Panduan Layanan Psychological First Aids (PFA)/Pertolongan Psikologis Pertama — Jarak Jauh

*Adaptasi berbahasa Indonesia untuk konteks Indonesia oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) atas dokumen, sbb:
Copyrighted material with permission of IFRC (2020): IFRC (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies) Reference Centre for Psychosocial resources. Remote Psychological First Aid during the COVID-19 outbreak. Interim guidance — March 2020. Retrieved from: https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/IFRC-PS-Centre-Remote-Psychological-First-Aid-during-a-COVID-19-outbreak-Interim-guidance.pdf . Penerjemah/Translator (31 Mar. 2020): Dr. Seger Handoyo (Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia) dan Dr. Juneman Abraham (Ketua Kompartemen Riset dan Publikasi, Himpunan Psikologi Indonesia).

Pengantar

Wabah COVID-19 telah mengambil perhatian dan kekhawatiran masyarakat di seluruh dunia. Banyak orang telah dan akan mengalami kekhawatiran dan ketakutan. Kekhawatiran dan ketakutan akan berbeda-beda tergantung pada seberapa besar tingkat terdampak dirasakan. Orang yang secara langsung terdampak oleh virus mungkin akan lebih panik, takut dan khawatir.

Psychological first aid (PFA) adalah sebuah metode untuk membantu orang yang sedang berada dalam situasi tertekan secara psikologis, agar mereka merasa tenang dan mendapatkan dukungan untuk mengatasinya. PFA adalah cara membantu seseorang untuk mengelola situasi mereka dan membuat keputusan yang berdasarkan pada informasi yang sesuai, tepat, dan sahih. Dasar PFA adalah peduli tentang orang yang sedang mengalami tekanan psikologis dan menunjukkan empati. PFA dilakukan dengan memberikan perhatian terhadap reaksi, mendengarkan secara aktif dan, jika diperlukan memberikan bantuan praktis, seperti pemecahan masalah, bantuan untuk mengakses kebutuhan dasar atau merujuk pada bantuan lebih lanjut. PFA membantu menormalkan kekhawatiran dan emosi lainnya. PFA juga mengenalkan cara mengatasi masalah secara sehat dan memberikan perasaan aman, menenangkan, dan memberikan harapan.

Setiap krisis berdampak pada jejaring sosial, padahal interaksi sosial sangat penting bagi umat manusia. Karena itu, penting mendukung mereka yang terkena dampak untuk menemukan cara untuk tetap berhubungan dengan orang lain, bahkan dalam keadaan diisolasi atau dikarantina. Selama waktu wabah virus, jaga jarak secara fisik dengan orang lain wajib, namun menjaga hubungan sosial dan berdialog secara dekat dengan orang lain tetap sangat penting. Hal itu bisa dilakukan melalui telepon atau media sosial lainnya.

Panduan ini dapat digunakan oleh perangkat organisasi di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk mengatur dan menjalankan berbagai jenis layanan jarak jauh untuk publik selama tanggapan COVID-19. Perlu dicatat bahwa target kelompok untuk pedoman ini adalah orang untuk tenaga Psikologi dan juga tenaga lain yang telah mendapatkan pelatihan PFA dari HIMPSI.

Psychological First Aids Jarak Jauh

Dalam konteks COVID-19, percakapan antara yang membantu dan orang yang dibantu dilakukan menggunakan telepon atau media daring untuk menghindari penyebaran virus. Pengecualian untuk hal ini adalah PFA yang dilakukan di antara tenaga kesehatan atau pekerja yang berada di garis depan.

Selain menangani ketakutan dan kekhawatiran praktis dan emosional yang menyertai terkait dengan virus, ada banyak permasalahan terkait lainnya yang berkaitan dengan wabah: peningkatan potensial dalam pelecehan anak, kekerasan dalam rumah tangga atau teman dekat, penyalahgunaan zat terlarang dan/atau kecemasan yang terkait dengan menghadapi kesulitan ekonomi yang parah.

Meskipun semua orang yang terkena COVID-19 memerlukan PFA pada waktu tertentu selama wabah, HIMPSI dan pihak lain yang bekerjasama dengan HIMPSI dapat menyediakan layanan PFA jarak jauh untuk:

• Orang yang mengkarantina sendiri di rumah, hotel atau fasilitas yang ditunjuk

• Masyarakat umum yang menghubungi untuk mencari informasi dan dukungan.

