicit/demo/takeatest.html )

Written by

Psikolog Sosial Indonesia \ Peneliti Psikoinformatika dan Psikologi Korupsi \ Sains Terbuka \ Blog: juneman.me

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store