• Tenaga kesehatan dan pekerja sosial yang memberikan perawatan dan treatment kepada pasien

• Orang yang telah pulih dari COVID-19

• Keluarga dan teman orang yang meninggal karena Covid-19

• Orang tua atau pengasuh dengan anak-anak di rumah karena penutupan sekolah

● Orang tua dan kelompok lain yang terisolasi dan membutuhkan kesejahteraan psikologis dan perawatan

• Kelompok lain yang memiliki kerentanan sejak awal seperti yang mengalami masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan zat terlarang.

Layanan ini dapat berupa layanan DKJPS (Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial) yang berdiri sendiri atau terintegrasi dalam layanan lainnya.

Prinsip-prinsip Tindakan PFA

Pihak yang membantu akan menggunakan prinsip tindakan PFA, yaitu Look (Lihat), Listen (Dengar) dan Link (Hubungkan), saat menawarkan dukungan jarak jauh.

Seorang yang membantu dengan PFA akan mengikuti prinsip-prinsip tindakan ini, dan memahami bahwa ketika digunakan dalam praktiknya ketiganya akan saling tumpang tindih.

Untuk PFA jarak jauh yang ditawarkan tanpa kontak fisik, hal-hal berikut menjelaskan prinsip tersebut:

LOOK (LIHAT) merujuk pada bagaimana melakukan asesmen:

• situasi saat ini

• siapa yang mencari dukungan

• apa risikonya

• kebutuhan yang terkena dampak

• reaksi emosional yang diharapkan.

LISTEN (DENGAR) merujuk pada cara:

• mulailah percakapan

• memperkenalkan diri sebagai yang akan membantu

• memberikan perhatian dan mendengarkan secara aktif

• menerima perasaannya

• menenangkan seseorang dalam tekanan psikologis

• bertanya tentang kebutuhan dan keinginan

• membantu menemukan solusi untuk kebutuhan dan permasalahannya.

LINK (HUBUNGKAN) merujuk pada cara membantu dengan:

• mengakses informasi

• menghubungkan dengan orang yang dicintai dan dukungan sosial

• menangani permasalahan praktis

• mengakses layanan dan bantuan lainnya yang dibutuhkan.

Tetapkan opsi-opsi panggilan dan bersiaplah untuk mendukung

HIMPSI dan pihak lain yang bekerjasama dengan HIMPSI dapat menjalankan berbagai jenis layanan panggilan:

● Mengadakan sistem di mana setiap relawan menghubungi (menelepon, WhatsApp, dsb) beberapa orang setiap hari untuk mengecek kesejahteraannya, kebutuhannya, serta mereka mendengarkan keprihatinan mereka. Mereka mungkin adalah orang tua atau orang yang kesepian, orang yang hidup dengan kecacatan, atau mereka yang berada dalam isolasi atau karantina, yang jauh dari jaringan sosial.

● Mengadakan pusat panggilan (call centres) yang bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menjawab semua jenis pertanyaan atau masalah di masyarakat.

● Mengadakan saluran bantuan (help lines) di mana mereka dengan kebutuhan dan masalah terkait DKJPS dapat menelepon hanya untuk berbicara. Dalam beberapa kasus, ini dilakukan dengan mendaftar melalui aplikasi. Pemohon kemudian akan dihubungi pada waktu yang disepakati oleh pemberi PFA.

● Mengadakan pusat panggilan (call centres) yang memasangkan atau “mempertemukan” mereka yang membutuhkan bantuan dan dukungan praktis dengan mereka yang secara sukarela membantu.

Perlu dicatat bahwa selama wabah COVID-19 akan ada situasi di mana yang membantu bekerja di rumah dan bukan dari pusat panggilan-atau hotline karena misalnya ada jam malam atau pembatasan. Dalam kasus seperti itu, penting untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan lingkungan fisik, untuk memastikan privasi dan untuk menghindari gangguan selama panggilan: misalnya pastikan tidak ada yang akan mengganggu. Biarkan anggota keluarga dan orang lain tahu bahwa ruangan itu digunakan untuk panggilan atau video konferensi, dan pilih tempat yang tenang.

Sudah menjadi pengalaman, bahwa pusat panggilan buka 24/7 menerima banyak panggilan terutama pada malam hari dari orang yang telah memiliki gangguan kesehatan mental sebelumnya atau penyakit lain, dan oleh karena itu yang membantu perlu dibuat beberapa shift, sehingga lebih banyak memerlukan pelatihan dan pengawasan.

Melakukan asesmen kebutuhan dan perencanaan

Prinsip Look dalam kaitannya dengan penilaian kebutuhan:

Asesmen kebutuhan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

• Penelepon yang membutuhkan dukungan praktis dan emosional: yaitu orang yang khawatir terpapar, mengalami kekerasan, takut kehilangan mata pencahariannya, atau keluarga atau teman yang sedang dirawat di rumah sakit namun mereka tidak dapat mengunjungi dll.

• Penelepon yang berada dalam situasi: tidak dapat bepergian, dalam isolasi, dikarantina, sendirian atau dengan keluarga atau orang lain. Mereka dapat merupakan masyarakat umum, pelayan garis depan (frontline responders) atau pasien yang sudah pulih, dll.

• Penelepon dengan risiko imajiner atau realistis yang sedang mengalami; ketakutan menulari orang lain, namun yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala dan telah mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh pihak berwenang atau takut menginfeksi orang lain yang membutuhkan dukungan mereka setiap hari dll

Merencanakan dukungan jarak jauh

Ada beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan selain dari kepraktisan seperti memilih saluran komunikasi yang paling tepat, menetapkan jam buka, dan bagaimana menyebarkan informasi tentang layanan. Ruang yang dipergunakan harus memungkinkan untuk keselamatan dan privasi yang dibutuhkan kedua belah pihak, hal itu berlaku juga untuk bantuan yang diberikan dari rumah. Yakinkan bahwa alat komunikasi yang digunakan adalah aman dan mudah digunakan serta memungkinkan waktu yang cukup untuk pemecahan masalah teknis. Jalur rujukan harus ditetapkan, perekrutan staf dan sukarelawan yang membantu harus dilakukan, pelatihan dan pengawasan terhadap orang yang memberikan PFA dilakukan sebelum memulai layanan. Jika relawan spontan terdaftar, pastikan mereka juga mendapatkan PFA jarak jauh (remote PFA) ini, misalnya yang tersedia dalam situs web HIMPSI.

Adalah penting untuk memastikan orang yang memberikan bantuan dengan PFA mengenali kapasitas dan batasan mereka sendiri dan tahu kapan harus merujuk kepada supervisor. Orang yang membantu juga harus sangat sadar, bahwa jika ada permintaan bantuan yang terasa sulit, harus segera membahas hal itu dengan supervisor.

Secara umum, berikut ini harus direncanakan:

• Pedoman untuk menjawab panggilan.

• Jika menjadi persyaratan untuk mencatat informasi apa pun seperti usia dan jenis kelamin yang meminta bantuan, persetujuan (inform concern) verbal harus diperoleh.

• Informasi terkini tentang virus, situs, dan tindakan dan layanan yang tersedia dari pemerintah harus tersedia setiap saat, seperti misalnya informasi tentang cara menghubungi instansi kesehatan, serta rincian kontak layanan kesehatan dan kesehatan mental.

• Prosedur kapan dan bagaimana merujuk orang dengan tekanan psikologis yang parah.

• Daftar tautan yang diperbarui dan informasi lain serta materi psikoedukasi yang dapat dikirim ke yang meminta bantuan saat mengakhiri panggilan.

• Dukungan yang akan ditawarkan kepada staf dan sukarelawan dan bagaimana memastikan kesejahteraan mereka ketika harus menerima banyak atau panggilan sulit. HIMPSI dan situs resmi dari pemerintah memiliki sejumlah publikasi tentang dukungan untuk staf dan sukarelawan yang dapat berguna. Disarankan bahwa tim bertemu bersama atau online di Internet pada akhir shift kerja untuk membahas bagaimana keadaan pada sepanjang hari itu.

Menanggapi Panggilan Bantuan

PFA dapat ditawarkan baik melalui alat komunikasi yang memungkinkan untuk kontak visual atau hanya auditif. Ketika menggunakan PFA tanpa kontak visual, sangat penting untuk berbicara secara perlahan, jelas, dan tenang, berkomunikasi dengan empati dan kehangatan melalui memodulasi suara dengan cara yang menunjukkan perhatian. Mendengarkan penuh perhatian dengan seluruh jiwa raga dan menunjukkan mendengarkan dengan menggunakan suara afirmatif. Pahami perasaan orang yang sedang dibantu dan mengerti peristiwa yang mereka alami dan berikan ventilasi (jalan keluar) frustrasi. Jika berbicara orang yang sangat khawatir, penting untuk menciptakan rasa tenang dan aman dengan menggunakan nada suara yang tenang. Jika kontak visual digunakan, visual sederhana dapat dibuat dan diberikan untuk mendukung pesan psikoedukatif.

Secara keseluruhan, fokus dari pemberi PFA adalah meningkatkan rasa kontrol, mendukung pilihan yang baik, dan penyelesaian masalah secara positif yang dipilih yang dibantu, serta mendorong agar mereka mencari dukungan sosial yang dimilikinya. Orang yang mencari bantuan mungkin memiliki banyak kebutuhan yang berbeda, dan membutuhkan bantuan praktis mungkin juga khawatir dan membutuhkan dukungan psikososial.

Selama panggilan, gunakan pertanyaan terbuka (apa, di mana, siapa dan kapan — berhati-hati untuk tidak bertanya mengapa), tanyakan satu pertanyaan pada satu waktu dan menghindari menafsirkan apa yang dikatakan penelepon. Sadarilah bahwa itu normal untuk bereaksi marah, frustrasi atau kebingungan ketika mengalami tekanan psikologis.

Prinsip Mendengarkan saat menerima panggilan

LISTEN merujuk pada bagaimana orang yang membantu:

• memulai pembicaraan

• memperkenalkan dirinya sendiri

• memperhatikan dan mendengarkan secara aktif

• menerima perasaan

• menenangkan orang yang tertekan

• bertanya tentang kebutuhan dan kekhawatiran

• membantu mereka yang kesulitan menemukan solusi untuk kebutuhan dan masalah mereka

Frase psikososial penting yang menunjukkan minat dan empati

• Saya memahami kekhawatiran Anda dan kebanyakan orang berpikir hal yang sama tentang situasi tersebut …

• Sangat alami untuk sedih, marah, kesal atau ….

• Saya mendengar apa yang Anda katakan, bahwa Anda harus …

• Saya sepenuhnya mengerti bahwa Anda merasakan hal ini …

• Dalam situasi ini, reaksi Anda sangat alami …

• Mungkin kita bisa mendiskusikan solusi yang dapat dipilih …

• Apa yang bisa kami tawarkan adalah …

• Saya prihatin dengan Anda, dan ingin menyarankan untuk merujuk Anda ke seseorang yang dapat membantu Anda

Langkah-langkah dalam menjawab panggilan

Membuka percakapan dan mendengarkan kebutuhan

• Perkenalkan diri Anda kepada orang yang memanggil, dengan menyebutkan nama, organisasi, dan posisi Anda.

“Anda berbicara dengan …. dari HIMPSI atau Lembaga lain yang melaksanakan PFA, dan saya bekerja di Pusat Bantuan Covid-19 HIMPSI atau Lembaga lain yang melaksanakan PFA sebagai sukarelawan ……… ”

• Tanyakan bagaimana Anda dapat membantu dan jika memungkinkan tanyakan juga nama penelepon. Terima saja, bahwa si penelepon boleh tidak ingin menyebutkan namanya.

“Apa yang bisa saya bantu? Bolehkah saya juga menanyakan nama Anda, jadi saya tahu harus memanggil dengan nama Anda? ”

• Menyetujui durasi panggilan tergantung pada apa yang diminta oleh penelepon.

“Saya pasti bisa membantu Anda dengan informasi ini …………. Sekarang adakah yang bisa saya lakukan untuk Anda? ”

“Sepertinya ada banyak hal di benak Anda. Pada panggilan ini kita dapat berbicara sekitar 15 menit dan kemudian memutuskan bagaimana cara melanjutkan. “

“Ketika kami telah berbicara sekitar 10 menit, kami dapat memutuskan cara terbaik untuk melanjutkan.”

“Apa masalah paling penting yang bisa saya bantu?”

Dengarkan kebutuhan emosional dan praktis

• Jika penelepon khawatir, galilah apa yang secara spesifik orang itu khawatirkan dan apa yang mereka perhatikan.

“Ceritakan sedikit tentang apa yang membuat Anda khawatir.”

“Apakah ada hal lain yang membuat Anda khawatir?”

“Saya merasakan ada sesuatu yang lebih di benak pikiran Anda …”

• Dalam kasus stres, khawatir, takut atau kehilangan kendali yang sangat tinggi, normalkan reaksi tersebut dengan menjelaskan bahwa perasaan seperti itu normal selama ini dan krisis lainnya. Akui kekhawatirannya dengan mengatakan:

“Ini adalah situasi yang menantang karena ada banyak hal yang masih belum diketahui tentang virus, dan itu cukup normal untuk bereaksi dan khawatir. “

“Apa yang Anda katakan adalah ketakutan umum. Banyak yang khawatir akan jatuh sakit atau menularkan ke orang lain terutama ke yang dicintai. Banyak juga yang takut kehilangan mata pencaharian mereka atau ada yang dicap stigma oleh orang lain. ”

• Pilihan lain adalah menyebutkan bagaimana memperbarui dan memperbaiki informasi agar bermanfaat dengan mengatakan:

“Banyak yang cemas, dan fakta bahwa memiliki akses ke informasi yang benar dapat membantu menenangkan seseorang.

Juga membuat lebih mudah untuk memutuskan bagaimana bereaksi ketika mengetahui tentang situasinya. Jadi, saya akan membantu Anda untuk mendapatkan fakta dan mengandalkan sumber yang sahih dan bereputasi. “

• Satu pilihan lain lagi adalah menjelaskan bahwa penamaan perasaan untuk menenangkan pikiran dan mengeksplorasi cara mengelola kekhawatiran:

“Saya ingin tahu apakah ada gunanya bagi anda untuk mengetahui bahwa perasaan ini wajar bagi banyak orang di masa situasi sekarang.

Ini bisa sangat melelahkan, jadi mungkin kita bisa berbicara tentang cara mengelola perasaan. Langkah pertama adalah mengakui perasaan seperti yang Anda rasakan saat ini, langkah berikutnya adalah memastikan perasaan itu tidak terlalu berlebihan dalam waktu atau ruang di hidup Anda. Perlukah kita bicara lebih banyak tentang ini? ”

• Jika seorang penelepon khawatir atau merenungkan secara berlebihan, akan sangat membantu untuk menyarankan pengaturan batas waktu untuk khawatir.

“Dapat membantu memiliki satu atau dua kali kekhawatiran setiap hari misalnya setengah jam di sore hari. Jika khawatir pikiran terjadi pada waktu-waktu lain siang dan malam, meminta mereka untuk kembali lagi nanti, atau memberi tahu diri sendiri bahwa Anda akan merawat mereka selama waktu khawatir. Ini akan memberi Anda waktu untuk mengurus hal lain yang harus Anda melakukan.”

“Saya juga menyarankan membatasi waktu mengikuti berita di media hingga misalnya dua kali sehari dan hindari melakukannya sebelum tidur di malam hari. ”

• Selanjutnya tanyakan apa yang biasanya dilakukan penelepon untuk mengatasi situasi sulit dan merasa lebih baik. Biarkan mereka menyebutkan beberapa hal dan diskusikan apakah hal itu dapat berguna dalam situasi saat ini:

“Ini adalah situasi yang sulit, dan saya mengerti ini sangat menantang. Mari kita bahas jika ada sesuatu yang Anda dapat lakukan untuk membuat situasi dapat lebih ditoleransi. “

• Tanyakan apa yang penelepon akan pilih untuk dilakukan, dan bantu penelepon untuk mengetahui lebih banyak dan hal-hal lain yang mereka dapat lakukan atau sarankan mereka menulis daftar untuk inspirasi/ide.

Teknik menenangkan

Jika penelepon membutuhkan bantuan dengan teknik menenangkan, sarankan latihan pernapasan dan relaksasi untuk mengurangi kekhawatiran dan untuk menenangkan diri. Beri tahu penelepon, bahwa pikiran jernih saat fokus pada di sini dan sekarang (here and now). Sarankan mereka mulai dengan lembut dengan memperhatikan napas masuk dan keluar, merasakannya di hidung atau mulut dalam perjalanan dan merasakan bagaimana mengisi paru-paru dan terus ke perut, dada dan punggung bawah.

Juga bisa membantu untuk meminta orang tersebut meletakkan kaki dengan kuat di lantai dan merasakannya. Jika duduk di kursi, telapak kaki di lantai, regangkan otot-otot kaki dengan kaki menyentuh lantai seolah ingin mendorong kursi tanpa benar-benar melakukannya, juga bisa bermanfaat.

Melakukan latihan kardiovaskular juga merupakan sumber penting dan sering diabaikan dalam menenangkan diri. Jalan cepat di luar atau di alam terbuka jika memungkinkan, juga menenangkan pikiran.

Lihat sumber yang baik untuk yoga, latihan, relaksasi, atau mindfulness secara daring.

• Jika relevan, tanyakan kepada penelepon apa yang mereka lakukan untuk menjaga kesehatan fisik dan kesejahteraan mental jika dikarantina atau diisolasi; jika perlu, berikan informasi lebih lanjut tentang kebersihan atau tindakan lain.

“Jika Anda tertarik, saya bisa mengirimkan sumber informasi tentang apa yang harus dilakukan ketika dalam isolasi. Anda mungkin menemukan itu berguna. Haruskah saya melakukan itu? “

• Jika seorang penelepon bertanya apa yang harus dilakukan, penolong dapat mengatakan:

“Aku tidak yakin bisa menjawab pertanyaan itu untukmu. Apa yang Anda pikirkan ketika harus membuat keputusan ini?”

Nasihat untuk orang yang terisolasi atau dikarantina

Mungkin bermanfaat untuk menawarkan saran berikut kepada mereka tidak dapat pergi kemana-mana, bekerja dari rumah, dalam isolasi atau karantina

Tetap dekat secara sosial bahkan ketika menjaga jarak fisik: Tetap terhubung secara digital dengan tetap berhubungan dengan teman, kolega, dan keluarga menggunakan email, aplikasi, atau media sosial. Tonton film yang sama, baca buku yang sama, dan diskusikan dalam pertemuan virtual, mengobrol virtual sambil minum kopi atau secangkir teh bersama.

Rutinitas harian: Pertama-tama, rencanakan dan junjung tinggi rutinitas harian dan juga buat rencana wellbeing sehari-hari dan seminggu.

Tetapkan tujuan dan tetap aktif: Menetapkan tujuan dan mencapainya meningkatkan rasa kontrol dan kompetensi. Sasaran harus realistis dalam situasi saat ini, dan untuk staf dan sukarelawan, dapat menggunakan kertas kerja bahkan jika tidak dapat bekerja di lapangan. Untuk beberapa hal ini dapat memberikan rasa memiliki dan kepuasan dengan membuat daftar tugas untuk hari itu dan centang tugas-tugas saat berjalan. Buat daftar kegiatan yang akan menyenangkan, melakukan hal yang menyenangkan, membaca dan menulis buku, mendengarkan musik, memasak dan membuat kue, mewarnai, merajut dan menjahit, mempelajari bahasa atau keterampilan baru, mendengarkan podcast, membersihkan rumah, mendapatkan udara segar melalui jendela, balkon atau taman.

Rencanakan waktu sendirian dan waktu bersama jika hidup dengan orang lain: Buatlah daftar hal-hal yang harus dilakukan bersama, membaca buku keras-keras satu sama lain, memainkan permainan papan, mendengarkan dan membahas radio, tv dan podcast. Bergiliran merawat anak-anak. Ada banyak sumber daya online untuk kegiatan yang bisa dilakukan di rumah bersama anak-anak.

Mencari atau menyuntikkan humor ke dalam situasi jika sesuai: Humor bisa menjadi penangkal kuat keputusasaan. Bahkan tersenyum dan tertawa di dalam hati dapat memberikan kelegaan dari kecemasan dan frustrasi.

Pertahankan harapan: Percaya pada sesuatu yang berarti, baik keluarga, iman pada agama, negara atau nilai-nilai.

Pergunakan teknik manajemen stres: Teknik relaksasi fisik dapat mengurangi tingkat stres dan metode yang bermanfaat untuk mengelola rasa sakit dan gejolak emosional. Kebanyakan orang akrab dengan Teknik manajemen stress tetapi tidak semua menggunakannya dalam praktik; namun, inilah saatnya untuk mendorong penggunaan teknik-teknik tersebut.

Terima perasaan: Berada dalam situasi stres dapat menyebabkan banyak reaksi emosional yang berbeda seperti kemarahan, frustrasi, kecemasan, penyesalan, berandai-andai tentang diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan lain-lain. Perasaan ini adalah reaksi normal untuk situasi yang tidak normal.

Menghubungkan, merujuk, dan mengakhiri panggilan

LINK merujuk pada bagaimana orang yang menggunakan PFA membantu dalam:

• mengakses informasi

• terhubung dengan orang yang dicintai dan dukungan sosial

• menangani masalah praktis

• mengakses layanan dan bantuan lainnya.

Ada kebutuhan bagi penolong untuk merujuk ke layanan khusus, jika penelepon membutuhkan bantuan praktis misalnya makanan atau tempat tinggal, atau untuk dukungan kesehatan mental profesional atau medis.

Rujuk ke psikolog jika penelepon:

• belum bisa tidur selama seminggu terakhir, bingung dan disorientasi

• sangat tertekan sehingga mereka tidak dapat berfungsi secara normal dan merawat diri mereka sendiri atau anak-anak mereka dengan, misalnya, tidak makan atau menjaga kebersihan

• kehilangan kendali atas perilaku mereka dan berperilaku dengan cara yang tidak terduga atau merusak

• mengancam bahaya bagi diri mereka sendiri atau orang lain

• mulai menggunakan narkoba atau alkohol secara berlebihan dan tidak biasa

• hidup dengan gangguan psikologis dan / atau sedang minum obat sebelum situasi tertekan

• mungkin juga memerlukan dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan.

• menunjukkan kondisi kesehatan kronis dan memerlukan lebih banyak dukungan.

• menunjukkan gejala kondisi kesehatan mental yang parah

• mengalami kekerasan atau mengalami pelecehan seksual dengan cara apa pun.

• Di beberapa unit pusat panggilan, akan ada penyelia yang dapat mengambil alih panggilan di mana rujukan dibutuhkan:

“Untuk memberi Anda layanan terbaik, saya akan menyerahkannya kepada atasan saya, yang lebih berpengalaman daripada saya’. Terima kasih atas percakapan kita dan sekarang saya menyerahkan Anda kepada penyelia yang dipanggil xxx.”

Melanjutkan percakapan menggunakan tautan prinsip tindakan

• Jika relevan, tanyakan apa yang mereka ketahui dan yakini tentang virus dan di mana serta bagaimana mereka memperbarui informasi.

“Sepertinya kamu banyak membaca di media sosial tentang virus. Bisakah Anda memberi tahu saya lebih banyak tentang di mana Anda mendapatkan

Informasi tentang itu? Apakah Anda juga mengunjungi situs resmi? “

• Tanyakan bagaimana penelepon tetap berhubungan dengan jejaring sosial seperti teman, keluarga, atau orang lain yang terpercaya

• Tanyakan apakah ada masalah atau tantangan praktis:

“Kami telah berbicara tentang bagaimana tetap berhubungan dengan teman-teman di luar negeri menggunakan panggilan video dan media sosial, yang merupakan sumber daya yang hebat. Apakah ada masalah praktis yang Anda hadapi yang belum pernah kita bicarakan? “

• Jika perlu, rujuk ke layanan lain:

“Untuk informasi tentang layanan perawatan kesehatan atau sosial di daerah Anda, saya dapat merujuk ke telepon ini, nomor / halaman web untuk informasi terbaru. “

“Untuk mendapatkan bantuan dari layanan sosial, Anda harus menelepon mereka. Apakah Anda punya nomor teleponnya atau alamat email? “

• Pastikan persetujuan dari penelepon dan buatlah rujukan. Setujui tindak lanjut jika memungkinkan.

Mengakhiri pembicaraan

• Ringkaskan pembicaraan dengan menyoroti masalah-masalah utama yang dibahas dan tindakan-tindakannya.

“Kami berbicara tentang di mana Anda dapat menemukan sumber informasi yang dapat dipercaya, dan bagaimana Anda dapat tetap berhubungan dengan orang yang Anda cintai meskipun hidup sendirian dan memiliki makanan yang dikirim. Juga, itu menarik minat lama Anda dapat membantu menghabiskan waktu dengan cara yang baik. “

“saya akan mengakhiri sesi pembicaraan kita dan berharap semoga harimu menyenangkan.”

• Setuju jika diperlukan pembicaraan lanjutan, dan jika demikian, cari waktu yang sesuai.

“Jika Anda ingin berbicara lain waktu, jangan ragu untuk menelepon lagi dan berbicara dengan saya atau salah satu dari kolega saya. Tentu saja, saya tidak yakin, saya yang akan menerima telepon, tetapi Anda dipersilakan untuk menelepon lagi.”

• Akhiri panggilan dengan berterima kasih atas percakapannya.

Dos dan Don’ts saat menawarkan PFA

Do’s

• Mendengarkan lebih banyak daripada bicara untuk mengidentifikasi masalah

• Mengajukan pertanyaan dengan lembut

• Menggunakan pertanyaan terbuka: kapan, di mana, apa, siapa

• Mengakui perasaan dan pemahaman tentang peristiwa

• Menormalisasi emosi dan reaksi

• Mengenali sumber daya dan kapasitas internal untuk mengatasinya

• Memberikan informasi tentang COVID 19. Jujurlah dengan apa yang tidak Anda ketahui. Ini adalah virus baru yang kita semua sedang belajar.

• Sabar dan tenang

• Membuat pemrosesan dan ventilasi emosi

• Mendengarkan pilihan individu dan bantu mereka membuat pilihan

• Memastikan kerahasiaan kecuali masalah yang disebutkan mempengaruhi keselamatan individu atau orang lain

•Memastikan do no harm principle ditegakkan

Don’ts

• Menekan orang lain untuk berbicara jika mereka tidak mau berbicara

• Menanyakan mengapa ini atau itu

• Bersikap menghakimi atau memberikan stigma

• Menggunakan istilah teknis

• Berbicara tentang diri Anda atau masalah pribadi atau gangguan yang sedang dialami

• memberikan janji palsu atau jaminan palsu

• Membagikan kisah atau pengalaman orang lain.

• Memanfaatkan kepercayaan dan kerahasiaan yang diberikan

Referensi dan Materi Pendukung

IFRC Reference Centre for Psychosocial resources:

· A Guide to Psychological First Aid for Red Cross and Red Crescent Societies

https://pscentre.org/?resource=a-guide-to-psychological-first-aid-for-red-cross-red-crescent-societies.

· Basic Psychological First Aid — training module 2

https://pscentre.org/wp-content/uploads/2019/05/PFA-module-2-Basic.pdf

· Psychological First Aid for Children — training module 3

https://pscentre.org/?resource=psychological-first-aid-for-red-cross-red-crescent-module-3-children

· Mental Health and Psychosocial Support for Staff, Volunteers and Communities in an Outbreak of Novel Coronavirus

https://pscentre.org/wp-content/uploads/2020/02/MHPSS-in-nCoV-2020_ENG-1.pdf

· Caring for Volunteers Toolkit

https://pscentre.org/?resource=caring-for-volunteers-a-psychosocial-support-toolkit-english

· Volunteering with the Red Cross Red Crescent in crisis situations — disasters and pandemics https://pscentre.org/?resource=volunteering-with-the-red-cross-red-crescent-in-crisis-situations-disasters-and-pandemics

· All IFRC Reference Centre for Psychosocial Support materials on COVID-19 are to be found in different languages at https://pscentre.org/archives/resource-category/covid19

IASC resources:

· IASC Briefing note on addressing metal health and psychosocial aspects of COVID-19 outbreak version 1.5

https://pscentre.org/?resource=iasc-briefing-note-on-addressing-mental-health-and-psychosocial-aspects-of-covid-19-outbreakversion-1-1

WHO resources:

· WHO: Mental Health Considerations during COVID-19 Outbreak

· https://pscentre.org/?resource=9031

· Psychological First Aid in Ebola outbreak

· https://www.who.int/mental_health/emergencies/psychological_first_aid_ebola/en/

Psikolog Sosial | Peneliti Psikoinformatika & Psikologi Korupsi | Sains Terbuka | Blog: http://juneman.blog.binusian.org and http://junemanblog.wixsite.com/blog

Psikolog Sosial | Peneliti Psikoinformatika & Psikologi Korupsi | Sains Terbuka | Blog: http://juneman.blog.binusian.org and http://junemanblog.wixsite.com/blog